Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Studi Sebut Penyintas Covid-19 Berisiko Alami Penurunan Fungsi Otak

Sejumlah riset ungkap infeksi Covid-19 berpotensi menyebabkan timbulnya efek jangka panjang meski tubuh pasien telah dinyatakan negatif dari virus.
Aliftya Amarilisya
Aliftya Amarilisya - Bisnis.com 04 September 2021  |  16:41 WIB
Studi Sebut Penyintas Covid-19 Berisiko Alami Penurunan Fungsi Otak
Ilustrasi wanita alami gejala Covid-19 - Freepik.com
Bagikan

Bisnis.com, SOLO - Tak hanya mengalami long Covid-19, para penyintas juga berisiko mengalami penurunan fungsi otak serta mengingat atau dikenal dengan sebutan brain fog alias “kabut otak”.

Dalam sebuah studi yang dimuat pada Journal of the Neurological Sciences, sebagian besar partisipan yang pernah dirawat di RS akibat Covid-19 mengaku mengalami gangguan kognitif yang cukup parah setelah sembuh.

Tidak sedikit dari mereka yang mengalami kesulitan saat harus kembali bekerja dengan normal. Parahnya, gangguan tersebut berlangsung setidaknya selama 6 bulan.

Lalu, bagaimana bisa penyakit ini juga memengaruhi fungsi otak penderitanya? Berikut kemungkinannya.

1. Memicu peradangan otak
Kemungkinan yang pertama adalah infeksi virus SARS-CoV-2 menyebabkan inflamasi atau peradangan pada otak (ensefalitis).

Beberapa pasien Covid-19 dilaporkan menderita radang otak yang menyebabkan gejala-gejala, seperti kebingungan dan penglihatan ganda. Dalam kasus yang lebih serius, ensefalitis akibat Covid-19 juga bisa menyebabkan gangguan penglihatan, bicara, serta mendengar.

Kendati begitu, belum diketahui secara pasti bagaimana infeksi Covid-19 bisa memicu peradangan pada otak. Muncul dugaan bahwa peradangan tersebut disebabkan oleh antibodi tubuh yang berbalik menyerang tubuh sendiri.

Ada juga dugaan kuat bahwa infeksi Covid-19 memengaruhi kemampuan memecahkan masalah serta mengingat, seperti gejala pada pasien alzheimer. Hal itu diungkapkan lewat sebuah studi dari jurnal Nature. Studi tersebut meneliti jaringan otak pada 8 pasien yang meninggal karena Covid-19.

Hasilnya, terjadi inflamasi atau peradangan parah, serta perubahan molekul pada korteks serebral, yaitu bagian otak yang berperan dalam pemecahan masalah dan daya ingat manusia.

2. Kekurangan oksigen berpengaruh pada otak
Ada kemungkinan pula bahwa kerusakan otak yang terjadi dipicu oleh kekurangan oksigen akibat gangguan pernapasan, serta kerusakan paru-paru saat terinfeksi Covid-19.

Turunnya kadar oksigen dalam tubuh (hipoksia) termasuk salah satu gejala berat Covid-19 yang umum terjadi. Infeksi yang parah mengakibatkan paru-paru tidak mampu menyebarkan oksigen ke dalam darah dengan baik.

Kurangnya asupan oksigen inilah yang kemudian bisa memicu penurunan fungsi otak, sehingga berdampak pada tingkat kecerdasan penyintas Covid-19.

Walaupun sudah ada banyak studi yang menunjukkan adanya pengaruh Covid-19 terhadap fungsi otak, masih belum diketahui secara jelas apa penyebab dan cara virus dalam merusak otak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Covid-19 gejala covid-19

Sumber : JIBI/Solopos.com

Editor : Aliftya Amarilisya
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top