Penyakit papilledema yang menyerang mantan kiper Timnas Indonesia./Emdocs
Health

Apa Itu Papilledema: Penyebab, Gejala dan Cara Mengobati

Leo Dwi Jatmiko
Selasa, 5 Maret 2024 - 14:19
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Penyakit papilledema banyak dibicarakan setelah mantan atlet sepak bola Indonesia Kurnia Mega terserang oleh penyakit papilledema ini. Karir mantan penjaga gawang tim nasional Indonesia itu menurun sesaat dikabarkan menderita papilledema. Lantas apa itu papilledema? 

Papilledema adalah penyakit mata yang ditandai dengan pembengkakan pada saraf optik di area optic disc. Optic disc merupakan area dimana saraf optik masuk ke dalam bagian belakang bola mata manusia.

Saraf optik yang melalui area optic disc terdiri dari kumpulan saraf yang membawa informasi visual, dan menjadi penghubung antara otak dengan retina mata. Ketika seseorang mengalami penyakit papilledema, area optic disc yang berisi saraf ini mengalami pembengkakan.

Dalam kondisi cedera parah, penyakit mata ini dapat menyebabkan penderita sulit melihat dan sulit fokus.  

Penyakit Mata Papilledema

Berikut ini beberapa fakta tentang penyakit papilledema, diantaranya:

Penumpukan Cairan 

Cairan serebrospinal atau CSF adalah cairan yang mengelilingi otak dan saraf optik. Cairan ini berfungsi untuk menjaga keduanya agar tetap stabil dan melindungi dari kerusakan akibat gerakan tiba-tiba. 

Dalam kasus papilledema, penderita mengalami peningkatan tekanan di sekitar otak yang terjadi karena penumpukan CSF. Ketika tekanan otak meningkat, akibatnya saraf optik membengkak saat memasuki bola mata di cakram optik atau optic disc.

Penyebab Papilledema

Adapun tekanan pada otak dapat terjadi karena sejumlah kondisi medis tertentu yang cukup serius. Tekanan tersebut tidak terjadi begitu saja. Berikut beberapa pemicu tekanan pada otak yang berdampak pada papilledema, antara lain:

  • Cedera traumatis di kepala
  • Radang otak atau jaringan sekitarnya
  • Tekanan darah yang sangat tinggi atau krisis hipertensi
  • Penyumbatan darah atau CSF di otak
  • Radang selaput otak atau meningitis
  • Anemia
  • Lesi sumsum tulang belakang
  • Penumpukan cairan serebrospinal di otak (hidrosefalus)
  • Penumpukan nanah di otak (abses otak)
  • Paradangan pada selaput pelindung otak (meningitis)
  • Cedera kepala berat

Gejala Papilledema

Penderita papilledema akan mengalami perubahan minor pada penglihatan. Awalnya perubahan ini mungkin terasa seperti gangguan penglihatan sepele dan biasanya hanya terjadi beberapa detik.

Akan tetapi, jika tekanan otak terus berlanjut, perubahan penglihatan dapat berlangsung selama beberapa menit atau lebih lama. Dalam beberapa kasus, gejala ini bahkan bisa menjadi permanen.

Berikut beberapa gejala papilledema:

  • Penglihatan buram
  • Penglihatan ganda atau berbayang
  • Kehilangan penglihatan yang berlangsung selama beberapa detik
  • Mual dan muntah
  • Mengalami sakit kepala yang tidak normal
  • Mendengar dering atau suara lain di telinga
  • Gejala neurologis, seperti masalah pada gerakan atau pemikiran
  • Nyeri di salah satu atau kedua mata
  • Lebih sensitif terhadap cahaya (silau)
  • Gangguan penglihatan menjadi lebih berat saat batuk atau mengejan
  • Sangat mengantuk atau sangat lelah

Wanita yang Obesitas Rentan Terkena

Selain karena kondisi medis yang sudah disebutkan sebelumnya, papilledema juga bisa terjadi karena IIH. IIH atau idiopathic intracranial hypertension merupakan kondisi langka ketika tubuh memproduksi terlalu banyak CSF atau tidak dapat mengalirkannya dengan baik. 

Kelebihan CSF bisa menyebabkan peningkatan tekanan di otak. Gejala IIH biasanya berupa sakit kepala, gangguan penglihatan, dan telinga berdenging.

Penyebab pasti dari kondisi ini masih belum jelas. Penggunaan obat-obatan tertentu seperti litium, antibiotik, dan kortikosteroid, diperkirakan sebagai penyebab kondisi ini. 

IIH sendiri biasanya lebih sering menyerang wanita. Umumnya wanita yang berusia 20 hingga 44 tahun dengan kelebihan berat badan (BMI lebih besar dari 25) atau obesitas (BMI lebih besar 30). Kasus papilledema pada kelompok individu ini adalah 13 per 100.000 dilansir dari Halodoc.

Pengobatan Papilledema

Metode pengobatan papilledema bisa berbeda-beda bergantung pada kondisi medis yang menjadi pemicunya. Jika terjadi karena IIH, dokter akan menyarankan untuk menurunkan berat badan dengan melakukan diet rendah garam.

Selain itu, dokter juga dapat memberikan obat-obatan seperti acetazolamide, furosemide, atau topiramate.

Operasi juga bisa menjadi pilihan jika obat-obatan tidak bekerja dengan efektif. Bagi pengidap papilledema yang terjadi karena tumor atau cedera kepala, operasi atau perawatan yang lebih intensif biasanya dapat menangani penyakit ini.

Demikian informasi mengenai penyakit papilledema yang sempa

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro