Indonesia akan Tampil Berbeda di La Biennale Architettura 2018

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan Ikatan Asitektur Indonesia (IAI) tengah bersiap mewujudkan karya tim kurator yang akan ditampilkan di Venesia pada November 2018 mendatang.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 14 Desember 2017  |  20:44 WIB
Indonesia akan Tampil Berbeda di La Biennale Architettura 2018
Ilustrasi Biennale di Architettura di Venezia - inexhibit.com

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan Ikatan Asitektur Indonesia (IAI) tengah bersiap mewujudkan karya tim kurator yang akan ditampilkan di Venezia, Italia, pada November 2018.

Tim kurator yang dipimpin oleh arsitek Ary Indra telah membut konsep Sunyata: The Poetics of Emptiness untuk menjawab tema besar yang diajukan oleh panitia di Venesia. Kurator utama acara ini adalah arsitek Yvonne Farrel dan Shelley McNamara dari Irlandia. Mereka mengajukan tema Free Space sebagai tema gelaran arsitektur 2 tahunan tersebut.

Langkah terkini yang tengah mereka jalani adalah melakukan riset terkait bangunan di Indonesia yang bisa memiliki keterkaitan dengan tema yang diangkat dalam La Biennale Architettura 2018.

Ary Indra mengatakan konsep yang sedang mereka garap saat ini berusaha memgembalikan fungsi asitektur ke dalam hunian yang sesungguhnya. Tidak melulu terbatas pada ruang dan dinding pada bangunan, melainkan pada interaksi antar manusia yang terjadi dalam ruang (space).

Untuk membuat hal tersebut Ary tengah melakukan ekspedisi untuk melihat bangunan-bangunan di Indonesia yang secara unik sebenarnya telah mengedepankan konsep space secara jitu, bahkan sejak zaman dulu.

Setidaknya ada 18 bangunan yang telah mereka datangi untuk mencari inspirasi serta konsep yang bisa digunakan oleh tim kurator. Salah satu bangunan yang telah didatangi oleh Ary dan tim kurator adalah kediaman dari seniman Butet Kertaredjasa yang diarsiteki oleh arsitek Eko Prawoto.

Sementara ini gambaran instalasi yang akan dipamerkan nanti akan berupa ruang unik yang memanfaatkan ruang dari bentukan kertas berbahan tyvek yang melengkung membentuk kurva setengah lingkaran pada ruang pameran nanti. Kertas berwarna putih itu rencananya akan dibuatkan beberapa lubang yang bisa memuat ukuran satu orang pengunjung dewasa.

Ary mengatakan bentuk tersebut akan memberikan abstraksi yang bisa direspon dengan cara beragam oleh masyarakat dari berbagai negara berbeda. "Karena bisa saja indeks budayanya berbeda kan mengenai ruang misalnya orang Eropa dengan orang Asia," katanya.

Dia juga menjelaskan lebih lanjut bahwa instalasi tersebut juga akan bisa dinikmati oleh pengunjung dengan menggunakan telkonologi VR (Virtual Reality). Selain itu, rencananya dia juga akan menambahkan efek suara digital yang akan memberi kesan tertentu bagi para pengunjung.

"Kami waktu berada di rumah Mas Butet, ada sesuatu yang unik, di dalam ruangan itu terdengar suara orang menyapu di luar, ini kan memberi perasaan yang unik ya, kita akan coba buat itu dengan memanfaatkan teknologi," jelasnya.

Di sisi lain Wakil Kepala Bekraf mengatakan  mereka berharap apa yang akan ditampilkan di Venesia nanti bisa meperkenalkan sisi lain dari arsitektur Indonesia. Menurutnya sudah semestinya Indonesia tidak hanya dikenal dengan arsitektur tradisional saja, tetapi juga dari sisi arsitektural moderen dan kontemporer.

Hal itu menurutnya, sesuai juga dengan permintaan dari Presiden Joko Widodo untuk mulai memperkenalkan sisi moderen dan kontemporer dari arsitektur Indonesia.

"Pak [Presiden] Jokowi ingin kita dikenal dengan sisi moderen dan kontemporer juga. Ini jadi semacam branding negara Indonesia di mata dunia," katanya

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
arsitektur nusantara

Editor : Martin Sihombing
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top