Seluk-beluk Penanganan Cedera pada Lutut

Secara anatomi, terdapat empat ligamen utama pada lutut, yakni Anterior Cruciate Ligament (ACL), Posterior Cruciate Ligament (PCL), Medial Collateral Ligament (MCL), dan Lateral Collateral Ligament (LCL).
Yoseph Pencawan | 20 Mei 2018 11:38 WIB
Cedera lutut. - Bisnis.com

Cedera pada lutut bisa berdampak sangat signifikan terhadap keseluruhan aktivitas fisik karena bagian ini jadi penopang seluruh tubuh yang memungkinkan kita untuk berjalan, naik- turun tangga, berlari atau melompat.

Secara anatomi, terdapat empat ligamen utama pada lutut, yakni Anterior Cruciate Ligament (ACL), Posterior Cruciate Ligament (PCL), Medial Collateral Ligament (MCL), dan Lateral Collateral Ligament (LCL).

Menurut Direktur Pendidikan Konsultan Indonesian Hip & Knee Society Andre Pontoh, keempat ligamen itu berfungsi menjaga stabilitas sendi lutut. Selain itu, di sekitar lutut juga terdapat bantalan sendi (meniscus), beberapa otot serta tendon.

Dengan anatomi seperti itu, trauma pada lutut dapat menimbulkan cedera pada tulang, tulang rawan, bantalan sendi, ligamen, otot serta tendon. Gejala yang terjadi umumnya adalah nyeri, bengkak, kaku, atau sendi lutut menjadi tidak stabil.

Trauma pada lutut dapat dibedakan menjadi dua, langsung dan tidak langsung. Pada jenis pertama trauma ini terjadi karena dampak langsung pada sendi lutut, seperti terbentur benda keras.

Trauma jenis ini sering kali tidak dapat dicegah karena sebagian besar terjadi pada kejadian kecelakaan. Adapun dampak berat yang sering timbul adalah patah tulang.

Sementara itu, trauma tidak langsung terjadi karena dampak pada sendi lutut, seperti cedera akibat posisi lutut yang terpuntir saat mendarat setelah lompat dan berhenti atau berubah arah secara tiba-tiba saat berlari. Trauma jenis ini sering kali lebih serius daripada patah tulang, seperti kerusakan pada tulang awan, bantalan sendi dan ligamen.

“Penanganannya pun kerap memerlukan tindakan operasi,” ujar Andre Pontih.

Menurutnya, aktivitas seperti futsal, sepakbola, bola basket, bulutangkis, atau beladiri memiliki risiko tinggi trauma tidak langsung. Pasalnya, olahraga-olahraga tersebut kerap memaksa orang melakukan gerakan tiba-tiba pada lutut.

Untuk itu kita perlu tahu jenis aktivitas yang cocok untuk tubuh agar dapat terhindar dari cedera lutut. Bagi anda yang berusia di atas 40 tahun dia menganjurkan untuk menghindari olahraga high impact seperti futsal, sepak bola, bola basket, bulutangkis dan beladiri.

Pilihlah olahraga low impact, seperti jalan kaki, yoga, berenang dan bersepeda. Selain itu, lakukan pula beberapa latihan yang dapat memperkuat sendi lutut, seperti leg press, hamstring curls, single leg stance, heel rises, calf stretch dan hamstring stretch.

Dalam menangani berbagai masalah kesehatan lutut, Andre Pontoh menggunakan teknologi arthroscopy atau tindakan bedah dengan sayatan kecil yang didukung dengan bantuan komputer sehingga dapat menjaga akurasi dan presisi.

PERKAPURAN SENDI

Masih terkait dengan tulang, terdapat satu lagi masalah yang kerap dialami mereka yang sudah paruh baya, yakni perkapuran sendi (osteoarthritis/OA).

Perkapuran sendi tidak sama dengan pengeroposan tulang (osteoporosis/OP). OP adalah penyakit tulang dan tidak pernah menimbulkan rasa nyeri, kecuali jika terjadi patah tulang. Sementara itu, perkapuran adalah penyakit di dalam sendi.

Perkapuran tulang selalu menimbulkan nyeri, terutama di sendi lutut. Perkapuran pada sendi lutut biasanya akan timbul pada usia lebih dari 50 tahun. Pengobatan perkapuran (osteoarthritis/ OA) sendi lutut sangat beragam, tergantung dari tingkat keparahan perkapuran itu sendiri.

Menurut Andre pontoh, ada dua faktor yang sangat berpengaruh untuk terjadinya perkapuran sendi lutut, yakni usia (lebih dari 50 tahun) dan berat badan (gemuk). Bila pengobatan tidak memberikan hasil yang memuaskan, kadang-kadang diperlukan tindakan pembedahan/operasi.

Operasi untuk perkapuran sendi lutut yang sederhana adalah arthroscopy atau sering dikenal sebagai operasi ‘teropong sendi lutut’. Operasi ini akan membersihkan ‘kotoran’ yang dihasilkan oleh proses pengapuran.

Pada kasus perkapuran lanjut, sering kali pasien terpaksa harus menjalani operasi total knee arthroplasty (TKA) atau ‘ganti sendi lutut’ agar dapat kembali melakukan aktivitasnya.

Operasi penggantian lutut total bukanlah hal baru. Operasi ini telah dipraktikkan di seluruh dunia selama 40 tahun.

Operasi penggantian sendi lutut dilakukan dengan menggunakan sistem navigasi atau yang dikenal sebagai computer asissted surgery (CAS). Teknik CAS menggabungkan teknologi komputer canggih dengan keterampilan seorang dokter ahli bedah untuk membantu meningkatkan hasil dari operasi penggantian sendi lutut.

CAS merupakan operasi dengan menggunakan komputer sebagai pedoman dan alat validasi seperti pada sistem navigasi di mobil yang sekarang populer.

Sistem navigasi ini memberikan informasi-informasi penting kepada ahli bedah selama operasi berlangsung. Sistem menyediakan panduan posisi yang tepat saat dilakukan perbaikan sendi yang rusak berdasarkan anatomi pasien dan menyarankan ukuran alat yang sesuai untuk digunakan.

Tag : kaki bengkak, Cedera Lutut
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top