Puisi Hari Ibu yang Menyentuh Hati dari Penyair Terkenal, contohnya dari Kahlil Gibran/(Bisnis - Muhammad Rizky Nurawan)
Relationship

7 Puisi Hari Ibu yang Menyentuh Hati dari Penyair Terkenal

Rendi Mahendra
Jumat, 22 Desember 2023 - 10:44
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Bulan Desember selalu membawa satu momen yang istimewa, di mana cinta dan penghargaan kepada sosok yang tak ternilai, Ibu, dirayakan secara luas.

Setiap tanggal 22 Desember, di Indonesia ada perayaaan Hari Ibu sebagai penghormatan terhadap peran yang luar biasa dari seorang ibu dalam kehidupan kita.

Adalah momen yang tepat untuk menyuarakan rasa terima kasih dan cinta kepada Ibu, cara menyampaikannya bisa dalam bentuk puisi hari ibu.

Puisi adalah cara yang indah untuk mengungkapkan perasaan, dan puisi tentang Ibu adalah salah satu cara paling puitis untuk merayakan Hari Ibu. Berikut beberapa contoh puisi hari Ibu yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi kita:

Kumpulan Puisi Hari Ibu Menyentuh Hati

1. Ibu (Oleh: Kahlil Gibran)

Ibu adalah segalanya, dialah penghibur di dalam kesedihan.

Pemberi harapan di dalam penderitaan, dan pemberi kekuatan di dalam kelemahan.

Dialah sumber cinta, belas kasihan, simpati dan pengampunan.

Manusia yang kehilangan ibunya berarti kehilangan jiwa sejati yang memberi berkat dan menjaganya tanpa henti.

Segala sesuatu di alam ini melukiskan tentang sosok ibu. Matahari adalah ibu dari planet bumi yang memberikan makanannya dengan pancaran panasnya.

Matahari tak pernah meninggalkan alam semesta pada malam hari sampai matahari meminta bumi untuk tidur sejenak di dalam nyanyian lautan dan siulan burung-burung dan anak-anak sungai.

Dan Bumi ini adalah ibu dari pepohonan dan bunga-bunga menjadi ibu yang baik bagi buah-buahan dan biji-bijian.

Ibu sebagai pembentuk dasar dari seluruh kewujudan dan adalah roh kekal, penuh dengan keindahan dan cinta.

2. Jendela (Oleh: Joko Pinurbo)

Di jendela tercinta ia duduk-duduk

bersama anaknya yang sedang beranjak dewasa.

Mereka ayun-ayunkan kaki, berbincang, bernyanyi

dan setiap mereka ayunkan kaki

tubuh kenangan serasa bergoyang ke kanan dan kiri.

Mereka memandang takjub ke seberang,

melihat bulan menggelinding di gigir tebing,

meluncur ke jeram sungai yang dalam, byuuurrr....

Sesaat mereka membisu.

Gigil malam mencengkeram bahu.

"Rasanya pernah kudengar suara byuuurrr

dalam tidurmu yang pasrah, Bu."

"Pasti hatimulah yang tercebur ke jeram hatiku,"

timpal si ibu sembari memungut sehelai angin

yang terselip di leher baju.

Di rumah itu mereka tinggal berdua.

Bertiga dengan waktu. Berempat dengan buku.

Berlima dengan televisi. Bersendiri dengan puisi.

"Suatu hari aku dan Ibu pasti tak bisa bersama."

"Tapi kita tak akan pernah berpisah, bukan?

Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma."

Selepas tengah malam mereka pulang ke ranjang

dan membiarkan jendela tetap terbuka.

Siapa tahu bulan akan melompat ke dalam,

menerangi tidur mereka yang bersahaja

seperti doa yang tak banyak meminta.

3. Bunda Air Mata (Oleh: Emha Ainun Najib)

Kalau engkau menangis

Ibundamu yang meneteskan air mata

Dan Tuhan yang akan mengusapnya

Kalau engkau bersedih

Ibundamu yang kesakitan

Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan

Menangislah banyak-banyak untuk Ibundamu

Dan jangan bikin satu kalipun untuk membuat Tuhan naik pitam kepada hidupmu

Kalau Ibundamu menangis,

para malaikat menjelma butiran-butiran air matanya

Dan cahaya yang memancar dari airmata ibunda

membuat para malaikat itu silau dan marah kepadamu

Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan suci

sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala menutup pintu sorga bagimu

4. Ibu (Oleh: KH. Mustofa Bisri)

Kaulah gua teduh tempatku bertapa bersamamu sekian lama

Kaulah Kawah darimana aku meluncur dengan perkasa

Kaulah bumi yang tergetar lembut bagiku melepas lelah dan nestapa

gunung yang menjaga mimpiku siang dan malam

mata air yang tak brenti mengalir membasahi dahagaku

telaga tempatku bermain berenang dan menyalam

Kaulah Ibu, laut dan langit yang menjaga lurus horisonku

Kaulah ibu, mentari dan rembulan yang mengawal perjalananku

mencari jejak sorga di telapak kakimu

5. Ibu (Oleh: Sapardi Djoko Damono)

Ibu masih tinggal di kampung itu, ia sudah tua.

Ia adalah perempuan yang menjadi korban mimpi-mimpi ayahku

Ayah sudah meninggal,

ia dikuburkan di sebuah makam tua di kampung itu juga,

beberapa langkah saja dari rumah kami.

Dulu Ibu sering pergi sendirian ke makam,

menyapu sampah, dan kadang-kadang, menebarkan beberapa kuntum bunga.

"Ayahmu bukan pemimpi," katanya yakin meskipun tidak berapi-api,

"ia tahu benar apa yang terjadi."

Kini di makam itu sudah berdiri sebuah sekolah,

Ayah digusur ke sebuah makam agak jauh di sebelah utara kota.

Kalau aku kebetulan pulang, Ibu suka mengingatkanku untuk menengok makam ayah, mengirim doa.

Ibu sudah tua, tentu lebih mudah mengirim doa dari rumah saja.

"Ayahmu dulu sangat sayang padamu, meskipun kau mungkin tak pernah mempercayai segala yang dikatakannya."

Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, sambil menengok ke luar jendela pesawat udara, sering kubayangkan Ibu berada di antara mega-mega.

Aku berpikir, Ibu sebenarnya lebih pantas tinggal di sana, di antara bidadari-bidadari kecil yang dengan ringan terbang dari mega ke mega

dan tidak mondar-mandir dari dapur ke tempat tidur,

memberi makan dan menyusui anak-anaknya.

"Sungguh, dulu ayahmu sangat sayang padamu," kata Ibu selalu,

"meskipun sering dikatakannya bahwa ia tak pernah bisa memahami igauan-igauanmu."

6. Ibu (Oleh: Chairil Anwar)

Pernah aku ditegur

Katanya untuk kebaikan

Pernah aku dimarah

Katanya membaiki kelemahan

Pernah aku diminta membantu

Katanya supaya aku pandai

Ibu....

Pernah aku merajuk

Katanya aku manja

Pernah aku melawan

Katanya aku degil

Pernah aku menangis

Katanya aku lemah

Ibu....

Setiap kali aku tersilap

Dia hukum aku dengan nasihat

Setiap kali aku kecewa

Dia bangun di malam sepi lalu bermunajat

Setiap kali aku bangun dalam kesakitan

Dia ubati dengan penawar dan semangat

Dan bila aku mencapai kejayaan

Dia kata bersyukurlah pada Tuhan

Namun....

Tidak pernah aku lihat air mata dukamu

Mengalir di pipimu

Begitu kuatnya dirimu....

Ibu....

Aku sayang padamu....

Tuhanku....

Aku bermohon padaMu

Sejahterakanlah dia

Selamanya....

7. Ibu (Puisi: D. Zawawi Imron)

Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau

Sumur-sumur kering, daun pun gugur bersama reranting

Hanya mata air air matamu, ibu, yang tetap lancar mengalir

Bila aku merantau

Sedap kopyor dan ronta kenakalanku

Di hati ada mayang siwalan memutikkan sari kerinduan

Lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

Ibu adalah gua pertapaanku

Dan ibulah yang meletakkan aku di sini

Saat bunga kembang menyemerbak bau sayang

Ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi

Aku mengangguk meskipun kurang mengerti

Bila kasihmu ibarat samudera

Sempit lautan teduh

Tempatku mandi, mencuci lumut pada diri

Tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh

Lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku

Kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan

Namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu

Lantaran aku tahu

Engkau ibu dan aku anakmu

Penulis : Rendi Mahendra
Editor : Rendi Mahendra
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro