Ini Efek Penerbangan Jarak Jauh bagi Tubuh

Menurut data Compare Travel Insurance, efek dari duduk di pesawat terutama pada penerbangan jarak jauh (long haul) dapat membuat hal-hal tak mengenakkan bagi penumpang, seperti sinus dan sakit perut.
JIBI | 18 Juni 2018 07:03 WIB
Ilustrasi efek samping penerbangan jarak jauh. - Dailymail

Bisnis.com, YOGYAKARTA —Merasa berada di ruang sempit dan terjepit di antara kursi-kursi, antrean tak berujung dan merasa hambar saat menyantap sajian makanan adalah beberapa hal yang dialami orang saat terbang. Itu hal yang lazim terjadi pada tubuh. Jadi apa sih yang sebenarnya terjadi pada tubuh manusia selama penerbangan?

Menurut data Compare Travel Insurance, efek samping dari duduk berlama-lama di pesawat terutama pada penerbangan jarak jauh (long haul) dapat membuat hal-hal tak mengenakkan bagi penumpang, seperti sinus dan sakit perut.

Lebih dari sepertiga selera makan akan hilang saat terbang pada ketinggian yang tinggi karena berkurangnya cairan dan perubahan tekanan udara yang mempengaruhi telinga, sinus dan indra perasa.

Lebih mengejutkan, laporan itu menyatakan perut Anda akan mengembang karena perubahan tekanan udara yang menyebabkan kembung, pengin kentut, sakit perut hingga sembelit saat buang air.

Jika Anda dalam penerbangan selama tiga jam, sebanyak 1,5 liter air akan terhidrasi dari tubuh karena tingkat kelembaban yang rendah. Hidung, mulut dan tenggorokan pun tak ayal akan berasa kering.

Temperatur udara di luar yang dinginnya bisa 100 kali, ditambah pendingin ruangan di dalam kabin, mempermudah penyebaran kuman dan virus di lorong kabin.

Untuk mengurangi efek perasaan buruk saat menjalani penerbangan jarak jauh, penumpang bisa mengatasinya denga menghindari alkohol dan minum banyak air, menjaga tangan tetap lembab dan berjalan di sekitar kabin untuk mengurangi pembengkakan kaki.

Baru-baru ini, sebuah laporanmenunjukkan ada empat kali potensi kemarahan di penerbangan ketika penumpang ekonomi masuk ke lorong kelas utama.

“Pesawat modern adalah mikrokosmos masyarakat sosial berbasis kelas, dan bahwa meningkatnya insiden kemarahan udara ini bisa dipahami melalui lensa ketidaksetaraan,” jelas penulis study itu, Katherine DeCelles dari University of Toronto dan Michael Norton dari Harvard Business School, seperti dikutip news.com.au. (Harian Jogja/JIBI/Nugroho Nurcahyo)

Sumber : Compare Travel Insurance

Tag : peran
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top