Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Soal Produk Tembakau Alternatif, Begini Kata Apoteker

Para apoteker memaparkan dampak produk tembakau elektronik terhadap kesehatan.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 31 Juli 2022  |  09:48 WIB
Soal Produk Tembakau Alternatif, Begini Kata Apoteker
Ilustrasi rokok vape elektronik. - Bisnis/Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Hasil studi apoteker mengeklaim reduksi paparan zat berbahaya dari produk tembakau elektronik 90 persen lebih rendah dibandingkan dengan rokok.

Apoteker dari Universitas Hasanuddin Muhammad Aswad menjelaskan penggunaan senyawa bioaktif juga ditemukan pada produk tembakau, yaitu nikotin yang bersumber dari tanaman tembakau. Tembakau kering mengandung nikotin sekitar 9 persen.

Nikotin juga ditemukan pada beberapa jenis tanaman lainnya seperti pada terong, kembang kol, kentang dan tomat, walaupun dimakan dengan kadar yang sangat sedikit.

Saat ini, konsumsi nikotin paling banyak diperoleh dari merokok. Aswad menjelaskan saat dibakar, rokok mengandung sekitar 7.000 senyawa, 70 diantaranya merupakan senyawa karsinogenik yang memicu timbulnya penyakit kanker.

Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, nikotin kini bisa diperoleh melalui penggunaan produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin.

“Ada salah satu kajian yang membandingkan produk tembakau alternatif dengan rokok, hasilnya menunjukkan reduksi paparan zat berbahaya lebih dari 90 persen lebih rendah daripada rokok,” ujarnya melalui keterangan resmi, Sabtu (30/7/2022).

Nikotin memang memiliki sifat adiktif terhadap konsumennya. Tetapi, Aswad mengatakan nikotin juga memberikan dampak positif bagi penderita Alzheimer. Nikotin memiliki peran penting dalam memori.

“Senyawa bioaktif yang digunakan secara luas di masyarakat seperti nikotin perlu mendapatkan perhatian dari sains farmasi untuk dapat menilai resiko dan keuntungan dari penggunaan senyawa bioaktif tersebut dalam berbagai aspek,” imbuhnya.

Berdasarkan hasil riset Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/HO) dan Kementerian Kesehatan, 25 persen masyarakat Indonesia merupakan perokok. Setidaknya, terjadi peningkatan jumlah perokok di Indonesia sebanyak 8,8 juta orang atau 14,5 persen dalam kurun waktu dari 2011-2021. Saat ini, angka perokok di Indonesia mencapai 69,1 juta jiwa.

Sementara itu, Apoteker dari Universitas 17 Agustus Diana Laila Ramatillah menambahkan ada banyak senyawa bioaktif yang bisa terus dieksplorasi di alam Indonesia dan berpotensi mendatangkan manfaat yang besar.

Namun, dalam pemanfaatannya, diperlukan tindakan kehati-hatian. Diana mencontohkan salah satu senyawa bioaktif di luar nikotin yang bisa diteliti lebih jauh adalah cinnamon oil atau minyak kayu manis.

Namun, pada pemanfaatannya perlu diingat bahwa minyak kayu manis murni dapat menimbulkan risiko. Beberapa diantaranya yaitu mengiritasi kulit ketika dicampur secara langsung dengan air mandi dan membakar selaput lendir serta kerongkongan untuk penggunaan oral.

Oleh sebab itu, perlu peran aktif para apoteker dalam mengeksplorasi bahan bioaktif untuk semakin ditingkatkan guna mengetahui potensi dan dampaknya terhadap kesehatan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri rokok Industri Vape apoteker nikotin
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top