Kasus Kanker Payudara di Indonesia Tinggi, Sadari dan Sadanis Harus Ditingkatkan

Kanker payudara merupakan salah satu prevalensi kanker tertinggi di Indonesia, yaitu 50 per 100.000
Mia Chitra Dinisari | 19 September 2017 17:12 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Kanker payudara merupakan salah satu prevalensi kanker tertinggi di Indonesia, yaitu 50 per 100.000 penduduk dengan angka kejadian tertinggi di D.I Yogyakarta sebesar 24 per 10.000 penduduk sesuai informasi dari Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI tahun 2013.

Sementara itu, kanker payudara termasuk dalam 10 penyebab kematian terbanyak pada perempuan di Indonesia dengan angka kematian 21,5 per 100.000 penduduk.

Dr Lily S Sulistyowati Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes mengatakan faktor yang dapat memicu kanker payudara antara lain perokok aktif dan pasif; pola makan buruk; usia haid pertama di bawah 12 tahun; perempuan tidak menikah; perempuan menikah tidak memiliki anak; melahirkan anak pertama pada usia 30 tahun; tidak menyusui; menggunakan kontrasepsi hormonal dan atau mendapat terapi hormonal dalam waktu lama; usia menopause lebih dari 55 tahun; pernah operasi tumor jinak payudara; riwayat radiasi dan riwayat kanker dalam keluarga.

Kanker payudara sangat berbahaya dan harus diwaspadai sejak dini. Meskipun demikian, kanker payudara dapat dicegah dengan perilaku hidup sehat, rutin melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) yang dilakukan oleh setiap perempuan dan Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) oleh tenaga kesehatan terlatih.

Riset Penyakit Tidak Menular (PTM) 2016 menyatakan perilaku masyarakat dalam deteksi dini kanker payudara masih rendah. Tercatat 53,7% masyarakat tidak pernah melakukan SADARI, sementara 46,3% pernah melakukan SADARI; dan 95,6% masyarakat tidak pernah melakukan SADANIS, sementara 4,4% pernah melakukan SADANIS.

Kementerian Kesehatan RI menghimbau setiap perempuan untuk melakukan SADARI dan SADANIS secara berkala dengan tujuan menemukan benjolan dan tanda-tanda abnormal pada payudara sedini mungkin agar dapat dilakukan tindakan secepatnya.

SADARI dan SADANIS dapat dilakukan setiap bulan pada hari ke 7 hingga ke 10 terhitung dari hari pertama haid; atau pada tanggal yang sama setiap bulan bagi perempuan yang sudah menopause.

Dengan melakukan SADARI dan SADANIS secara berkala, kanker payudara dapat ditemukan pada stadium dini dan meningkatkan angka harapan hidup pada penderitanya.
Kampanye pentingnya SADARI dan SADANIS tidak hanya dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI, namun juga disuarakan oleh para penyintas (survivors) kanker payudara yang tergabung dalam komunitas Lovepink.

Dalam rangka memperingati Hari Kanker Payudara Sedunia yang dirayakan setiap bulan Oktober, Lovepink akan menyelenggarakan Indonesia Goes Pink di Nusa Dua, Bali pada 7-8 Oktober 2017 mendatang. Acara ini akan dihadiri 1000 penyintas kanker payudara dari seluruh Indonesia dan diisi dengan kegiatan Pink Run (5K, 10K, 21K), Fun Walk (3K), workshop dan expo, Thousand Voices of Survivors Dinner, Talkshow, dan Pemeriksaan USG.

Kementerian Kesehatan RI terus menerus mengedukasi masyarakat Indonesia untuk menghindari penyakit kanker dengan menjalankan pola hidup CERDIK (Cek kesehatan berkala; Enyahkan asap rokok; Rajin aktivitas fisik; Diet seimbang; Istirahat cukup; Kelola stres).

Selain itu, masyarakat juga dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kanker atau onkolog bila ditemukan benjolan atau perubahan pada payudara saat melakukan SADARI atau SADANIS. Perilaku menunda akan menjadikan sel kanker berkembang lebih ganas lagi dan mengurangi peluang untuk sembuh.

Tag : bahaya kanker payudara
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top