Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Vape Sebabkan Penyakit Paru Langka

Dokter yang memiliki pasien dengan penyakit paru langka umumnya menyebut hal ini terjadi karena eksposur dari material besi, namun kemungkinan besar dalam waktu dekat penyakit ini juga akan diderita oleh pengguna rokok eletrik atau vape.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 07 Desember 2019  |  06:12 WIB
Seorang pria menggunakan vape di Brodway, New York City, AS, Senin (9/9/2019). - Reuters/Andrew Kelly
Seorang pria menggunakan vape di Brodway, New York City, AS, Senin (9/9/2019). - Reuters/Andrew Kelly

Bisnis.com, JAKARTA – Dokter yang memiliki pasien dengan penyakit paru langka umumnya menyebut hal ini terjadi karena eksposur dari material besi, namun kemungkinan besar dalam waktu dekat penyakit ini juga akan diderita oleh pengguna rokok eletrik atau vape.

Vape dipasarkan dengan embel-embel sebagai alternatif produk tembakau tradisional dan solusi bagi mereka yang ingin berhenti merokok. Namun, ternyata vape menimbulkan kematian tinggi dan peringatan kesehatan, khususnya di Amerika Serikat.

Dikutip dari Channel News Asia, peneliti dari University San Fransisco mengungkap pneumoconiosis, jenis penyakit yang umumnya ditemukan pada orang yang terpapar partikel debu logam seperti kobalt dan tungsten yang digunakan dalam pemolesan berlian ternyata berisiko pada pengguna vape.

Penyakit ini umumnya memiliki gejala batuk terus menerus, sulit bernapas dan meninggalkan luka pada jaringan paru.

"Pasien tidak diketahui pernah terpapar debu logam keras, jadi kami mengidentifikasi penggunaan rokok elektronik sebagai kemungkinan penyebabnya," ujar Kirk Jones, Profesor Klinis Patologi di UCSF.

Studi kasus, yang diterbitkan dalam European Respiratory Journal memang mengungkap, jika rokok elektronik yang dikonsumsi berbahan ganja, maka kandungan kobalt, nikel, aluminium, mangan, timbal dan kromium pada alat penghisapnya mungkin juga terhirup.

"Paparan debu kobalt sangat jarang di luar beberapa industri tertentu," kata Rupal Shah, asisten profesor kedokteran di UCSF.

Editorial European Respiratory Society menegaskan satu-satunya cara adalah dengan berhenti merokok, baik itu tembakau tradisional ataupun vape.

Profesor Kedokteran Pernapasan di University of Manchester, Jorgen Vestbo pun mengatakan vape berbahaya dan menyebabkan kecanduan nikotin.

Awal tahun ini, WHO juga memperingatkan bahwa perangkat rokok elektrik tidak diragukan lagi dapat membahayakan kesehatan.

Pada bulan Juni, San Francisco menjadi kota di Amerika Serikat pertama yang secara efektif melarang penjualan dan pembuatan vape.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perokok kanker paru-paru Industri Vape
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top