Ini Penyebab Kebutaan di Indonesia

Katarak menjadi penyebab kebutaan terbanyak di Indonesia yaitu sebanyak 81%. Demikian hasil survey kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014 hingga 2016 di lima belas provinsi dengan sasaran populasi usia 50 tahun ke atas.
Dewi Andriani | 03 Oktober 2018 15:16 WIB
Katarak penyebab utama kebutaan di Indonesia - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Katarak menjadi penyebab kebutaan terbanyak di Indonesia yaitu sebanyak 81%. Demikian hasil survey kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014 hingga 2016 di 15 provinsi dengan sasaran populasi usia 50 tahun ke atas.

Survey tersebut juga menyebutkan bahwa prevalensi kebutaan mencapai 3% atau sekitar 6,4 juta orang.  Dari angka tersebut 1,3 juta diantaranya mengalami kebutaan berat yaitu tidak dapat melihat atau menghitung jari dalam jarak antara 3 meter. Sementara itu, 5,1 juta lainnya mengalami gangguan penglihatan sedang dan berat.

“Dari 1,3 juta yang mengalami kebutaan tersebut, 1 jutanya disebabkan katarak. Kabar gembiranya 80% penyebab kebutaan ini masih bisa diobati,” ujar Wakil Ketua Komite Mata Nasional (Komatnas) Aldiana Halim

Selain katarak, kebutaan juga dapat disebabkan oleh kelainan segmen posterior non RD 5,8%, kekeruhan kornea non trachoma 2,8% kelainan bola mata/SSP abnormal 2,7%, glaukoma 2,5% dan kelainan refraksi 1,7%.

Adapun prevalensi gangguan penglihatan mata menurut Riskesdas Tahun 2013, diperkirakan 0,4% penduduk Indonesia mengalami kebutaan atau gangguan penglihatan.  

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI, Anung Sugihantono, M.Kes mengatakan untuk menanggulangi gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia, pemerintah akan meluncurkan Sistem Informasi Penanggulangan Gangguan Penglihatan Nasional yang disingkat “SIGALIH.

"Ini merupakan suatu sistem informasi yang berbasis web/android untuk melaporkan pencatatan dan pelaporan skrining gangguan penglihatan warga negara Indonesia yang melakukan deteksi dini di Posbindu,” ungkapnya.

Sistem ini juga diharapkan akan terhubung dengan Rumah Sakit sehingga akan dapat diketahui tindak lanjut terhadap pasien yang telah dirujuk.

Kemenkes juga mengimbau seluruh instansi pemerintah, swasta, dan seluruh lapisan masyarakat agar berpartisipasi dalam mendukung peringatan Hari Penglihatan Sedunia dan ikut mengampayekan kepedulian terhadap gangguan penglihatan dan kebutaan sejak dini.

“Gangguan penglihatan ini perlu diobati sejak awal karena meski tidak mengancam jiwa tetapi dapat menurunkan kualitas dan produktifitas masayarakat,” ujarnya.

Acara puncak Hari Penglihatan Sedunia akan dilaksanakan pada 11 Oktober 2018 di Surabaya. Dalam acara ini akan dicanangkan Sigalih oleh Menteri Kesehatan.

Tag : katarak
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top