Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gejala Kecemasan Mengintai saat Pandemi, Ini Solusinya

Penyebaran pandemi Covid-19 yang melanda mendatangkan rasa takut dan kecemasan. Selain menjaga kesehatan fisik, kita pun perlu mengelola kecemasan itu agar tidak memengaruhi kesehatan mental.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 22 Juni 2020  |  11:44 WIB
Cemas - hipnoterapi.com
Cemas - hipnoterapi.com

Bisnis.com, JAKARTA — Penyebaran pandemi Covid-19 yang melanda mendatangkan rasa takut dan kecemasan. Selain menjaga kesehatan fisik, kita pun perlu mengelola kecemasan itu agar tidak memengaruhi kesehatan mental.

Psikolog Klinis, Oriza Sativa Oriza Sativa menyebutkan bahwa 1 diantara 4 orang dewasa, saat ini mengalami kecemasan, dengan berbagai macam sprektrum dan tingkatannya dari ringan hingga berat.

“Nah, tanpa covid-19 pun [gejala] kecemasan sudah rentan terjadi pada mental manusia, apalagi ada covid-19. Karena apa? Karena alasan kesehatan menjadi isu yang cukup berat untuk diterima oleh mental manusia. Itu yang membuktikan ada kaitan fisik dan psikis, bila fisik sakit pasti psikis terganggu. Dan begitupula sebaliknya,” terangnya kepada Bisnis, Senin, (22/6)

Walaupun belum ada angka pasti, tetapi ada kenaikan gangguan cemas dan depresi pada pasien, terutama pada mereka yang sebelumnya sudah memiliki gangguan cemas. Selain itu, kecemasan yang rentan dialami saat ini menurutnya seperti obsessive-compulsive disorder ( OCD), fobia gangguan kecemasan umum, gangguan kecemasan sosial, dan gangguan kecemasan perpisahan.

Karena saat ini para pakar kesehatan menyarankan agar kita selalu menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain, jenis kecemasan perpisahan mungkin yang paling akan dirasakan karena merasa terisolasi.

Menurutnya, agar gejala tersebut dapat diminimalisir seseorang bisa mengalihkan pikiran dari sumber kecemasan,

“Beralihlah dari sumber kecemasan seperti ke hobi. Kemudian pilah berita dan membatasi berita negatif atau hoax.  Membaca berita valid juga membuat tenang karena kecemasan hadir juga karena ketidak tahuan,” terangnya.

Sementara itu, mengutip dari Time gangguan kecemasan secara umum juga diperkirakan meningkat. Ini wajar karena banyak orang yang merasa bingung dan stres karena keuangannya berantakan selama wabah, atau karena stres mengasuh anak di rumah.

“Gangguan kecemasan selalu didasarkan pada dua kata: “Bagaimana Jika”, yang diikuti dengan scenario terburuk yang bisa dibuat oleh otak,” ungkap psikolog Patrick McGrath.

Gangguan kecemasan harus dikendalikan agar tidak menimbulkan stres dan depresi yang akhirnya menurunkan kekebalan tubuh. Selain itu, seseorang juga bisa mengurangi tekanan dan ketakutan dengan berlatih meditasi atau pun berdoa dan beribadah pribadi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

psikologi cemas
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top