Kenali Gejala Obesitas Anak dan Cara Menghindarinya

Sebagaimana diketahui, obesitas pada anak akan mempermudah terjadinya penyakit-penyakit pada anak-anak seperti resitensi insulin dan DM tipe 2, hipertensi, hiperlipidemia, gangguan jantung, gangguan pada hati dan ginjal, gangguan pada sendi.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 11 September 2019  |  05:45 WIB
Kenali Gejala Obesitas Anak dan Cara Menghindarinya
Angka pada timbangan mengindikasikan gemuk atau tidak - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Kasus obesitas pada anak yang baru-baru ini muncul di Karawang menimbulkan kekhawatiran bagi kesehatan anak pada masa depan.

Sebagaimana diketahui, obesitas pada anak akan mempermudah terjadinya penyakit-penyakit pada anak-anak seperti resitensi insulin dan DM tipe 2, hipertensi, hiperlipidemia, gangguan jantung, gangguan pada hati dan ginjal, gangguan pada sendi.

Keluhan-keluhan yang sering muncul pada anak-anak yang mengalami obesitas adalah gangguan bernafas, sleep apnue (sesak nafas saat tidur), gangguan konsentrasi, mudah lelah yang tentunya akan menurunkan kemampuan belajar dan ketidakmampuan untuk memobilisasi diri sendiri.

Jika obesitas anak ini terabaikan maka pada akhirnya akan menurunkan kualitas angkatan kerja Indonesia pada masa mendatang dan menurunkan kemampuan negara dalam berkompetisi di tingkat dunia.

Michael Triangto, dokter spesialis kedokteran olahraga di RS Mitra Kemayoran dan Direktur Slim and Health Sport Centre Jakarta menuturkan, untuk mengatasi obesitas pada pasien dewasa adalah dengan mengurangi asupan kalori melalui program diet yang sehat dan meningkatkan aktivitas fisik, akan tetapi hal ini tidak dapat langsung di aplikasikan pada anak karena mereka bukanlah miniatur orang dewasa.

“Oleh sebab itu perlu disiapkan strategi khusus dalam mengatasi kasus ini dan bukan hanya diselesaikan dengan jalan operasi bariatrik,” tulisnya dalam keterangan resmi, Selasa (10/9/2019).

Michael Triangto menyampaikan strategi yang harus dilakukan untuk mengatasi obesitas anak adalah:

  1. Mengubah pola makan yang ada dan bukan dengan diet ketat semata karena pasiennya adalah anak yang masih membutuhkan pertumbuhan tubuh yang optimal.
  2. Meningkatkan aktivitas fisik dalam bentuk permainan dan bukan latihan beban yang nantinya meningkatkan resiko cedera (perlu diingat bahwa mereka meski bertubuh “bongsor” tetapi sebenarnya pertumbuhannya masih belum selesai). Selain itu, orang dewasa juga harus menjaga motivasi anak untuk mau tetap melakukan aktivitas fisik karena latihan yang dilakukan dirasakan sebagai bagian dari permainan dan bukan keharusan melakukan olahraga.
  3. Meningkatkan motivasi melalui pendidikan yang mampu dipahami okeh sang anak agar ia tetap mau melakukan diet juga aktivitas fisik secara teratur.
  4. Mendidik orangtua anak agar tidak selalu mengizinkan apa yang diminta atau direngekkan oleh anaknya. Hal ini penting untuk disadari oleh orang tua karena salah satu faktor terjadinya obesitas pada anak mereka adalah karena seringkali para orangtua membebaskan anaknya untuk mengonsumsi makanan dengan memberikan uang jajan tanpa mempertimbangkan faktor gizi yang perlu dan tidak perlu dikonsumsi oleh sang anak.
  5. Untuk menunjang keberhasilan program ini tentunya harus dibentuk tim yang terdiri dari berbagai bidang keilmuan baik kedokteran maupun yang diluar kedokteran.

Michael menambahkan, berbagai tahapan pengobatan yang harus dijalani oleh pasien obesitas tidak hanya memakan waktu, tenaga, kesabaran namun juga dana yang besar, maka pencegahan terjadinya obesitas menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan.

Hal ini hanya dapat dilakukan dengan baik bilamana negara turut serta dalam mengatasinya dengan mendorong terlaksananya edukasi pada masyarakat dan kerjasama lintas sektoral karena masalah obesitas dan kesehatan ini erat kaitannya dengan bidang industri, ekonomi, hukum, Iptek, telekomunikasi dan bidang-bidang lainnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
obesitas

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top