Empat Metode Puasa untuk Turunkan Berat Badan dan Cegah Penuaan Dini

Puasa intermiten menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir. Pengaturan pola makan ini diklaim efektif menurunkan berat badan, meningkatkan kesehatan usus dan lambung, mencegah penuaan dini, hingga memperpanjang usia.
JIBI | 11 Mei 2019 13:36 WIB
Penuaan dini - youglo.co

Bisnis.com, JAKARTA - Puasa intermiten menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir. Pengaturan pola makan ini diklaim efektif menurunkan berat badan, meningkatkan kesehatan usus dan lambung, mencegah penuaan dini, hingga memperpanjang usia.

Metode diet merupakan pengaturan pola makan yang menerapkan siklus puasa. Anda hanya diperbolehkan makan dalam jangka waktu tertentu dalam sehari, tapi tidak membatasi jenis makanannya. 

Pakar gizi dan praktisi diet dokter Jaime Rose Chambers mengatakan, puasa intermiten seperti bukan diet. Ketika berada pada waktu makan, Anda dapat menikmati makanan bergizi seperti biasa, tidak ada kelompok makanan tertentu yang harus dihindari, kecuali dengan alasan kesehatan.

“Sebagai pencinta makanan dan seluruh karier saya seputar hal ini, saya sangat senang dengan pola ini,” kata dia seperti dikutip Vogue Australia.

Pola diet puasa intermiten ini sebenarnya mirip dengan ibadah puasa wajib dan sunnah yang sering dijalani umat Islam. Meski disebut aman, jenis diet ini tidak dianjurkan untuk orang dengan penyakit tertentu.

Ada beberapa jenis atau metode yang tersedia, orang bisa memilih sesuai dengan tujuannya. Berikut empat metode puasa intermiten yang paling banyak diikuti.

  1. Metode 16:8 setiap hari

Anda hanya memiliki waktu makan 8-10 jam, sedangkan 14-16 sisanya berpuasa. Selama waktu makan, Anda bisa memiliki dua kali makan besar. Metode yang dipopuerkan pakar fitness Martin Berkhan ini durasinya sama dengan ketika menjalani ibadah puasa Ramadan, hanya saja kebanyakan orang memilih waktu yang berbeda.

Sederhananya, Anda tidak mengonsumi makanan atau minuman apa pun setelah makan makam, juga melewatkan sarapan. Misalnya, jika Anda makan malam pukul 8 maka makan berikutnya adalah pukul 12 siang keesokan harinya. Anda tidak dilarang makan apa pun, tapi penting untuk makan makanan sehat. Konon metode ini tidak berfungsi dengan baik ketika Anda mengonsumsi makanan cepat saji atau makanan tinggi kalori lainnya. 

  1. Metode 5:2 atau dua kali sepekan

Ketika menjalankan diet ini, Anda makan seperti biasa selama lima hari dalam sepekan, dua hari sisanya membatasi makan hanya 500-600 kalori. Metode yang dikenal dengan diet puasa ini mirip dengan puasa Senin – Kamis. Di hari puasa, Anda haya punya dua waktu makan dengan masing-masing 250 kalori untuk wanita dan 300 kalori untuk pria. Diet ini dipopulerkan jurnalis yang juga dokter di Inggris, Michael Mosley.

  1. Eat-Stop-Eat, puasa 24 jam satu atau dua kali sepekan

Dipopulerkan pakar fitness Brand Pilon, diet ini mengharuskan Anda berpuasa selama 24 jam sebanyak sekali atau dua kali sepekan. Misalnya, jika Anda makan malam terakhir di pukul 7 malam, maka Anda makan lagi pada pukul 7 malam hari berikutnya.

Anda juga bisa memilih tidak makan dari makan siang ke makan siang hari berikutnya, atau sarapan ke sarapan berikutnya. Hasilnya akan sama. Beda dengan puasa, ketika menjalani diet ini Anda diperbolehkan mengonsumsi minuman non-kalori atau tanpa gula.

  1. Puasa selang seling

Anda akan berpuasa selang seling, mirip puasa Daud. Artinya, jika hari ini berpuasa makan besok tidak. Ada beberapa versi diet ini, ada yang tidak makan sama sekali di hari puasa, ada juga yang hanya mengonsumsi makanan sekitar 500 kalori.

 

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Puasa, penuaan, berat badan, panjang umur

Sumber : Tempo.Co

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup