Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perempuan Cenderung Lewatkan Perawatan Kesehatan selama Pandemi

Sebuah studi yang dilakukan oleh Kaiser Family Foundation (KFF) menunjukkan bahwa lebih banyak perempuan yang melewatkan layanan perawatan kesehatan selama pandemi dibanding laki-laki.
Laurensia Felise
Laurensia Felise - Bisnis.com 23 Maret 2021  |  20:40 WIB
Dandan. Pandemi membuat banyaknya perempuan melewatkan pengobatan kesehatan, terutama mereka yang memiliki lebih banyak sumber pendapatan karena khawatir akan paparan virus corona. - Antara/Pexels.
Dandan. Pandemi membuat banyaknya perempuan melewatkan pengobatan kesehatan, terutama mereka yang memiliki lebih banyak sumber pendapatan karena khawatir akan paparan virus corona. - Antara/Pexels.

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah studi yang dilakukan oleh Kaiser Family Foundation (KFF) menunjukkan bahwa lebih banyak perempuan yang melewatkan layanan perawatan kesehatan selama pandemi dibanding laki-laki.

Melansir CNN, Selasa (23/3/2021), hal ini berdampak pada memburuknya kondisi kesehatan terutama bagi mereka yang memiliki masalah kesehatan atau ekonomi sebelumnya.

Laporan tersebut menyebutkan adanya kesenjangan dalam perawatan bisa berdampak pada lebih banyak perempuan yang menderita berbagai masalah penyakit serius setelah pandemi berakhir.

Penelitian tersebut melibatkan 3.661 perempuan dan 1.144 laki-laki yang dilakukan pada November dan Desember 2020. Hasilnya, terungkap bahwa 38 persen perempuan dilaporkan melewatkan layanan kesehatan preventif selama pandemi. Angka ini lebih kecil dari laki-laki dengan jumlah 26 persen.

Tidak hanya itu, laporan ini juga menunjukkan bahwa mereka juga memiliki kemungkinan lebih tunggu untuk melewatkan tes dan pengobatan yang direkomendasikan dokter serta belum mampu mendapatkan jadwal perawatan kesehatan akibat pandemi. Mereka yang mengalami ini umumnya ini lebih banyak terjadi pada perempuan dengan kondisi kesehatan yang cukup atau buruk dibanding mereka yang baik atau sangat baik.

"Kesenjangan dalam perawatan bagi mereka yang memiliki masalah kesehatan terbesar bisa menunjukkan adanya peningkayan jumlah pasien yang mengalami kondisi kesehatan yang lebih buruk akibat perawatan yang diabaikan atau ditunda selama pandemi," jelas analis kebijakan senior untuk kebijakan kesehatan perempuan di KFF, Brittni Fredericksen.

Setidaknya 27 persen perempuan yang dilaporkan memiliki kondisi cukup atau buruk mengatakan kondisi kesehatannya menjadi parah akibat melewatkan pengobatan, dibandingkan dengan 12 persen perempuan yang berada dalam kondisi baik atau sangat baik.

Melihat dari pendapatannya, 21 persen yang melaporkan buruknya kondisi tubuh merupakan perempuan dengan pendapatan yang rendah dibandingkan dengan 13 persen perempuan dengan pendapatan yang tinggi.

"Hampir satu dari 10 perempuan berusia 18-25 tahun dan 7 persen perempuan berusia 26-35 tahun mengatakan mereka menunda atau belum bisa melakukan kontrasepsi akibat pandemi Covid-19," tulis para peneliti.

Mereka juga menambahkan penundaan dalam pengobatan kontrasepsi bisa berdampak pada sejumlah risiko kesehatan, misalnya adalah infeksi yang ditularkan secara seksual atau kehamilan yang tidak direncanakan.

Penelitian ini juga menuliskan bahwa perempuan dengan pendapatan tinggi, memiliki asuransi pribadi, dan asuransi pemerintah juga mungkin akan melewati layanan kesehatan preventif dibanding mereka yang memiliki pendapatan rendah dan belum memiliki asuransi.

Selain itu, penelitian ini juga membuktikan kebenaran bahwa pandemi membuat banyaknya perempuan melewatkan pengobatan kesehatan, terutama mereka yang memiliki lebih banyak sumber pendapatan karena khawatir akan paparan virus corona.

Meski penelitian ini menunjukkan banyak perempuan yang puas dengan perawatan kesehatan jarak jauh (telehealth) selama pandemi, tetapi mereka belum mengetahui apakah persyaratan kesamaan pembayaran untuk berbagai opsi layanan kesehatan bisa berakhir setelah tindakan darurat pandemi dicabut.

Mereka menulis bahwa kebijakan yang mempromosikan cakupan asuransi yang stabil, akses ke layanan telehealth dan kesehatan mental, dan ketersediaan perawatan individu yang aman bisa mendukung perempuan dalam memperoleh perawatan kesehatan yang dibutuhkan selama sisa pandemi dan seterusnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perempuan perawatan kecantikan
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top