Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menilik Sejarah Tradisi Hantaran Saat Lebaran

Tradisi berkirim hantaran dengan sanak saudara telah terbentuk sejak abad ke-16 di Indonesia.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 02 Mei 2022  |  07:43 WIB
Menilik Sejarah Tradisi Hantaran Saat Lebaran
Parcel Lebaran. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Tradisi mengirim hantaran atau parcel dalam bentuk makanan atau bingkisan barang ke saudara atau rekan, telah menjadi kebiasaan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia saat Lebaran tiba.

Rupanya, kebiasaan berbagi tersebut memiliki sejarah tersendiri di Indonesia. Seperti dikutip dari Antara, Senin (2/5/2022), sejarawan kuliner Universitas Padjadjaran Fadly Rahman mengatakan tradisi mengirim hantaran telah berlangsung sejak abad ke-16. 

"Hantaran Lebaran yang hingga saat ini populer di kalangan masyarakat Indonesia merupakan bentuk transformasi dari tradisi hantaran hasil bumi yang dipersembahkan rakyat kepada raja dan kemudian dari raja untuk rakyatnya," ujar Fadly, seperti dikutip dari Antara.

Menurut Fadly, pada masa kerajaan zaman dahulu, terdapat tradisi menghantarkan hasil bumi untuk para raja.

"Dan ketika raja mengadakan pesta panen, biasanya akan membekalkan hasil olahan dan berbagai macam makanan serta kue, yang akan dibawa pulang oleh rakyatnya sendiri," kata Fadly.

Dia melanjutkan, tradisi berkirim hantaran itu tetap tidak pudar kendati masa kerajaan telah pudar di Indonesia. Tradisi itu tetap berjalan dengan sejumlah modifikasi dalam pelaksanaannya.

Modifikasi itu di antaranya dengan berbagi bersama dengan saudara, rekan dan keluarga besar.

Pada masa kolonial, saling membalas hantaran Lebaran juga telah muncul di kalangan antarkeluarga. Hantaran tersebut berupa berbagai jenis hidangan utama khas Lebaran seperti ketupat, opor, kari, dan rendang serta kue basah tradisional yang disajikan di dalam rantang.

Secara lebih spesifik, tradisi hantaran sangat erat dengan budaya masyarakat agraris di Indonesia. Terutama dalam bertukar rantang berisi makanan.

Rantang, selain berfungsi sebagai wadah bekal, secara sosial-budaya, juga memiliki arti simbolik sebagai perekat hubungan antar-tetangga atau kerabat ketika digunakan untuk hantaran.

"Ketika dikirimi dalam bentuk rantang, secara spontan kita akan membalasnya 'Ah, malu kalau kita mengembalikan dalam kondisi kosong'. Lalu kita akan mengisinya kembali dengan makanan-makanan," katanya.

Pada masa kolonial, kue-kue kering seperti nastar, kastangel, lidah kucing, dan putri salju dalam kemasan stoples mulai dikenal dan dijadikan hantaran Lebaran yang diberikan keluarga Eropa untuk keluarga pribumi priyayi.

Dalam perkembangannya, kini hantaran telah bertransformasi dalam bentuk hampers dan parsel yang memiliki kemasan lebih modern. Walau wujudnya telah berubah, Fadly mengatakan esensi serta makna hantaran tidak berubah signifikan.

Namun pada masa sekarang, kata Fadly, telah jamak orang mengirim hantaran sebagai tanda ucapan terima kasih atau ucapan hari raya dari rekan kerja tanpa mengharap balasan atau tanpa saling bertukar. Hal tersebut terjadi seiring dengan pergeseran hantaran yang telah dikomersilkan atau dijadikan lahan bisnis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lebaran idulfitri parcel

Sumber : Antara

Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top