Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Hubungan Obesitas dan Virus Corona

Orang yang memiliki kelebihan berat badan, lebih berisiko untuk terinfeksi virus corona (Covid-19).
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 27 Januari 2021  |  07:06 WIB
Orang-orang yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas memiliki risiko lebih besar terinfeksi virus corona - Istimewa
Orang-orang yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas memiliki risiko lebih besar terinfeksi virus corona - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Virus corona adalah ancaman tanpa pandang bulu, bisa menyerang siapa saja dari segala usia dan menyerang berbagai titik vital dalam tubuh. Peneliti kini telah menemukan hubungan yang kuat antara kelebihan berat badan atau obesitas dengan Covid-19.

Hilary Jones, dokter umum dan penulis masalah kesehatan Inggris mengatakan kelebihan berat badan biasanya terkait dengan sejumlah penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, usus, dan kanker payudara.

“Obesitas menyebabkan peradangan umum di tubuh dan itu merupakan faktor risiko utama untuk Covid-19. Jika Anda tertular virus dan kelebihan berat badan, Anda berisiko jauh lebih besar terkena infeksi serius,” katanya seperti dikutip Express UK, Rabu (27/1/2021).

Sepanjang pandemi, otoritas kesehatan masyarakat telah menggarisbawahi risiko yang terkait dengan hal ini. Juli tahun lalu, Public Health England memperkirakan bahwa indeks massa tubuh (BMI) 35 hingga 40 dapat meningkatkan peluang seorang meninggal akibat Covid-19.

BMI yang lebih besar dari 40 dapat meningkatkan risiko hingga 90 persen. Sebagai informasi, BMI adalah metode yang paling banyak digunakan untuk memeriksa apakah seseorang memiliki berat badan yang sehat.

Pada Oktober tahun lalu, Stephen O'Rahilly, direktur unit penyakit metabolik di Cambridge University mengatakan ada dua hal yang terjadi ketika orang mengalami obesitas, jumlah lemak meningkat dan penambahan lemak di tempat yang salah.

Hal ini mengganggu metabolisme, utamanya adalah tingkat insulin yang sangat tinggi dalam darah. Gangguan ini dikaitkan dengan berbagai kelainan termasuk peningkatan sitokin inflamasi dan pengurangan molekul adiponektin yang secara langsung melindungi paru-paru.

Dia menambahkan, mungkin juga lemak meningkat di paru-paru itu sendiri yang dapat mengganggu cara organ itu menangani virus. Menurut O'Rahilly, hal sederhana yang terlihat seperti dada besar atau perut besar terlalu menyederhanakan persoalan.

“Apa yang sebenarnya terjadi adalah metabolisme, dan kita tahu itu karena jika kita melihat penanda genetik untuk gangguan metabolisme, mereka jauh lebih dekat hubungannya dengan hasil yang buruk daripada penanda genetik untuk obesitas itu sendiri," ungkap Hilary Jones.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obesitas Virus Corona Covid-19 Vaksin Covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top