Inspirasi Empat Anak Muda yang Berdaya di Tengah Keterbatasan

Keterbatasan bukanlah menjadi penghalang bagi seseorang untuk memiliki karir yang cemerlang. Sejumlah anak muda ini mampu membuktikan bahwa dirinya berhasil meraih segudang prestasi meski memiliki fisik yang tidak sepenuhnya sempurna.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 17 Februari 2020  |  23:59 WIB
Inspirasi Empat Anak Muda yang Berdaya di Tengah Keterbatasan
CEO/Co Founder Pinjam.co.id Teguh B Ariwibowo (dari kanan) bersama CEO/Founder Thisable Enterprise Angkie Yudistia, dan Owner gomy_Shop/minimelsid Rodiatun Mardiyah Gumay, menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta, Selasa (25/4). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Keterbatasan bukanlah menjadi penghalang bagi seseorang untuk memiliki karir yang cemerlang. Sejumlah anak muda ini mampu membuktikan bahwa dirinya berhasil meraih segudang prestasi meski memiliki fisik yang tidak sepenuhnya sempurna.

1. Angkie Yudistia

Sekilas tidak ada yang berbeda dari Angkie Yudistia, perempuan muda kelahiran 1987 yang terpilih sebagai staf khusus Presiden Joko Widodo, bersama enam anak muda milenial berprestasi lainnya.

Ketika diperkenalkan oleh Presiden Jokowi, barulah diketahui bahwa Angkie merupakan seorang penyandang disabilitas tunarungu.

“Angkie Yudistia, usia 32 tahun adalah anak muda penyandang disabilitas yang aktif bergerak di sociopreneur," ujar Presiden Jokowi saat mengumumkan tujuh stafsus nya di Istana Merdeka, beberapa waktu lalu.

Meski memiliki keterbatasan, nyatanya Angkie terbilang sangat aktif di berbagai organisasi, termasuk organisasi internasional.

Bahkan bisa dikatakan bahwa perempuan yang berhasil meraih penghargaan Asia’s Top Outstanding Women Marketeer of The Year dari Asia Marketing Federation di tahun 2019 ini, menjadi salah satu penyandang disabilitas yang paling berpengaruh di Indonesia.

Tak heran bila akhirnya Presiden Jokowi memilih pendiri Thisable Entreprise ini menjadi staf khususnya yang didapuk sebagai juru bicara Presiden bidang sosial.

Angkie sebetulnya terlahir seperti anak normal pada umumnya. Namun, saat berusia 10 tahun, wanita berhijab ini sempat menderita penyakit malaria yang mengharuskannya mengonsumsi sejumlah obat-obatan dan antibiotik. Diduga karena kesalahan penggunaan obat-obatan, Angkie harus kehilangan pendengarannya.

Kondisi ini membuatnya sangat terpukul dan kehilangan rasa percaya diri. Butuh waktu hingga 10 tahun untuk dia bisa bangkit dan melawanmental block-nya tersebut.

“Di saat banyak orang yang tidak percaya kemampuan saya sebagai perempuan berkebutuhan khusus, saya dengan keras membangun kepercayaan diri sendiri. Menerima dengan ikhlas keterbatasan, dan fokus mengembangkan diri,” ujarnya.

Perlahan tapi pasti, penulis buku Perempuan Tunarungu, Menembus Batasini mulai menunjukkan kemampuan dirinya. Dia lantas mendirikan Thisable Enterprise, sebuah lembaga yang memberdayakan kelompok disabilitas Indonesia agar memiliki kemampuan dan keterampilan. Saat ini, Thisable Entreprise telah berkembang menjadi sebuah grup yang membawahi Thisable foundation, Thisable Recruitment, serta Thisable Digital.

Melalui perusahaan-perusahaan tersebut, Angkie menyediakan pelatihan bagi SDM disabilitas agar dapat bekerja secara vokasional dan profesional. Dia ingin menciptakan akses inklusi yang sama bagi para difabel.

Karena itulah, saat diberi kesempatan oleh Presiden Jokowi, Angkie merasa sangat bersyukur. Sebab, dengan posisinya yang kini berada di Ring 1, dia berharap dapat mewujudkan impiannya menjadikan Indonesia sebagai negara yang ramah terhadap disabilitas.

"Memasuki 2020, saya siap memulai perjalanan karir yang baru di Ring 1. Dan Saya masih berharap Indonesia mampu menjadi negara yang memiliki lingkungan inklusi, banyak cara untuk mewujudkannya, dan saya akan berusaha mencobanya. Menyuarakan 21 juta jiwa disabilitas di seluruh Indonesia,” ujar istri dari Budi Prasetyo ini.

Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan melakukan kerjasama lintas sektoral. Mendorong kementerian, hingga pemda untuk memiliki unit layanan disabilitas agar program disabilitas dapat merata sesuai dengan UU No 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas.

2. Panji Surya Sahetapy

Selain Angkie, nyatanya tidak sedikit anak muda Indonesia yang mampu membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang baginya untuk berprestasi dan meraih kesuksesan.

Salah satu anak muda yang sempat menjadi perbincangan hangat lantaran berhasil menjadi wakil Indonesia di sejumlah kongres internasional adalah Panji Surya Sahetapy.

Putra bungsu dari pasangan Ray Sahetapy dan Dewi Yull ini kerap menjadi delegasi tuli Indonesia, mulai dari konferensi tuli internasional di Inggris, hingga perwakilan ke PBB dan NASA.

Pria kelahiran 21 Desember 1993 ini juga aktif di Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungi Indonesia (Gerkatin), dan turut mengkampanyekan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) untuk komunikasi tunarungu.

Selain itu, Surya juga baru saja ditunjuk sebagai salah satu pengurus di induk organisasi olaharaga Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) sebagai Wakil IV Bidang Media dan Hubungan Masyarakat. Dia hadir untuk menjembatani para atlet disabilitas Indonesia sehingga dapat memaksimalkan kemampuannya.

3. Rosalina Oktavia

Anak muda lain yang berjuang melawan keterbatasannya adalah, Rosalina Oktavia model yang terpilih sebagai Ikon Keberagaman Asian Para Games 2018. Wanita berusia 28 tahun ini harus kehilangan satu kakinya di tahun 2010 akibat kecelakaan.

Awalnya, Rosalina sempat kehilangan rasa percaya diri saat menerima kenyataan bahwa kakinya harus diamputasi. Namun dukungan penuh sang suami, Don Kasunjith, yang mengumpulkan portofolio para model difable di Amerika Serikat dan Eropa, membuat rasa percaya dirinya kembali bangkit.

Bahkan dia sempat mencuri perhatian saat tampil menjadi salah satu duta keberagaman yang melenggang di Singapore Fashion Runway, ajang sekaligus wadah fashion yang mengusung dan mendukung penuh orang-orang berkebutuhan khusus.

4. Hana Madness

Selain itu, ada pula Hana Alfikih, atau yang dikenal dengan Hana Madness, anak muda penyitas disabilitas mental yang bangkit melawan keterbatasannya melalui seni. Meski terbilang baru di ranah seni rupa, karya Hana Madness cukup dikenal.

Hana merupakan salah satu seniman Art Burt yang cukup menonjol, yaitu produk seni dari para penyandang gangguan kejiwaan. Pada 2016, dia pernah diundang mewakili Indonesia untuk mengikuti Unlimited Festival di London, Inggris untuk para penyandang disabilitas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
inspirasi, inspirasi hidup

Editor : Oktaviano DB Hana
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top