Ilustrasi pria mengalami gejala kanker paru-paru/Freepik
Health

Polusi dalam Ruangan Bisa Picu Kanker Paru-Paru, Benarkah?

Arlina Laras
Kamis, 19 Januari 2023 - 20:50
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto mengungkapkan polutan dalam ruangan tidak kalah berbahaya dari polusi udara hanya berasal dari luar ruangan.

“Sumber indoor air polution itu sama [dengan outdoor air polution], dari komponen gas dan komponen partikel," kata Agus dalam Media Briefing bertema "Polusi Udara dan Dampaknya Pada Kesehatan" Kamis (19/1/2023) 

Polusi udara sendiri diukur salah satunya dengan PM atau particulate matter (atau disebut juga partikel polusi) yang merupakan campuran kompleks partikel padat dan atau cair yang tersuspensi di udara. 

Dirinya menyebutkan, PM yang ditemukan di udara dalam ruangan, justru berpeluang memiliki dampak lebih besar bagi kesehatan dibanding polusi di luar ruangan. Pasalnya, kualitas udara dalam ruangan menjadi sangat penting karena kebanyakan dari kita menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan.

Terpapar polutan dalam udara ruang dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan, gangguan sistem pernafasan, dan sistem kardiovaskuler. 

WHO menyatakan bahwa partikulat di udara dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan masuk ke dalam tubuh secara sistematis, memengaruhi sistem kardiovaskular dan organ utama lainnya. 

Paparan kronis terhadap partikulat menyebabkan peningkatan risiko kematian dini akibat serangan jantung, stroke, infeksi pernapasan, dan kanker paru-paru.

Lantas, apa saja sumber polutan dalam ruangan yang biasa tidak kita sadari? 

1. Asap rokok dalam ruangan

Dirinya menyebutkan, penyebab yang paling utama adalah asap rokok, apalagi jika perokok dalam rumah. 

Agus mengatakan merokok bersifat karsinogenik dimana zat karsinogenik muncul dari rokok yang belum dibakar atau asap rokok atau biasa disebut tobacco-spesific nitrosamines (TSNAs). TSNAs lebih cepat terbentuk dalam ruangan atau dalam rumah yang dipakai untuk merokok. 

Jejak yang ditinggalkan pada perokok saat merokok akan membentuk zat beracun yang kemudian melekat pada perabotan dalam rumah dan jumlah kadar racun yang tersimpan di dalam rumah akan terus bertambah.

“Kandungan PM merupakan bahan karsinogenik atau bisa menyebabkan dan merangsang timbulnya kanker, penyakit jantung dan stroke," jelas Agus pada Bisnis.

2. Hasil pembakaran dalam ruangan 

Selain itu, penyebab lainnya adalah hasil pembakaran mulai dari kegiatan memasak. Hingga penggunaan lilin, perapian, lampu minyak, pemanas ruangan terutama yang menggunakan bahan bakar minyak tanah, kayu, arang atau batubara asap yang dihasilkan dari masakan dapat menjadi sumber polusi dalam ruangan.

“Kompor minyak maupun kompor gas akan menghasilkan gas emisi, yaitu karbon (CO). Dari semua itu, pemanas ruangan yang paling banyak menghasilkan polusi adalah pemanas ruangan. Karena gas emisinya yang paling banyak," ucap Agus.

3. Emisi dari bahan elektronik

Selain itu, ada pula perkakas elektronik yang cukup banyak ditemukan. Misalnya, AC, di mana meski udara dalam ruangan telah terisolasi dari udara luar, namun bukan berarti emisi berupa partikel halus dari perkakas elektronik musnah di dalamnya.

4. Bakteri dan virus

Terakhir adalah polutan yang bersifat organik seperti bakteri dan virus, seperti tungau debu, jamur, bulu hewan peliharaan, bakteri contohnya Legionella dan mikroorganisme atau partikel kecil lainnya yang berasal dari makhluk hidup dapat awet bertahan di dalam ruangan karena faktor kelembapan dari furnitur yang ada. 

"Secara dampak, mau [polusi] dari luar maupun dari dalam hampir sama," kata Agus. Paparan polutan dari udara bisa berakibat pada iritasi saluran pernapasan seperti batuk, napas berat, influenza, hingga infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Bahkan, dalam jangka panjang, polusi udara bisa berdampak pada berkembangnya kanker paru. 

Lebih lanjut Agus menyampaikan, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2022, ada tujuh juta kematian prematur terjadi karena polusi udara. Kematian prematur yang dimaksud adalah kematian yang terjadi sebelum usia rata-rata kematian pada populasi tertentu.

Dari data WHO, sebanyak 47 persen penyakit yang ditimbulkan dari polusi udara adalah penyakit paru-paru. Untuk rinciannya yakni 34 persen dari penyakit jantung koroner, 20 persen strok, 21 persen infeksi paru, 19 persen penyakit paru obrstruktif kronik (PPOK), dan tujuh persen kanker paru.

Cara Pencegahan

Dia mengimbau agar masyarakat terus menerapkan pola hidup sehat agar terhindar dari dampak buruk polusi udara dalam ruangan, misalnya dengan menjaga kebersihan di dalam rumah, pastikan juga rumah memiliki ventilasi udara yang bersih dan berpenyaring, jaga juga kebersihan AC. Jika perlu, Agus pun merekomendasikan untuk menggunakan air purifier untuk memurnikan udara

 “Banyak orang yang tidak menyadarinya. Mereka sudah menjalankan hidup sehat, istirahat cukup, olahraga, tidak merokok. Tapi mereka bisa terkena penyakit itu yang ternyata ada kaitannya dengan polusi udara,” ungkapnya.

Penulis : Arlina Laras
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro