Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Napas Bau, Inilah 5 Efek Kelebihan Makan Protein

Diet tinggi protein juga menurunkan kadar sitrat urin, yang merupakan bahan kimia yang mencegah pembentukan batu ginjal.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 05 April 2021  |  09:33 WIB
Hidangan steik dari daging sapi jenis Charolais de Bourgogne.  - The 9th Floor
Hidangan steik dari daging sapi jenis Charolais de Bourgogne. - The 9th Floor

Bisnis.com, JAKARTA – Tubuh memerlukan makronutrien karbohidrat, lemak, dan protein.

Di antara ketiga nutrisi itu protein memiliki reputasi paling baik di mata pencinta kebugaran. Menurut U.S. National Library of Medicine, protein dibutuhkan untuk membuat dan memperbaiki sel tubuh.

David Buchin, Direktur Bedah Bariatrik di Rumah Sakit Huntington, Amerika Serikat (AS), mengatakan kebanyakan orang dewasa hanya membutuhkan 40 hingga 50 gram per hari. Namun, kebanyakan orang makan lebih dari yang dibutuhkan.

Makan terlalu banyak protein berdampak negatif bagi tubuh. Dilansir dari Livestrong, inilah lima efek kelebihan protein.

1. Dehidrasi

Menurut Alicia Galvin, ahli diet residen untuk Sovereign Laboratories AS, produsen suplemen, makan beberapa jenis protein seperti daging, telur, yogurt Yunani dan makanan tinggi protein lainnya bisa membuat merasa dehidrasi, meski asupan air tetap seperti biasanya.

Alasannya, diet protein tinggi dapat menyebabkan peningkatan kadar nitrogen, menurut Mayo Clinic.

"Salah satu komponen protein adalah nitrogen. Dan jika Anda makan terlalu banyak protein, tubuh akan mencoba membuang nitrogen ekstra itu, yang akan menyebabkan pembuangan air dan meningkatkan buang air kecil," kata Galvin.

2. Sakit kepala dan lemah

Sakit kepala dan kelelahan adalah dua efek samping lainnya yang dapat terjadi jika Anda mengalami dehidrasi karena makan terlalu banyak protein, kata Galvin.

Gejala-gejala ini juga bisa muncul akibat tubuh berada dalam kondisi ketosis, kata Buchin.

"Ketika Anda menjalani sebagian besar diet protein, Anda ketonic," ujarnya.

Ketosis adalah keadaan metabolisme yang terjadi ketika tubuh mengandalkan lemak untuk bahan bakar daripada gula dari karbohidrat seperti pada diet keto, menurut UChicago Medicine.

"Anda merasa lemah karena tidak memiliki banyak gula di tubuh," kata Buchin.

3. Napas bau

Banyak orang melaporkan mengalami bau mulut akibat diet tinggi protein.

"Baunya seperti buah busuk," kata Buchin.

Itu mungkin karena tubuh dalam ketosis dapat menghasilkan aseton, bahan yang sama yang ditemukan dalam penghapus cat kuku.

Kehadiran aseton keton dalam napas bisa menjadi indikator bahwa seseorang mengalami ketosis, menurut sebuah studi kecil April 2015 di Jurnal NUtrition.

Galvin mengatakan, bahwa dua asam amino yang ditemukan dalam protein mungkin juga menjadi penyebabnya.

"Bisa jadi karena dua asam amino yang digunakan di mulut dan oleh bakteri untuk membuat bau mulut adalah asam amino yang mengandung sulfur: sistein dan metionin," ujar Galvin.

"Jadi, ketika orang mengonsumsi protein, mereka memiliki jenis bakteri tertentu yang akan mengubah asam amino menjadi senyawa sulfur, dan itu dapat menyebabkan bau mulut."

4. Sembelit

Jika makan banyak protein, kemungkinan besar mengurangi nutrisi lain saat makan. Orang yang menjalani diet Atkins, misalnya, makan banyak protein dan sangat membatasi karbohidrat.

Menurut Mayo Clinic, itu berarti bisa kehilangan serat yang bisa menyebabkan sembelit.

Perempuan butuh 21 hingga 25 gram serat per hari, sedangkan pria harus mendapatkan 30 hingga 38 gram setiap hari, menurut Mayo Clinic.

Makan makanan kaya serat, seperti biji-bijian dan polong-polongan, dapat membuat feses bertambah banyak sekaligus melembutkannya, sehingga membantu mencegah dan meredakan sembelit.

Sembelit juga bisa terjadi ketika makan banyak protein saat diet tinggi serat, misalnya, vegetarian dan vegan yang mulai makan daging kaya protein lagi, kata Galvin.

5. Risiko batu ginjal

Salah satu pemicu masalah ginjal adalah makan terlalu banyak protein.

 "Hal terbesar adalah kerusakan ginjal jangka panjang karena makan protein yang sangat tinggi untuk jangka waktu yang lama," kata Galvin.

Makan terlalu banyak protein hewani, seperti daging, telur, dan makanan laut, dapat meningkatkan kadar asam urat tubuh, yang kemudian dapat menyebabkan perkembangan batu ginjal, menurut Harvard Health Publishing.

Diet tinggi protein juga menurunkan kadar sitrat urin, yang merupakan bahan kimia yang mencegah pembentukan batu ginjal.

Selain itu, makan banyak protein membuat tubuh mengeluarkan kalsium yang juga dapat menyebabkan pembentukan batu ginjal, menurut National Kidney Foundation.

Kebutuhan protein tiap orang berbeda, tergantung usia, jenis kelamin, berat badan, dan gaya hidup. "Umumnya, aturan praktisnya adalah 0,8 gram protein per kilogram berat badan," kata Galvin.

"Dengan itu, Anda akan memenuhi sebagian besar kebutuhan Anda."

Harvard Health Publishing menetapkan batasan pada 2 gram per kilogram berat badan. Tetapi jangan biasakan mengonsumsi protein lebih dari itu.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

protein lemak

Sumber : Tempo

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top