IFW 2019: Demi Pertumbuhan Industri Fesyen Berkelanjutan

Fashion Week (IFW) 2019 dinilai menjadi festival fesyen yang cukup memberikan dampak positif bagi ekositem industri pertekstilan dan industri kreatif. Selain itu ajang mode ini juga berkomitmen untuk mempromosikan industri berkelanjutan.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 28 Maret 2019  |  23:28 WIB
IFW 2019: Demi Pertumbuhan Industri Fesyen Berkelanjutan
Model memperagakan busana karya anggota Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dalam pembukaan Indonesia Fashion Week 2019, di Jakarta, Rabu (27/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia Fashion Week (IFW) 2019 dinilai menjadi festival fesyen yang cukup memberikan dampak positif bagi ekositem industri pertekstilan dan industri kreatif. Selain itu ajang mode ini juga berkomitmen untuk mempromosikan industri berkelanjutan.

Hal ini sejalan dengan peluncuran United Nations Alliance for Sustainable Fashion at the UN Environtment Assembly di Nairobi, Kenya pada 14 Maret 2019 lalu.

APPMI selaku penyelenggara menggandeng UN untuk berpartisipasi dalam pekan mode yang digelar selama 5 hari di Jakarta Convention Center (JCC). Hal ini untuk mengampanyekan Sustainable Development Goals kepada peserta dan pengunjung IFW 2019.

Berdasarkan studi UN Environtment, industri mode merupakan pengguna air terbesar di dunia. Industri ini juga menghasilkan sekitar 20 persen air limbah di seluruh dunia dan melepaskan setengah juta ton serat mikro sintetis ke laut setiap tahunnya.

Selain itu masyarakat modern saat ini membeli 60 persen lebih banyak pakaian dibandingkan 15 tahun yang lalu. Namun, setelah dibeli separuh pakaian disimpan di dalam lemari.

Presiden IFW Poppy Dharsono menjelaskan mode merupakan industri kreatif yang sangat penting untuk menyokong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan, industri mode juga membantu menumbuhkan industri pariwisata. Kami sadar jika keberlangsungan bisnis adalah hal yang penting, karena itu kami mendukung UN Nations Alliance for Sustainable Fashion," ujar Poppy, Kamis (28/3/2019).

Dalam kesempatan ini UNESCO, UN Women, UNHCR, UNDP, ILO, UNICEF, UNAIDS, IGCN (Indonesia Global Compact Network) dan Connect4Climate Grup Bank Dunia mengajak peserta pameran untuk terlibat langsung dalam dialog terkait rantai pasok garmen.

Presiden IGCN Y.W. Junardy menjelaskan IGCN sangat mendukung langkah APPMI untuk mempromosikan dan menjalankan industri mode yang berkelanjutan.

"Ini sejalan dengan sepuluh prinsip yang dimiliki UN Global Compact meliputi hak asasi manusia, tenaga kerja, lingkungan hingga anti korupsi," katanya.

Pihaknya mendorong perusahaan yang terkait dengan industri fashion untuk mempromosikan bisnis yang bertanggung jawab untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan," ujar dia.

Dalam gelaran IFW, UN Global Compact Network juga akan memberikan informasi terkait UN Alliance for Sustainable Fashion dan berupaya mendukung industri.

Ini dengan melibatkan langsung produsen tekstil dan garmen, desainer, produsen, pemasok, pengecer, pembeli, distributor, penyedia layanan dan logistik serta asosiasi perdagangan dan industri.

Pekan mode ini juga memungkinkan International Labour Organization (ILO) untuk memberikan edukasi kepada produsen garmen dan pedagang tentang bagaimana caranya memberikan pekerjaan yang layak.

Kemudian bagi FAO akan memperkenalkan Blue Fashion kepada produsen tekstil dan meningkatkan kualitas manufaktur.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
indonesia fashion week

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top