Itang Yunasz: Karena Busana Tak Punya Agama

Bertajuk Heaven yang ditampilkan dalam Ramadan In Style Plaza Indonesia, Itang berupaya mengantarkan pesan kebersamaan lantaran melihat saat ini negara seolah berada dalam kondisi kisruh politik.
Asteria Desi Kartika Sari | 01 Juni 2018 16:52 WIB
Koleksi Itang Yunasz - Magnifique PR

“Melihat porak-poranda politik di Indonesia [mendorong] saya mencari keindahan yang bisa disumbangkan,” tutur Itang Yunasz. Kata-kata tersebut mengantarkan pada sebuah makna yang ingin disampaikan desainer senior ini melalui koleksi busananya.

Bertajuk ‘Heaven’ yang ditampilkan dalam Ramadan In Style Plaza Indonesia, Itang berupaya mengantarkan pesan kebersamaan lantaran melihat saat ini negara seolah berada dalam kondisi kisruh politik.

Menurutnya perlu keindahan yang bisa merekatkan kebersamaan antar warga. “Agama tidak menjadi tolok ukur karena masing-masing memiliki apa yang dianut. Saya juga harus menghormati agama lain yang ada di sekitarnya,” kata Itang.

Meski mempertunjukkan koleksi busana muslim, namun Itang ingin agar busana yang dirancangnya bisa digunakan oleh siapapun dari agama apapun. Sejak 2000, fashion hijab terpaku pada gaya tunik. Itang Yunasz memberikan napas baru dengan menampilkan berbagai gaya fesyen yang trendy tetapi tetap bersahaja dengan pakem hijab.

Melalui sepak terjangnya menampilkan fesyen hijab di Indonesia membuat Itang dikenal sebagai trend setter di modest fashion. Oleh karena itu, tak heran para pecinta mode, selebritas, dan sosialita jatuh hati pada rancangannya yang mampu mengikuti tren namun tetap santun dan bersahaja.

Kali ini, melalui peragaan busana surga, Itang membagi koleksi tersebut dalam dua bagian yakni heaven on earth dan heaven sent dengan masing-masing 10 koleksi. Pada bagian pertama heaven on earth ditampilkan yang terinspirasi dari keindahanan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bagi Itang NTT diibaratkan sebagai keindahan surga di Indonesia. Warisan budaya NTT mampu menghasilkan sebuah kekayaan tradisi berupa beragam motif ikat yang memesona.

Sebanyak 10 tampilan busana etnik yang disajikan tetap memberikan kesan mewah dan anggun lewat berbagai potongan, di antaranya blus, tunik, rok, gaun, celana, legging, kulot, kaftan, hingga outer. Setiap helainya dapat saling dipadupadankan dengan berlapis.

Material utama tenun ikat NTT dipadukan dengan beragam kain seperti chiffon, crepe hingga satin sutera yang dicetak dengan desain motif ikat NTT. Sentuhan taburan manik-manik yang diolah mengikuti motif Sumba semakin mengentalkan napas mewah dalam koleksi yang didominasi warna cokelat kopi dan maroon itu.

Two pieces dan three pieces kaftan masih ada. Kaftan dibuat lebih bersiluet dengan sentuhan embellishment dengan bahan seperti organza silk dan beberapa embroidery,” paparnya.

Motif keluaran label premium ini tak jauh berbeda dengan corak yang pernah dikeluarkan Itang sebelumnya pada label yang menyasar kelas menengah yakni Allea.

Namun, pemilihan warna-warna gelap seperti cokelat dan maroon serta penambahan renda dan taburan manik-manik yang berkilauan membuat koleksi kali ini tampak lebih mewah dan elegan.

Sementara itu, koleksi heaven sent memiliki keseluruhan warna putih sebagai lambang keindahan surga. Pada koleksi ini, Itang lebih banyak menawarkan pilihan long dress, kaftan dan abaya serta outer yang melayang.

Kesan dari desain yang elegan, feminin namun tetap ringan tersebut semakin dipertegas dengan penggunaan sejumlah material seperti sutera chiffon, satin dan crepe yang dikombinasikan dengan lace dan manik-manik di beberapa bagian.

Itang menegaskan, kedua koleksi tersebut dikreasikan bagi siapapun yang akan tampil di depan umum. Tidak hanya bagi yang beragama Islam, tetapi semua orang apapun agamanya. “Kalau pakai kerudung jadi baju muslim. Tapi kalau dilepas bukan lagi busana muslim. Untuk lebih universal. Karena busana nggak punya agama,” tuturnya.

Tag : busana muslim
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top