Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cek Fakta: Anak Sering Digendong, Bisa Bikin 'Bau Tangan'?

Anak yang tidak tumbuh rasa percayanya akibat kurang lekat dengan orang tua kemungkinan saat dewasa mengalami masalah-masalah semisal kecemasan dan depresi.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 30 Juli 2020  |  16:35 WIB
Ibu peluk anak - istimewa
Ibu peluk anak - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Bayi atau anak yang terlalu sering digendong biasanya dikhawatirkan disematkan istilah 'bau tangan' oleh masyarakat.

Istilah bau tangan biasanya disematkan pada anak yang terlalu sering digendong saat dia menangis. Akibatnya, anak nantinya akan cenderung hanya mau dan sering digendong ibunya saat menangis ketimbang orang lain. Benarkah ini?

"Mungkin ada yang pernah dengar mengenai "bau tangan", jangan sering digendong nanti anak bau tangan. Itu mitos," ujar psikolog klinis anak, Rayi Tanjung Sari dalam webinar “Peran Probiotik Di 1000 Hari Pertama Kehidupan", Kamis (29/7/2020).

Dia menyarankan orang tua segera merespon kebutuhan anak saat dia menangis, misalnya dengan menggendong dia karena untuk usia di bawah lima tahun ini satu-satunya cara anak berkomunikasi.

Dari hal ini, anak juga akan belajar orang-orang di sekitar ternyata responsif pada kebutuhannya.

"Sebaiknya ketika anak nangis langsung digendong. Dia bisa belajar ternyata orang di sekitarnya responsif sama kebutuhannya. Komunikasi anak saat itu melalui menangis," tutur Rayi.

Sebaliknya, ketika anak menangis tidak mendapatkan respon, dia bisa merasa tidak ada orang yang tak bisa dipercaya di sekitarnya dan munculah mistrust, biasanya terjadi pada anak usia 0 bulan hingga 18 bulan.

"Ketika responsif pada kebutuhan akan terbagun rasa trust anak, percaya dunia yang dia tinggali baik dan bisa tumbuh dengan baik. Kalau orang tua tidak memberikan respon atau kasus pengabaian anak yang parah, mereka (anak) akan tumbuh mistrust," kata Rayi.

Ciri anak yang mengalami mistrust, antara lain ragu-ragu dalam berinteraksi, tidak ingin berada di dekat orang tua dan cenderung mencari kala orang tua tak ada hingga ketakutan berlebihan saat ditinggal orang tua.

"Kalau misalnya ada dia enggak mau deket-deket tetapi kalau tidak ada, dicari. Ini bisa jadi sebenarnya dia tidak tumbuh trust dari usia dini. Misalnya anaknya terlalu takut ditinggal, bisa jadi ada kecenderungan sebelumnya attachment tidak kuat sehingga tidak terbangun kepercayaan," ujar Rayi.

Anak yang tidak tumbuh rasa percayanya akibat kurang lekat dengan orang tua kemungkinan saat dewasa mengalami masalah-masalah semisal kecemasan dan depresi.

"Attachment itu memang punya peran sangat besar terbawa hingga anak menjadi dewasa. Insecure attachment akan terbawa ke pola pengasuhan kita berikutnya, biasanya masalah ini terbawa ke masa depan bisa masalah kecemasan, depresi," demikian papar Rayi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anak bayi tangan covid-19

Sumber : Antara

Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top