Memanen Cuan Dari Tanaman Langka

Pemilik bisnis Kebunnya Binar Bumi, Nurlia Juwita memutuskan untuk berhenti bekerja dari kantor media nasional pada 2016. Keputusan tersebut dilakukan dengan penuh secara dadakan.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 07 September 2019  |  14:32 WIB
Memanen Cuan Dari Tanaman Langka
Kunyit merupakan tanaman obat - Antara

Bisnis.com, BOGOR--Pemilik bisnis Kebunnya Binar Bumi, Nurlia Juwita memutuskan untuk berhenti bekerja dari kantor media nasional pada 2016. Keputusan tersebut dilakukan dengan penuh secara dadakan.

Bagi Juwiita, cukup sulit untuk mencari pengasuh anak-anak di Bogor yang bersedia bekerja pada pagi hari hingga larut malam. Bilapun ada pengasuh, maka hanya bersedia bekerja hingga pukul 20.00 WIB.

Perempuan yang akbrab disapa Wita, memutuskan untuk menggantung pena dan kamera. Dia pun mencari aktivitas yang bisa menghasilkan uang, sembari menjaga anaknya.

Awalnya, Wita menjual bibit dalam kemasan kecil dengan harga Rp5.000 per kemasan. Menjual bibit dalam kemasan kecil membuatnya berinteraksi terbatas dengan pembeli. Ide baru pun muncul, sehingga dia memutuskan untuk menjual tanaman-tanaman herbal.

Tanaman-tanaman yang pertama sekali dijajakan adalah sirih hijau, sirih merah, sambiroto dan bratawali, kumis kucing, daun kelor dan lain-lain. Tanaman lain yang dijual adalah bumbu-bumbu dapur seperti jahe, kunyit, pandan, lengkuas dan lain-lain.

Aktivitasnya merawat anak kini bertambah dengan merawat tanaman. Berperan sebagai ibu rumah tangga yang bertugas penuh di rumah menjadikannya lebih telaten dalam merawat tanaman, sehingga Wita dan suaminya sering hunting ke petani-petani sekitar rumah untuk melihat proses pembibitan sekaligus membeli pohon.

Saat menjadi penjual tanaman, Wita harus memperhatikan cara memperlakukan tiap-tiap tanaman. Tanaman mana saja yang bisa hidup dengan sinar matahari penuh, lembab dan teduh. Selain memahami cara memperlakukan tanaman, Wita mempelajari hama apa saja yang bisa menyerang tanaman yang sedang dipelihara.

Ilmu menanam dan merawat diperoleh dari petani sekitar rumah dan internet. Pada tahun pertama, pemesan tanaman datang dari wilayah Jabodetabek. Beruntung, lokasi tempat tingga Wita di Bogor semakin memudahkannya untuk mencari tanaman dengan harga murah, langsung dari petani tangan pertama.

Saat pertama kali mengirim tanaman ke luar kota, beberapa kali tanaman mati sebelum sampai ke tangan pembeli. Kerugian atas tanaman yang mati, dianggapnya sebagai biaya belajar memperlakukan tanaman.

Setelah sempat gagal mengirim tanaman selamat sampai ke tangan pembeli. Wita pun pernah hampir menyerah untuk berbisnis tanaman.

“Saat awal-awal menjual tanaman, ada beberapa pembeli order tanaman di sekitar Jabodetabek. Karena sangkin bersemangatnya, saya dan suami merental mobil pick-up untuk mengantar tanaman ke Tangerang dan Parung Bogor. Tetapi ada beberapa kekacauan yang tak diinginkan,” ungkapnya saat ditemui Bisnis di Bogor.

Entah beberapa kali Wita dan keluarganya kesasar untuk menemui pembeli ke Tangerang. Uang dari penjualan tanaman dari Tangerang digunakan untuk melepas lelah dan mengajak anak-anak bersama suami makan siang, sebelum melanjutkan perjalanan lagi.

Usai istirahat, Wita dan keluarga melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Namun, kondisi fisik kedua anaknya menjadi kurang karena letih di perjalanan.

Dua anaknya yang diberi nama Binar dan Bumi muntah di dalam mobil. Merengek-rengek minta pulang sambil menangis pun dilakukan oleh kedua anaknya. Wita dan suami kebingungan, ditambah lagi ada beberapa pesanan tanaman yang masih belum diantar.

Tangisan di dalam mobil berpadu dengan terik yang menyengat. Malang, tabrakan dengan tak terelakan. Pick-up yang disewa oleh Wita menabrak satu mobil pribadi.

Spontan. Pemilik mobil pribadi yang merasa dirugikan, membentak suami Wita dengan suara keras dan meminta ganti rugi hingga Rp2 juta. Bingung. Tak ingin Binar dan Bumi melihat ayahnya dibentak-bentak oleh orang lain dan menciptakan memori buruk, maka Wita langsung memberikan cincin kawin kepada pemilik mobil. Mereka pun saling bertukar nomor ponsel.

Namun, sikap Wita mengambil jalan tengah dengan memberikan cincin perkawinan memancing kekesalan suaminya. Tak mau ribut di jalan dan memberikan kesan buruk kepada anak-anak menjadi alasan kuatnya.

Mereka berdua masuk ke dalam mobil untuk berdiskusi. Akhirnya, Wita pulang membawa dua anaknya yang keletihan dan muntah-muntah. Sementara suaminya, pergi mengantar tanaman dan ke bengkel untuk memperbaikan bekas tabrakan pada mobil pick-up yang dipinjam.

Selang dua minggu kemudian, Wita dihubungi oleh orang yang membawa cincin pernikahannya dan menyampaikan bahwa mobil yang ditabrak telah diperbaiki dan meminta ditransfer uang senilai Rp500.000 agar cincinya dikembalikan. Dia pun melakukannya.

Pengalaman tersebut masih sangat jelas tergambar dalam ingatan Wita dan suaminya. Baginya, pengalaman adalah guru yang berharga. Belajar dari mengirim tanaman yang mati dijalan hingga kecelakaan di jalan, menjadikannya lebih kuat dan gigih belajar.

Baginya butuh waktu sekitar dua tahun untuk merawat tanaman. Beruntung, buah dari keseriusan menjual tanaman mulai terlihat dari omset. Hingga saat ini, Kebunnya Binar Bumi mampu mengantongi omset sekitar Rp45 juta—Rp50 juta per bulan.

Kebunnya Binar Bumi juga memiliki pohon-pohon langka yang tidak diperjual belikan dan hanya diperbolehkan mengkonsumsi buah di tempat antara lain tanaman nanam, rukem, jamblang, kerduduk dan anggur Brazil. Kini Wita bersyukur masih bisa menghasilkan uang sambil menjaga anak-anaknya.

 

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Tanaman Obat

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top