Stunting/istimewa
Health

Pakar Gizi: Penanganan Stunting Perlu Campur Tangan Politikus

Mutiara Nabila
Jumat, 9 Februari 2024 - 20:55
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Masalah stunting menjadi salah satu masalah kesehatan yang jadi fokus untuk diselesaikan oleh para calon presiden dan wakil presiden dalam kampanye pilpres 2025. 

Ketiga pasangan calon presiden dan wakil presiden memilki program masing-masing untuk mengatasi stunting.

Pasangan calon nomor urut 01 menawarkan program pendampingan ibu hamil hingga 1.000 hari pertama kehidupan anak. Harapannya, program ini dapat menurunkan prevalensi yang ditargetkan antara 11-12,5%.

Kemudian, paslon nomor urut 02 menawarkan program makan siang dan susu gratis setiap hari untuk anak-anak sekolah, bantuan gizi pada ibu hamil dan balita, serta Kartu Anak Sehat. Melalui program ini paslon nomor urut 02 berharap dapat menekan angka stunting hingga di bawah 10%.

Sedangkan, paslon nomor urut 03 menawarkan program pendampingan 1000 hari pertama kehidupan anak dan pasokan gizi untuk anak hingga usia 5 tahun. Program lainnya adalah 1 Desa 1 Puskesmas 1 Dokter/Nakes untuk menekan angka prevalensi stunting hingga di bawah 9%.

Menanggapi program para paslon, Guru Besar dan pakar Gizi Universitas Hasanuddin Prof. Dr. dr. Abdul Razak Thaha mengatakan cukup gembira bahwa saat ini stunting sudah menjadi kekhawatiran para politikus. 

"Meskipun dalam debat banyak yang belum matang pemahamannya tentang stunting, masih banyak miskonsepsi terjadi bagaimana seharusnya membangun pemahaman yang benar tentang stunting, tapi mereka sudah mau mulai memahami itu suatu kemajuan luar biasa," katanya dalam Dialog Kebangsaan Himpunan Fasyakes Dokter Indonesia, Rabu (7/2/2024). 

Pasalnya, kata Prof. Abdul Razak untuk mengatasi stunting perlu penanganan dari segala aspek, tak hanya soal perbaikan gizi, tapi juga dari sisi lingkungan, ketersediaan air bersih, sehingga bisa mengatasi stunting sampai dengan dari sisi kebijakan. 

Namun, Prof. Abdul Razak mengatakan, untuk memperdalam pemahaman tentang stunting, perlu memberitahu para politikus dengan bahasa politikus juga, tidak bisa pakai ukuran-ukuran kita, pakai bahasa kedokteran. 

"Gimana misalnya? Misalnya kasih video yang soal kasus anak yang diadopsi ke Belanda usia 4 bulan, dia tetaep tumbuh tinggi, sementara saat bertemu ibu, kakak, dan adiknya yang masih di Indonesia mereka pendek. Artinya, stunting Itu bukan karena tempat, bukan karena bapaknya ibunya, tapi juga karena lingkungan dan dari gizi baik yang diterimanya sejak kecil," sambungnya. 

Menurutnya, ketika membicarakan stunting, peranan dari para politikus amat sangat penting, sehingga dapat menyediakan dana besar yang dibutuhkan, misalnya untuk memperbaiki kualitas lingkungan.

Penulis : Mutiara Nabila
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro