Dermatitis Atopik Tak Kenal Umur dan Gender

Salah satu kelainan kulit atau eksim yang paling sering terjadi adalah dermatitis atopik. Kondisi ini sering terjadi pada bayi, anak, dan orang dewasa.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 02 September 2019  |  15:03 WIB
 Dermatitis Atopik Tak Kenal Umur dan Gender
dermatitis atopik

Bisnis.com, JAKARTA—Salah satu kelainan kulit atau eksim yang paling sering terjadi adalah dermatitis atopik. Kondisi ini sering terjadi pada bayi, anak, dan orang dewasa.

Kejadiannya juga tidak bergantung pada usia dan gender, siapa saja bisa mengalami eksim jenis ini. Penyakit kulit kronis ini ditandai dengan kulit yang meradang, gatal, kering, dan pecah-pecah.

Perhimpunan Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) merumuskan gejala dermatitis atopik juga meliputi rasa gatal yang luar biasa dan terjadi pada area tertentu seperti punggung, wajah, tangan, leher, dan kaki. Penyakit kulit ini juga biasanya terjadi menahun alias kronis. Dermatitis atopik dibagi menjadi 3 fase klinis berdasarkan usia yakni fase infantil atau bayi, fase anak-anak, dan fase dewasa.

Setiap fase memiliki lokasi kelainan yang berbeda. PERDOSKI mengkategorikan bahwa pada bayi dermatitis atopik ditandai dengan bruntus kemerahan di pipi dan kulit kepala. Bercak dermatitis atopik juga bisa basah karena adanya pengeluaran cairan kulit.

Sementara pada anak, dermatitis atopik bisa terjadi dalam waktu yang sangat panjang, ditandai dengan bruntus kemerahan disertai sisik halus di lipat siku, lipat lutut, seputar bibir, dan pipi. Pada orang dewasa kelainan ini bisa menyerang hingga ke jari dan terjadi juga penebalan kulit bahkan bercak kehitaman.

Banyak orang yang salah kaprah dengan menyamakan dermatitis atopik dengan alergi. Hal ini mungkin terjadi karena gejala alergi biasanya juga ditandai dengan keluhan gatal di kulit. Padahal, walau gejalanya terlihat sama tidak semua penderita alergi adalah penderita dermatitis atopik maupun sebaliknya.

Prevalensi penderita dermatitis atopik memang cukup tinggi. Menurut data World Allergy Organization 2018, angka kejadian dermatitis atopik pada anak mencapai 30%, sementara pada orang dewasa 10% dari populasi dunia. Sementara itu, di Indonesia prevalensi dermatitis atopik pada anak cukup tinggi yakni 23,67%.

Dokter spesialis kulit dan kelamin Anthony Handoko, CEO Klinik Pramudia di Jakarta menjelaskan bahwa dermatitis atopik merupakan penyakit kulit yang diturunkan secara herediter. “Sehingga sebaiknya kita tidak menggunakan terminologi sembuh dalam penanganannya, tetapi penanganan yang terkontrol,” ujarnya.

Pencetus dermatitis atopik, kata Anthony, bisa saja terjadi karena cuaca panas, perubahan cuaca,keringat berlebih, debu, daya tahan tubuh menurun, stres, bahkan gigitan serangga. “Penderita dermatitis atopik cenderung memiliki kulit yang kering dengan gejala utama merah dan gatal,” katanya lagi. Penderita penyakit ini juga biasanya memiliki gejala penyerta seperti hidung meler atau bersin pada pagi hari (rhinitis allergica), mata merah (onjunctivitis allergica), dan asma.” 

Banyak mitos yang beredar di masyarakat bahwa untuk mengatasi eksim adalah dengan mandi air panas, minum darah ular, dan menggunakan pakaian tebal. Padahal menurutnya, pengobatan dermatitis atopik itu harus disesuaikan dengan fase penyakit serta keparahan penyakitnya.

“Pada anak dan remaja, harus dilihat fase penyakitnya apakah sedang aktif atau sedang fase maintenance,” tambahnya. Pemberian obat-obatan yang mengandung zat aktif seperti kortikostereoid, tacrolimus, pimecrolimus biasanya dilakukan untuk mengatasi kondisi ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kulit

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top