Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BPOM Dorong Kemandirian Produksi Obat Herbal Lokal

Selama ini, sebanyak 25 persen bahan baku pembuatan obat didapatkan dari impor, sedangkan bahan baku mentah seperti hasil pertanian lebih banyak diekspor karena
Widya Islamiati
Widya Islamiati - Bisnis.com 04 Agustus 2022  |  21:49 WIB
BPOM Dorong Kemandirian Produksi Obat Herbal Lokal
Kantor BPOM di Percetakan Negara, Jakarta Pusat. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggandeng sejumlah intansi untuk mendorong kemandirian obat herbal.

Langkah ini menyusul produksi obat herbal berbahan alam yang terhambat pengadaan bahan baku berkualitas yang berkelanjutan, membuat para pelaku usaha menemukan kebuntuan.

Hal ini tentu mempengaruhi pada kualitas dan daya saing produk obat herbal tradisional.

Selama ini, sebanyak 25 persen bahan baku pembuatan obat didapatkan dari impor, sedangkan bahan baku mentah seperti hasil pertanian lebih banyak diekspor karena dinilai lebih menguntungkan.

Selain itu, keterbatasan memproduksi hasil pertanian agar dapat diolah menjadi ekstrak bahan alam yang merupakan bahan baku pembuatan obat herbal tradisional, juga masih menjadi kendala utama produksi obat herbal tradisional.

Ketua Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny Kusumastuti Lukito menyebutkan, produksi obat herbal tradisional harus mandiri dan tidak bergantung pada hasil impor, sehingga dibutuhkan adanya dukungan dari berbagai instansi terkait untuk mendorong industri ekstrak bahan alam (IEBA).

Penny juga mengatakan, produk obat herbal tradisional ini mengandung nilai budaya, produksinya juga berkaitan dengan alam. Selain itu, Penny juga mengungkapkan harapannya.

"Produk obat herbal ini kan mengandung nilai budaya, harapannya obat tradisional berbahan alam ini jadi prioritas pemerintah, maka kita (BPOM) bekerja sama dengan Kementrian Pertanian sebagai penyedia hasil pertanian, Kementrian Kesehatan, Badan Riset Inovasi Nasional untuk memudahkan para pelaku usaha menemukan bahan baku berkualitas dan juga dengan berbagai instansi terkait lainnya " ungkap Penny dalam acara Focus Group Discussion (FGD) “Kemandirian Nasional Penyediaan Bahan Baku Obat Bahan Alam Sebagai Upaya Peningkatan Mutu dan Daya Saing Produk Obat Tradisional” yang diselenggarakan secara hybrid pada 4 Agustus 2022,.

Sebelumnya, pada Juli 2022, BPOM juga telah mengadakan pelatihan bagi pelaku usaha IEBA demi meningkatkan pemahaman para suplier bahan baku obat bahan alam terhadap persyaratan pembuatan obat tradisional.

Saat itu, pelaku usaha IEBA menandatangani komitmen untuk mendukung kualitas dan kemandirian obat tradisional Indonesia, kegiatan ini digelar untuk mendukung para pelaku UMKM atau industri kecil yang kerapkali mendapatkan kesulitan mengakses bahan baku yang bermutu.

Plt. Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional, BRIN, Yuli Widiastuti memaparkan, beberapa permasalahan bahan baku tradisional, diantaranya 85 persen bahan baku didapatkan dari sumber yang tidak jelas atau liar.

Selain itu, katanya data kebutuhan tidak ada, data jenis bahan yang dibutuhkan tidak ada, produsen tingkat awal didominasi oleh petani pengumpul bukan penanam, rantai distribusi dan informasi pasar tidak terbuka, juga teknologi hulu dan hilir belum berkembang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obat herbal BPOM
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top