Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hati-hati, Kelamaan Duduk Sebabkan Kematian Akibat Kanker

Secara statistik, duduk lebih lama meningkatkan kemungkinan meninggal akibat kanker. Bahkan sejumlah kecil aktivitas fisik ekstra, tidak peduli seberapa ringannya, dapat memiliki manfaat untuk kelangsungan hidup cegah kanker.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 29 Juni 2020  |  11:33 WIB
Ilustrasi - Wisegeek
Ilustrasi - Wisegeek

Bisnis.com, JAKARTA – Duduk selama berjam-jam, terutama di depan perangkat komputer, laptop, atau gadget, nyatanya berisiko tinggi kematian akibat kanker.

Dilansir dari Channel News Asia, Senin (29/6/2020), para peneliti sebelumnya menyebut mereka yang duduk terlalu lama berisiko tinggi terkena penyakit jantung, diabetes tipe 2, obesitas, dan kematian dini. Namun sebagian besar studi tersebut tidak menjelaskan berapa lama waktu yang dihabiskan untuk duduk di kursi sehingga terkena ragam penyakit tersebut.

Pada studi baru, yang diterbitkan pada bulan Juni di JAMA Oncology, para peneliti di University of Texas MD Anderson Cancer Center di Houston dan lembaga-lembaga lain di Amerika Serikat memutuskan untuk menguji kembali data yang sudah dikumpulkan.

Penelitian itu melibatkan kelompok multiras yang terdiri lebih dari 30.000 pria dan wanita paruh baya mulai tahun 2002. Mereka mengumpulkan rincian tentang kesehatan, gaya hidup, dan kondisi medis mereka.

Beberapa sukarelawan juga setuju untuk memakai pelacak aktivitas canggih selama sekitar satu minggu, untuk merekam secara objektif seberapa sering dan bersemangat mereka bergerak dan seberapa banyak mereka duduk.

Sejauh ini, para peneliti telah mengumpulkan catatan untuk sekitar 8.000 sukarelawan yang telah memakai pelacak di beberapa titik. Pria dan wanita ini berusia setidaknya 45 tahun ketika mereka bergabung dengan penelitian ini, dengan kesehatan mulai dari yang baik hingga yang rapuh.

Beberapa memiliki kelebihan berat badan, perokok, diabetes atau memiliki tekanan darah tinggi atau kondisi lainnya. Dalam skala kecil, beberapa mrelawan melaporkan bahwa mereka berolahraga secara teratur.

Para peneliti memeriksa data dari pelacak aktivitas sukarelawan ini, mencatat berapa jam rata-rata per hari, mereka secara objektif menghabiskan waktu tanpa bergerak. Pada kenyataannya, sebagian besar mereka cukup banyak bergerak. Sebagaian kelompok, menghabiskan sekitar 13 dari 16 jam rutinitas mereka di kursi atau tidak aktif bergerak.

Para peneliti membagi sukarelawan menjadi tiga, berdasarkan pada berapa banyak waktu harian yang mereka habiskan untuk duduk. Kemudian mereka memeriksa catatan kematian untuk semua orang, melihat siapa yang meninggal baru-baru ini akibat dari semua jenis kanker.

Secara statistik, duduk lebih lama meningkatkan kemungkinan meninggal akibat kanker. Bahkan sejumlah kecil aktivitas fisik ekstra, tidak peduli seberapa ringannya, dapat memiliki manfaat untuk kelangsungan hidup dari kanker.

Laki-laki dan perempuan dalam kelompok yang menghabiskan sebagian besar waktu duduk adalah 82 persen lebih mungkin meninggal karena kanker selama masa tindak lanjut penelitian dibandingkan mereka yang berada di kelompok yang paling sedikit duduk. Asosiasi ini berlaku ketika para peneliti mengendalikan usia, berat badan, jenis kelamin, kesehatan, status merokok, pendidikan, lokasi geografis, dan faktor-faktor lainnya.

“Dengan kata lain, duduk berjam-jam meningkatkan kemungkinan seseorang pada akhirnya akan meninggal karena kanker, bahkan jika dia sehat-sehat saja,” tulis hasil penelitian itu.

Namun bagi mereka yang aktif bergerak, risiko ini lebih minim. Mereka yang setiap 30 menit berolahraga bukannya terus duduk, risiko kematian akibat kanker turun 31 persen.

Sekalipun seseorang tidak berolahraga secara formal, tetapi mengganti setidaknya 10 menit dari waktu duduknya dengan berjalan-jalan santai, melakukan pekerjaan rumah tangga, berkebun, atau kegiatan di luar ruang, risiko kematian akibat kanker turun sekitar 8 persen.

“Bahkan sejumlah kecil aktivitas fisik tambahan, tidak peduli seberapa ringan pun, dapat memiliki manfaat untuk kelangsungan hidup kanker,” kata Dr Susan Gilchrist, ahli jantung di MD Anderson Cancer Center, yang bekerja dengan pasien kanker dan memimpin studi baru ini.

Penelitian ini memang memiliki banyak keterbatasan karena hanya melihat kematian akibat kanker. Penelitian ini juga tidak memberikan petunjuk tentang bagaimana duduk meningkatkan risiko itu, dan apakah tidak aktif secara langsung mengubah tubuh atau jika faktor-faktor lain, termasuk apa yang kita makan atau minum saat duduk, memengaruhi cara duduk meningkatkan risiko meninggal akibat kanker.

Dr Gilchrist mengatakan bahwa dia dan rekan-rekannya berharap bisa memeriksa beberapa masalah tersebut dalam studi berikutnya.
“Pengambilan yang nyata adalah bahwa kami dapat memberi tahu orang-orang bahwa mereka tidak harus keluar dan lari marathon untuk berpotensi mengurangi risiko kematian akibat kanker.

Sepertinya bangun dan berjalan di sekitar ruang tamu selama beberapa menit setiap jam atau lebih bisa membuat perbedaan yang berarti,” tukasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kanker salah duduk
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top