Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Vaksin Tidak Lindungi 100 Persen, Wajib Jaga Imunitas Meski Telah Divaksin

Kondisi saat ini masih cukup mengkhawatirkan mengingat kasus Covid-19 di Indonesia sudah mencapai di atas 1,6 juta, dengan kematian lebih dari 44 ribu. Berdasarkan data dari Worldometers, saat ini Indonesia berada di peringkat 18 dunia dari sisi jumlah kasus Covid-19.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 28 April 2021  |  21:44 WIB
Vial vaksin Covid-19. - Antara
Vial vaksin Covid-19. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Pasca program vaksinasi di Indonesia, penyebaran Covid-19 masih belum turun signifikan. Kasus harian tetap ada, bahkan, sudah mulai mencapai 6.000-an kasus lagi per harinya.

Kondisi saat ini masih cukup mengkhawatirkan mengingat kasus Covid-19 di Indonesia sudah mencapai di atas 1,6 juta, dengan kematian lebih dari 44 ribu. Berdasarkan data dari Worldometers, saat ini Indonesia berada di peringkat 18 dunia dari sisi jumlah kasus Covid-19.

Artinya, masyarakat Indonesia masih perlu waspada apalagi saat ini jumlah yang telah divaksinasi baru sekitar 2 persen, masih jauh dari target yang dicanangkan pemerintah.

Dokter Spesialis Paru, Dr.dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) mengatakan bahwa masalah Covid-19 di Indonesia masih belum dapat diatasi sesuai harapan. Untuk itu, meskipun proses vaksinasi telah berjalan, tetapi masyarakat tetap harus menjalankan protokol kesehatan 5M dan menjadi imunitas.

“Pencegahan harus tetap dilaksanakan karena hingga saat ini pandemi masih belum kunjung selesai,” ujar dokter dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, Rabu (28/4/2021).

dr. Erlina mengatakan bahwa Indonesia bisa belajar dari India, yang baru-baru ini mengalami Tsunami Covid-1 9 hingga jumlah kasus yang terinfeksi mencapai 200 ribu per harinya. Bahkan, angka kematian akibat Covid-19 juga meningkat.

“Ini terjadi karena masyarakat abai dengan protokol kesehatan dan karena mereka merasa sudah divaksin. Belajar dari India, maka vaksin bukan segala-galanya. Kalau pun sudah divaksin tetap jangan euforia dan abai dengan prokes,” ingatnya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Alergi Immunologi, Dr. dr. Gatot Soegiarto menegaskan bahwa tidak ada perlindungan yang sifatnya seratus persen dari vaksin.

Untuk di Indonesia sendiri, vaksinasi yang digunakan adalah vaksin Sinovac dengan efikasi 65,3 persen. Artinya, risiko tertularnya 65,3 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak divaksin. Tentu saja vaksin yang digunakan telah melewati serangakaian uji klinis, fase 1 sampai fase 3, sehingga aman digunakan.

“Dengan angka ini berarti orang yang divaksin pun masih tetap ada kemungkinan terinfeksi Covid-19. Namun kemungkinan lebih kecil ketimbang mereka yang tidak divaksin, termasuk yang sudah pernah terinfeksipun masih bisa terkena,” ujarnya.

Menurutnya, titer antibodi penyintas Covid ini tergantung pada masing-masing orang dan kondisi yang dihadapi. Sehingga titer antibodinya ada yang bertahan 3-8 bulan, setelah itu turun. Kalau herd immunity karena vaksinasi ini tidak tercapai, maka penularan akan terus terjadi.

“Kalau penularan terus terjadi maka potensi mutasi virus juga akan terus terjadi. Mutasi virus itu sendiri adalah sesuatu yang normal, karena virus memang cenderung bermutasi. Terutama jika penularannya terus berlangsung. Jadi selain cakupan vaksinasi yang masih kecil, ada juga risiko mutasi virus,” ujarnya.

Lebih lanjut Gatot mengatakan bahwa penggunaan immunomodulator seperti echiancea purpurea bisa meningkatkan titer antibodi terhadap vaksinasi karena respon tubuh akan menjadi lebih baik. Bahkan orang yang sudah mendapatkan vaksin Covid pun tetap membutuhkan suplemen seperti immunodulator.

Dia juga menepis anggapan bahwa saat pemberian dosis 1 ke dosis 2 tidak boleh mengonsumsi immunomodulator. Menurutnya, antara jeda vaksinasi dosis 1 dan dosis 2 boleh mengonsumsi immunomodulator.

“Ini tergantung obat yang dikonsumsi. Kalau obatnya steroid dan obat penurun panas, tidak masalah dikonsumsi tetapi jika berkepanjangan, maka titer antibodinya menurun. Namun, jika yang digunakan adalah immunomodulator echinacea purpurea, justru yang meningkatkan titer antibodi. Justru itu yang boleh,” ungkapnya.

Gatot menyarankan lansia mengonsumsi immunomodulator seperti echinace purpurea, karena sifatnya kalau imun lemah maka dia membantu meningkatkan, kalau sudah berlebihan akan mengerem.

"Lansia itu mengalami penurunan fungsi imun. Lansia kalau mengonsumsi immunomodulator seperti echinace purpurea, maka pemberian itu bagus. Artinya, dalam kondisi yang kurang, maka lansia harus dibantu atau dirangsang dengan immunomodulator seperti echinacea purpurea," katanya.

Sementara itu, DR. Raphael Aswin Susilowidodo, M.Si, VP Research & Development and Regulatory SOHO Global Health mengatakan immunomodulator yang baik mengandung ekstrak Echinacea pupurea dan zinc picolinate.

“Kandungan ekstrak Echinacea purpurea telah terbukti secara klinis dapat memodulasi sistem daya tahan tubuh dan mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Sementara zinc picolinate berperanan aktif dan bekerja sinergis pada sistem imun tubuh,” ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Imunitas tubuh Vaksin Covid-19
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top