Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gaya Hidup Sehat Membumi, Penjualan Produk Outdoor Mulai Menggemuk

Tren gaya hidup sehat telah mendampak pada peningkatan penjualan produk-produk outdoor.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 31 Agustus 2020  |  09:10 WIB
Jogging.  - Reuters
Jogging. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Gaya hidup sehat diikuti dengan tingginya minat masyarakat untuk berolahraga menjadi berkah tersendiri bagi produsen pakaian dan perlengkapan olahraga luar ruang atau jelajah alam.

Setelah babak belur dihajar pandemi Covid-19, kini produsen pakaian dan perlengkapan olahraga luar ruang kembali bangkit berkat tingginya permintaan dari masyarakat.

Seperti yang disampaikan oleh Chief Executive Officer (CEO) PT Eigerindo Multi Produk Industri (Eiger) Ronny Lukito, perubahan gaya hidup masyarakat di masa adaptasi kebiasaan baru berhasil mendongkrak penjualan produk-produk Eiger yang sempat anjlok. Produk yang banyak dicari adalah produk-produk untuk aktivitas bersepeda.

“Maret, April, Mei ini benar-benar anjlok [penjualan], setelah Idulfitri ini baru ekonomi mulai bergerak. Masa adaptasi kebiasaan baru masyarakat mulai beraktivitas keluar dan mencari produk-produk outdoor. Pakaian dan perlengkapan sepeda, terutama tas paling banyak diburu,” katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Awalnya Eiger dikenal sebagai produsen pakaian dan perlengkapan untuk aktivitas penjelajahan alam bebas saja. Namun, perusahaan yang berbasis di Bandung, Jawa Barat itu kini mulai merambah ke aktivitas olahraga lainnya seperti berlari, bersepeda, dan olahraga kebugaran (fitness).

Ronny mengungkapkan penjualan produk-produk Eiger saat ini terbantu oleh penjualan daring di situs resmi dan platform dagang el. Walaupun kenaikannya lumayan signifikan, penjualan di gerai fisik masih tetap mendominasi.

“[Kenaikannya] 300 persen untuk [penjualan] online ini. Online ini didominasi produk-produk basic seperti tas yang kualitasnya sudah dikenal dari dulu oleh masyarakat. Online ini [penjualannya] belum seberapa lah tapi,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya masih berupaya untuk menambah gerai Eiger yang berdiri sendiri untuk menjaring konsumen baru. Menurut Ronny, penjualan di gerai-gerai yang berdiri sendiri selama pandemi Covid-19 penurunannya tak terlalu parah seperti gerai-gerai yang ada di pusat perbelanjaan atau mal.

“Di gerai yang berdiri sendiri di ruko itu turun 30 persen, tetapi di mal itu turunnya bisa sampai 60-70 persen dan mau tidak mau ditutup. Tetapi memang sejak beberapa tahun terakhir model bisnis kita berubah, tidak lagi mengandalkan gerai di mal atau department store. Konsumen perilakunya berubah,” tuturnya.

Adapun kedepannya, Ronny menyebut pihaknya akan menambah jumlah gerai yang kini sudah mencapai 300-an di seluruh Indonesia. Termasuk diantaranya adalah gerai Eiger Flagship Store yang dilengkapi dengan kedai kopi di dalamnya.

Terakhir pada akhir Agustus 2020, Eiger membuka gerai terbarunya di Pandeglang, Banten yang tak lain adalah kota lapis kedua. Diharapkan dengan penambahan gerai di kota-kota lapis kedua itu penjualan bisa kembali normal seperti sebelum pandemi Covid-19.

“Sekarang memang sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan saat awal-awal pandemi, tetapi masih belum 100 persen. Masih sekitar 75 persen mungkin,” pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

olahraga gaya hidup alat outdoor
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top