Pantau Gula Darah Mandiri untuk Kendalikan Diabetes Anda

Diabetes adalah kondisi ketika tubuh tidak dapat menghasilkan insulin (hormon pengatur gula darah yang diproduksi pankreas). Karena kondisi tersebut kadar gula di dalam akan meningkat.
Yoseph Pencawan | 31 Maret 2018 10:50 WIB
Ilustrasi pengecekan kadar gula darah terhadap penderita diabetes melitus - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Penderita diabetes di Indonesia terus meningkat tiap tahun. Pada 2015 saja, berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan, ada 10 juta jiwa penderita dan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pengidap diabetes ketujuh terbanyak di dunia.

Diabetes adalah kondisi ketika tubuh tidak dapat menghasilkan insulin (hormon pengatur gula darah yang diproduksi pankreas). Karena kondisi tersebut kadar gula di dalam akan meningkat.

Meski diabetes merupakan kondisi kronis yang hingga saat ini belum dapat disembuhkan secara total, tetapi penyakit ini dapat dikendalikan dengan pengaturan pola hidup yang sehat serta pengobatan yang teratur. Hal ini dilakukan untuk menjaga kadar gula darah dalam kisaran normal atau mendekati normal.

Selain itu, pemeriksaan rutin di laboratorium juga perlu dilakukan untuk mengetahui efektivitas pengontrolan gula darah. Adapun pemeriksaan laboratorium yang dilakukan meliputi pemeriksaan gula darah puasa, setelah makan serta HbA1c (untuk mengetahui kondisi kadar gula rata-rata selama tiga bulan terakhir).

Namun, menurut dokter spesialis penyakit dalam RS Pondok Indah Hari Hendarto, pemeriksaan tersebut hanya dilakukan saat pasien berobat ke rumah sakit sehingga hasilnya tidak menggambarkan keadaan harian kadar gula yang sesungguhnya dari pasien.

“Meski rutin melakukan pemeriksaan laboratorium, penting juga untuk melakukan pemantauan gula darah di rumah atau disebut dengan pemantauan gula darah mandiri (PGDM),” paparnya.

Aktivitas ini menggunakan glukometer (alat periksa gula darah) yang banyak dijual di pasaran. Pemeriksaan dapat dilakukan sendiri atau dengan pertolongan orang lain di rumah. Tapi, katanya, perlu diingat bahwa glukometer yang digunakan harus terkalibrasi dengan baik dan mengikuti tata cara yang dianjurkan (sesuai dengan ISO-15197 tahun 2013).

Apabila melakukan PGDM secara rutin, tingkat glukosa darah dapat diketahui sedini mungkin sehingga keselamatan penyandang diabetes lebih terjamin.

PDGM juga mendukung perubahan gaya hidup karena bisa memberikan respons yang objektif untuk menilai pengaruh makanan tertentu maupun aktivitas fisik terhadap stabilitas kadar gula di dalam darah.

Selain itu, lanjutnya, dengan PDGM masyarakat juga dapat memperoleh data yang benar untuk mengevaluasi tatalaksana dan terapi yang tengah dijalaninya sehingga dapat menghemat biaya kesehatan jangka panjang terkait dengan komplikasi diabetes, baik akut maupun kronik.

Adapun kelompok orang yang harus melakukan PDGM, menurut Hari, adalah mereka yang menyandang diabetes tipe 1 atau tipe 2 yang menjalani pengobatan suntik insulin beberapa kali perhari atau pada pengguna obat antidiabetik oral guna memacu produksi insulin dari pankreas.

Kemudian pasien diabetes dengan kondisi tertentu, seperti perempuan yang merencanakan kehamilan atau perempuan hamil yang memiliki risiko hipoglikemia. Di samping itu, PDGM juga harus dilakukan oleh mereka yang menjadi penyandang diabetes dengan penyakit penyerta, seperti jantung koroner.

Dalam PDGM, masyarakat perlu mencatat hasil pemeriksaan yang dilakukan, termasuk tanggal dan jam guna membantu dokter memutuskan perlu tidaknya melakukan perubahan rencana pengobatan. Selain itu, masyarakat juga harus selalu membuang strip serta jarum lancet yang sudah digunakan ke wadah khusus agar tidak melukai orang lain.

Pada dasarnya, tidak ada patokan waktu yang tetap untuk melakukan tes ini karena lebih dipengaruhi faktor usia, penyakit penyerta, durasi menderita diabetes, serta terapi yang diberikan.

Umumnya waktu yang dianjurkan adalah sebelum makan, dua jam setelah makan dan menjelang tidur (sekitar pukul 22.00). PGDM dapat dilakukan setiap hari pada pasien dengan kendali gula darah yang buruk.

Sementara itu, pemantauan yang lebih jarang dapat dilakukan jika kadar gula darah terkontrol secara konsisten. Frekuensi dan waktu melakukan PGDM ditentukan secara individual melalui diskusi atau kesepakatan bersama antara dokter dengan penyandang diabetes.

Agar kadar gula darah bisa terkendali secara optimal, penanganan diabetesi perlu dilakukan dengan manajemen terpadu meliputi edukasi yang berkesinambungan, pengaturan pola makan sehat, melakukan aktivitas fisik teratur, penggunaan obat-obatan sesuai petunjuk dokter serta melakukan PGDM.

Secara teknis, saat melakukan PDGM, terlebih dahulu harus memastikan bahwa strip yang akan digunakan tidak kedaluwarsa. Kemudian memasukkan strip dalam glukometer yang sudah dalam posisi ON 3 serta membersihkan ujung jari dengan alkohol.

Setelah alkohol kering, lakukan pengambilan darah dan cukup satu tetes saja dengan menggunakan jarum steril (lancet). Lalu sentuh strip ke ujung jari yang terdapat tetesan darah dan setelah itu glukometer akan menginformasikan kadar gula dalam darah.

Pengguna harus menghindari pengambilan darah saat alkohol belum kering, alat stik dan strip yang sudah rusak atau kedaluwarsa atau faktor keterampilan penggunaan alat. Pasalnnya, hal itu dapat mengganggu fungsi glukometer. (Yoseph Pencawan)

Tag : diabetes
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top