Ilustrasi Virus Corona varian Omicron yang menimbulkan wabah di beerbagai negara di dunia. Berikut daftar varian Covid-19 baru yang wajib diwaspadai./Istimewa
Health

Covid-19 Terus Berevolusi, Ini Daftar Varian yang Dipantau WHO

Oktaviano DB Hana
Selasa, 23 Januari 2024 - 17:39
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Dunia masih dihadapkan pada penyebaran virus SARS-CoV-2 atau Covid-19 kendati telah memasuki periode endemi.

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mencatat per 7 Januari 2024 masih ada 126.936 kasus Covid-19 di seluruh dunia. Jumlah itu menurun dibandingkan 7 hari sebelumnya atau pada akhir Desember 2023.

Pada periode itu, Singapura menjadi negara dengan kasus Covid-19 terbanyak yakni mencapai 21.200 kejadian. Yunani dan Selandia Baru menyusul dengan masing-masing 17.800 kasus dan 11.900 kejadian.

Kasus Covid-19 di Indonesia pada saat yang sama dilaporkan mencapai kisaran 2.000 laporan hasil pemeriksaan.

WHO melaporkan, kasus Covid-19 yang masih terus terjadi di berbagai belahan dunia tidak terlepas dari evolusi virus atau terus hadirnya varian Covid-19 dari penyakit tersebut. 

Sejak awal kemunculannya, varian Covid-19 terbaru terus dilaporkan. Gejala covid-19 atau ciri-ciri covid-19 varian baru itu pun berbeda-beda.

Jenis Covid-19 Varian Baru

Berikut ini sejumlah Covid-19 varian baru yang masih masuk dalam daftar perhatian utama (Variants of Concern/VOCs atau Variants of Interest/VOI) WHO berdasarkan penilaian potensinya terhadap penyakit. 

1. Covid-19 Varian JN.1

Berdasarkan laporan WHO, Sampel varian covid-19 terbaru ini pertama kali didokumentasikan pada 25 Agustus 2023. Namun, nama varian JN.1 ini baru ditetapkan pada 13 Desember 2023.

Dilansir Centers for Disease Control (CDC), varian JN.1 adalah varian Covid-19 yang diturunkan dari varian BA.2.86 atau disebut dengan Pirola.

JN.1 dilaporkan memiliki mutasi tambahan pada protein spikenya dibandingkan dengan BA.2.86, yang digunakan virus tersebut untuk menempel pada sel manusia dan menyebabkan sakit. Namun, hingga saat ini, belum ada data yang menunjukkan bahwa JN.1 menyebabkan gejala yang berbeda dibandingkan varian Covid-19 sebelumnya. 

Sama seperti varian BA.2.86, covid-19 varian JN.1 kemungkinan besar lebih mudah menular dibandingkan varian sebelumnya.

Gejala Covid-19 JN.1 diantaranya:

  • Demam atau menggigil
  • Batuk
  • Sesak napas atau kesulitan bernapas
  • Kelelahan
  • Nyeri otot atau badan
  • Sakit kepala
  • Hilangnya rasa atau bau-bau
  • Sakit tenggorokan
  • Hidung tersumbat atau meler
  • Mual atau muntah
  • Diare

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada Desember 2023 mengumumkan bahwa Covid-19 varian JN.1 sudah masuk dan menyebar di Indonesia, bahkan mendominasi dari kasus yang ada.

2. Covid-19 Varian BA.2.86

Seperti sudah diungkapkan sebelumnya, varian Covid-19 ini merupakan induk dari Covid-19 varian terbaru, JN.1. Keduanya masuk dalam jenis Omicron.

Varian BA.2.86 pertama kali ditemukan pada 24 Juli 2023 dan kemudian ditetapkan sebagai salah satu evolusi teranyar dari SARS-CoV-2 pada 21 November 2023.

Dilansir CDC, Thomas Russo, profesor dan kepala penyakit menular di Universitas di Buffalo di New York mengatakan bahwa varian BA.2.86 sendiri memiliki lebih dari 20 mutasi pada spike proteinnya.

Russo mengatakan ada beberapa data yang menunjukkan bahwa varian BA.2.86 mungkin lebih mudah menular dibandingkan varian sebelumnya. 

Gejala Covid-19 Varian BA.2.86 diantaranya:

  • Demam
  • Batuk
  • Sesak napas
  • Kelelahan
  • Nyeri otot dan badan
  • Sakit kepala
  • Hilangnya rasa atau bau-bau
  • Sakit tenggorokan
  • Hidung tersumbat.

3. Covid-19 Varian EG.5

Varian Covid-19 EG.5 pertama kali terdeteksi dalam sampel pasien pada 17 Februari 2023. Namun, WHO mencatat, varian ini baru diberi nama pada 9 Agustus 2023.

Mutasi dari SARS-CoV-2 ini juga dilaporkan lebih menular dari varian sebelumnya. Yale Medicine melansir, daya penularan EG.5 melebihi varian Covid-19 Omicron XBB.1.16 atau Arcturus.

Varian Covid-19 EG.5 disebut memiliki satu mutasi baru pada protein lonjakannya. Hal itu berpotensi menghindarkan varian ini dari kekebalan yang diperoleh manusia setelah terinfeksi atau vaksinasi.

Laporan menyebut bahwa sejauh ini tidak ada perbedaan. Seperti strain Omicron lainnya, EG.5 cenderung menginfeksi saluran pernapasan bagian atas, menyebabkan pilek, dan sakit tenggorokan.

Namun, orang berusia 65 tahun ke atas atau yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah berisiko lebih tinggi menularkan virus ke saluran pernapasan bagian bawah, sehingga berpotensi menyebabkan penyakit parah.

4. Covid-19 Varian XBB

Varian Covid-19 Omicron XBB ini terdiri dari beberapa jenis. Paling anyar adalah XBB.1.16.

Covid-19 varian XBB.1.16 ini pertama kali ditemukan dalam sampel pada 9 Januari 2023 dan secara resmi dinamakan pada 17 April 2023.

Varian Covid-19 XBB.1.16 adalah XBB.1.5 yang ditemukan perdana pada sampel pada 21 Oktober 2022 dan baru diberi nama pada 11 Januari 2023.

Varian Covid-19 Omicron ini pun sempat memicu lonjakan kasus di dunia, terutama di Singapura dan China. Sejak pertama kali ditemukan, sebanyak 24 negara melaporkan temuan Omicron varian XBB termasuk Indonesia. 

Kasus pertama Covid-19 varian XBB di Indonesia merupakan transmisi lokal dan terdeteksi pada seorang perempuan, berusia 29 tahun yang baru saja kembali dari Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Gejala Covid-19 Varian XBB diantaranya:

  • Batuk
  • Pilek
  • Demam

Kendati cepat menular, namun fatalitas varian Covid-19 XBB tidak lebih parah dari varian Omicron sebelumnya.

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro