Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengenal Sosok Ibunda Kartini, R.M Ngasirah. Temukan Sisi Lain Kartini

Kartini menghasilkan karya-karyanya dan memperjuangkan emansipasi perempuan, setelah melihat ibunya dipoligami.
Anshary Madya Sukma
Anshary Madya Sukma - Bisnis.com 21 April 2022  |  15:58 WIB
Mengenal Sosok Ibunda Kartini, R.M Ngasirah. Temukan Sisi Lain Kartini
Sejarah Kartini
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat atau R.A Kartini merupakan pahlawan Nasional Indonesia setelah ditetapkan oleh Presiden RI pertama Soekarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964, pada tanggal 2 Mei 1964.

Kartini berjasa atas perjuangannya terhadap hak-hak dan emansipasi perempuan Indonesia kala itu, hal ini tentunya banyak dilatarbelakangi banyak hal, seperti buku dari NY. C. Goekoop yang menceritakan perjuangan dari sosok Hylda van Suylenderb membela hak-hak wanita di Negeri Belanda.

Selain dari buku dan keprihatinannya tentang perempuan Indonesia, perjuangan Kartini juga dilatarbelakangi dari pengalaman keluarganya.

Dalam buku Sisi Lain Kartini karya Djoko Marihandono, Nur Khozin, Dri Arbaningsih, dan Yuda B. Tangkilisan menceritakan bahwa pengalaman batin sangat membekas bagi Kartini diciptakan dari kisah keluarganya.

Pasalnya, saat itu ayahnya R.M Sosroningrat berpoligami dengan Raden Adjeng Woerjan yang merupakan keturunan langsung Raja Madura. Lalu, saat setelah ayahnya menjadi Bupati Jepara pada 1880 ibunya Kartini M.A. Ngasirah harus tinggal ditempat berbeda dengan keluarganya yaitu di bagian belakang bagian pendopo.

Tidak berhenti disitu, karena Ngasirah tidak memiliki darah bangsawan dan berstatus selir. Saat itu, anak-anaknya termasuk Kartini harus menyebut Ibunya itu dengan sebutan “Yu” untuk sebutan perempuan abdi dalem dan Ngasirah memanggil anaknya dengan 'ndoro' atau majikan.

Lalu, hal ini sangat membuat kesal Kartini dan membuatnya untuk menumpahkan kekesalan nya pada surat yang ia berikan kepada temannya Estelle Zeehandelaar berikut ini :

“Bagaimana saya bisa menghormati seseorang yang sudah kawin dan menjadi ayah dan kemudian, bila bosan pada anak-anaknya, dia dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya secara sah sesuai dengan hukum Islam?

Dapatkah kamu membayangkan siksaan yang harus diderita seorang perempuan jika suaminya pulang bersama perempuan lain sebagai saingannya yang harus diakuinya sebagai istrinya yang sah?"

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perempuan kartini hari kartini
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

back to top To top