Hindari Penyakit Menular dengan Cermat Baca Takaran saji

Jumlah penderita lenyakit tidak menular Indonesia semakin meningkat.
Dewi Andriani | 24 Oktober 2018 03:32 WIB
Ilustrasi - fitnessformen.co.id
Bisnis.com, JAKARTA -- Jumlah penderita lenyakit tidak menular Indonesia semakin meningkat.
Jumlah penderitanya bukan lagi hanya orang dengan lanjut usia, generasi usia produktif pun mulai banyak yang menderita di usia muda.
Hal ini tak lepas dari gaya hidup tidak sehat serta pola makan dan minum dengan jumlah kalori berlebih. Ditambah lagi kebiasaan yang ingin serba instan sehingga membuat malas bergerak dan berolahraga.
Apalagi dengan banyaknya pilihan makanan dan minuman kemasan atau siap saji yang masih sering dikonsumsi di luar makanan pokok. Bahayanya, kandungan kalori pada makanan dan minuman kemasan tersebut ternyata cukup tinggi. 
Karenanya, penting untuk cerdas membaca dan mengerti label nutrisi, terutama dalam minuman siap saji yang terkadang terlihat ringan namun tidak sesuai dengan kebutuhan kita.  Pemerintah sudah membuat anjuran berupa Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk mengetahu banyaknya kalori yang dibutuhkan sesuai jenis kelamin.
Ujang Sumarwan, Ahli Consumer Behavior dari Institut Pertanian Bogor mengatakan bahwa beragam masalah kesehatan di Indonesia diantaranya dipicu oleh ketidakseimbangan asupan gizi. 
Menurutnya konsumen biasanya memilih makanan dan minuman berdasarkan rasa yang disukai sehingga tidak lagi memperhatikan kandungan nutrisi yang ada di dalamnya. Tak heran bila sebagian besar masyarakat Indonesia mengalami kelebihan gula dan garam yang menjadi penyebab utama munculnya penyakit tidak menular
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 lebih dari 13% masyarakat Indonesia berusia 19 tahun ke atas mengonsumsi gula berlebih yaitu di atas 50 gram per hari atau setara dengan empat sendok makan.
Selain itu yang tak kalah tinggi adalah konsumsi garam berlebih sebesar 52,7% warga Indonesia mengonsumsi lebih dari 2000 miligram  natrium per hari atau 5 gram garam setara dengan 1sendok the. Ternyata, DKI Jakarta merupakan yang terbanyak yaitu 65,4% warganya mengonsumsi garam berlebih.
Adapun 26,5% warga kelebihan konsumsi lemak sebesar 67 gram per hari atau 5 sendok makan. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya asupan sayur dan buah, serta kurangnya berolahraga.
“Kelebihan ini bisa berasal dari konsumsi makanan dan minuman kemasan atau siap saji yang ternyata memiliki kandungan gula dan garam berlebih,” ujarnya. 
Sementara itu, dokter ahli gizi Rimbawan mengatakan saat memilih makanan dan minuman siap saji, penting bagis konsumen untuk memperhatikan takaran saji, angka kecukupan gizi, serta kandungan nutrisinya, terutama kandungan Gula, Garam, dan Lemak.  
Sebab, jika jumlah yang dikonsumsi melebihi kebutuhan harian akan menimbulkan risiko berbagai penyakit tidak menular seperti, hipertensi, stroke, diabletes, dan serangan jantung.
“Masyarakat sebenarnya dapat dengan mudah menemukan informasi ini, dalam box Informasi Nilai Gizi yang ada pada kemasan makanan dan minuman,” ujarnya.
Menurutnya, jika konsumen lebih cermat memilih makanan dan minuman kemasan yang akan dikonsumsi, maka penyakit-penyakit tersebut dapat dihindari. Hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah kandungan zat gizi dan energy, selain itu pilihlah makanan dan minuman dengan kandungan gula dan natrium yang paling rendah. 
Namun yang perlu diperhatikan juga kadang kala dalam kemasan tersebut yang disajikan bukanlah jumlah kandungan gizi per kemasan tetapi per keping size sehingga perlu lebih cermat dalam memilih.
Rimbawan menambahkan masyarakat juga perlu mengonsumsi air minum yaitu minimal 8 gelas per hari. Sebab, air memiliki sifat melarutkan dan menjadi dasar metabolisme di dalam tubuh. “Kalau konsumsi terlalu banyak garam maka tekanan darah akan meningkat maka untuk menurunkan dan menstabilkan metabolism dibutuhkan air,” tuturnya.
Jika seseorang kekurangan cairan, selain dapat menyebabkan dehidrasi juga akan meningkatkan daya ingat dan konsentrasi. Hal tersebut terjadi karena cairan di dalam tubuh berfungsi untuk menghantarkan sinyal dan pesan ke saraf sehingga ketika kekurangan cairan maka perjalanan sinyal tersebut akan terhambat yang dapat membuat seseorang kehilangan konsentrasi.
Cairan tersebut menurutnya tidak hanya berasal dari air putih saja tetapi bisa juga dari minuman berwarna, buah-buahan, dan kuah dari makanan. 
Hydration Science Director PT. Tirta Investama Tria Rosemiarti mendukung pentingnya menumbuhkan kesadaran dan perhatian masyarakat terkait asupan nutrisi tubuh yang sehat dan seimbang.
“Kami ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih cermat dalam memperhatikan dan memahami nutrisi yang dikonsumsi tiap harinya terutama yang terkandung pada minuman kemasan untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan memulai pola hidup yang lebih sehat. Untuk itu diperlukan edukasi terkait hal ini, agar masyarakat dapat secara cerdas mengetahui alternatif makanan dan minuman mana yang sebaiknya mereka konsumsi,” ujarnya
Tag : penyakit tidak menular
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top