Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Obat Rematik Autoimun dapat Memengaruhi Efektivitas Vaksin Sinovac

Menurut direktur klinis rumah sakit FM-USP, risiko respons imun yang lemah terhadap vaksin tinggi pada pasien yang mengalami imunosupresi, serta mereka yang memiliki penyakit autoimun.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 23 Agustus 2021  |  12:01 WIB
Obat Rematik Autoimun dapat Memengaruhi Efektivitas Vaksin Sinovac
Autoimun
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Beberapa jenis obat yang digunakan untuk mengobati pasien dengan penyakit rematik autoimun seperti rheumatoid arthritis, dapat melemahkan respons kekebalan terhadap Covid-19 yang disebabkan oleh vaksin, menurut sebuah penelitian di Brasil.
 
Para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas São Paulo (FM-USP) di Brasil mulai menilai keamanan dan kemanjuran  CoronaVac (atau yang lebih dikenal dengan Sinovac) pada pasien  dengan sembilan jenis  penyakit rematik autoimun. CoronaVac diproduksi di Brasil oleh Institut Butantan.
 
Mereka mengamati bahwa beberapa obat, seperti glukokortikoid, serta imunosupresan seperti metotreksat dan mikofenolat mofetyl, dan beberapa obat biologis, melemahkan respons imun pada pasien ini.
 
“Berdasarkan pengamatan ini, kami mulai mempelajari strategi vaksinasi yang berbeda, termasuk penghentian pengobatan dengan mofetyl satu minggu sebelum pemberian vaksin, dan dengan metotreksat dua minggu sebelumnya.” kata Dr Eloísa Bonfá, peneliti utama dalam penelitian ini, melansir The Star, Senin (23/8/2021).
 
Perawatan pasien kemudian dilanjutkan setelah vaksinasi selesai.
 
Menurut direktur klinis rumah sakit FM-USP, risiko respons imun yang lemah terhadap vaksin tinggi pada pasien yang mengalami imunosupresi, serta mereka yang memiliki penyakit autoimun.
 
Yang pertama termasuk pasien kanker, pasien dengan transplantasi organ dan pasien HIV (human immunodeficiency virus). Selain itu, penyakit autoimun rematik dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya trombosis.
 
Para peneliti memantau 910 pasien dewasa yang terdaftar di laboratorium reumatologi rumah sakit selama 40 hari setelah mereka diberi dosis kedua CoronaVac, untuk mengetahui apakah vaksin Covid-19 aman  dan manjur bagi orang-orang ini.
 
“Para pasien ditindaklanjuti di pusat tersier; (termasuk mereka yang) dengan rheumatoid arthritis dan psoriatic arthritis yang parah, serta spondyloarthritis aksial, dan penyakit rematik autoimun sistemik lainnya seperti lupus, vaskulitis, sindrom Sjögren, sklerosis sistemik, miopati inflamasi idiopatik dan sindrom anti-fosfolipid, ”jelas Dr Bonfa.
 
Sampel darah yang diambil untuk mendeteksi antibodi terhadap virus SARS-CoV-2 dianalisis sebelum vaksinasi, dan masing-masing 28 hari dan enam minggu setelah pemberian kedua dosis CoronaVac. Hasilnya dibandingkan dengan kelompok kontrol yang terdiri dari 182 orang yang tidak memiliki penyakit autoimun dan tidak menggunakan imunosupresan.
 
Hasil analisis yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine, menunjukkan bahwa vaksinasi menginduksi serokonversi antibodi IgG pada 70,4 persen pasien dengan penyakit rematik autoimun, dibandingkan dengan 95,5 persen pada kelompok kontrol.
 
“Kami melihat penurunan respon imun pada pasien ini dibandingkan dengan kelompok kontrol, tetapi kami menganggap pengurangan tersebut moderat dan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh WHO (Organisasi Kesehatan Dunia),” katanya.
 
Respon serologis pada 70,4 persen sangat penting untuk pasien dengan imunosupresi atau pasien yang menggunakan obat yang mengurangi kekebalan mereka.
 
Sepuluh hari setelah mengambil dosis pertama, ketika respons terhadap vaksin tidak lengkap, 33 peserta dalam penelitian ini menderita Covid-19. Setelah 40 hari, ketika dosis kedua telah diberikan dan responnya lengkap, hanya enam pasien yang menderita penyakit tersebut. Empat membutuhkan rawat inap dan tidak ada kematian.
 
Penurunan kasus infeksi di antara peserta, dari 33 menjadi hanya enam, kontras dengan lintasan kasus baru di São Paulo, yang naik 45 persen pada periode yang sama.
 
“Penurunan tajam dalam jumlah kasus 10 hari setelah dosis kedua menunjukkan bahwa vaksin itu tampaknya manjur, bahkan pada populasi pasien dengan imunosupresi ini, yang lebih mungkin terinfeksi. Ini memperkuat rekomendasi bahwa pasien ini harus divaksinasi, ”kata Dr Bonfa.
 
Selain berisiko tinggi tertular penyakit menular dan jatuh sakit parah, pasien imunosupresi juga lebih mungkin menderita penyakit penyerta seperti tekanan darah tinggi dan obesitas, yang merupakan faktor risiko Covid-19.
 
Selain itu, lebih sulit bagi pasien imunosupresi untuk membersihkan virus dari tubuh mereka, dibandingkan dengan orang sehat, yang mendukung munculnya mutasi yang menghasilkan varian virus.
 
“Memprioritaskan kelompok ini untuk tujuan vaksinasi penting tidak hanya untuk mereka, tetapi juga untuk seluruh populasi, sebagai strategi untuk mengurangi munculnya varian virus,” katanya.
 
Tes lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah efek yang sama terjadi pada pasien yang diinokulasi dengan vaksin Covid-19 lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

autoimun Sinovac
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top