Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Satu dari Lima Orang di Dunia Berisiko Covid-19 Parah karena Penyakit Lain

Sekitar 349 juta dari jumlah orang dengan penyakit bawaan seperti jantung dan diabetes mungkin perlu menjalani perawatan di rumah sakit jika mereka terinfeksi.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 16 Juni 2020  |  08:02 WIB
Bayi yang baru lahir, Phuc An, dengan memakai pelindung wajah terlihat sebelum meninggalkan rumah untuk mendapatkan vaksinasi, di tengah penyebaran penyakitCovid-19, di Hanoi, Vietnam, 13/4/2020. Phuc An lahir di rumah sakit Vinmec di Hanoi pada 1 April. Foto diambil pada 13 April 2020. - Antara/Reuters\\n\\n
Bayi yang baru lahir, Phuc An, dengan memakai pelindung wajah terlihat sebelum meninggalkan rumah untuk mendapatkan vaksinasi, di tengah penyebaran penyakitCovid-19, di Hanoi, Vietnam, 13/4/2020. Phuc An lahir di rumah sakit Vinmec di Hanoi pada 1 April. Foto diambil pada 13 April 2020. - Antara/Reuters\\n\\n

Bisnis.com, JAKARTA – Satu dari lima orang di seluruh dunia yang kesehatannya bermasalah berisiko menderita Covid-19 yang parah apabila terinfeksi virus Corona jenis baru tersebut.

Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam The Lancet Global Health, diperkirakan sebanyak 1,7 miliar orang menderita bermacam penyakit mulai dari diabetes tipe 2 hingga penyakit jantung.

“Sekitar 349 juta dari jumlah itu mungkin perlu menjalani perawatan di rumah sakit jika mereka terinfeksi,” ungkap Associate Professor di London School of Hygiene and Tropical Medicine, Andrew Clark.

Dalam melakukan penelitian mereka, Clark dan para rekannya mengambil faktor-faktor risiko yang disorot dalam banyak pedoman resmi, termasuk penyakit jantung dan diabetes, serta menggunakan data epidemiologi yang luas seperti studi Global Burden of Diseases.

“Tidak semua orang dengan kondisi kesehatan yang sudah bermasalah akan mengalami gejala-gejala [Covid-19] yang parah,” demikian menurut penelitian itu, seperti dilansir melalui Bloomberg, Selasa (16/6/2020).

Dalam sebuah editorial yang menyertainya, seorang pakar dari Columbia University's Mailman School of Public Health Nina Schwalbe menuliskan sudah waktunya untuk berevolusi ke pendekatan yang berpusat pada orang-orang yang paling berisiko.

Schwalbe menyerukan pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor risiko termasuk faktor penentu sosial kesehatan seperti pendapatan, status pekerjaan, dan pendidikan.

Wilayah dengan populasi lebih muda, seperti Afrika, memiliki risiko yang lebih rendah secara keseluruhan meskipun memiliki beberapa tempat dengan prevalensi HIV dan AIDS tinggi.

Wilayah lain seperti Eropa, di mana hampir sepertiga penduduknya memiliki setidaknya satu masalah kesehatan, mungkin lebih rentang. Laporan itu juga menyoroti risiko bagi negara-negara pulau kecil dengan prevalensi diabetes yang tinggi, seperti Fiji dan Mauritius.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona covid-19

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top