Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Bahayanya Membiarkan Kadar Kolesterol Tinggi Tanpa Diobati

Studi yang dipublikasikan di JAMA Cardiology ini menemukan semakin lama seseorang memiliki tingkat LDL yang tinggi (tidak peduli berapa tingkat LDL mereka di masa dewasa muda atau usia paruh baya), semakin besar risiko penyakit jantung koroner.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 20 Oktober 2021  |  14:40 WIB
Ini Bahayanya Membiarkan Kadar Kolesterol Tinggi Tanpa Diobati
Ilustrasi kolesterol - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Low-density lipoprotein (LDL), dikenal sebagai Kolesterol jahat karena dapat berdampak buruk bagi kesehatan apabila kadarnya terlalu berlebihan. Kadar LDL yang tinggi merupakan faktor utama penyakit Jantung.
 
Sebuah studi baru menunjukkan bahwa, seperti merokok, itu memiliki efek kumulatif seumur hidup. Semakin lama seseorang memiliki kadar LDL tinggi, semakin besar risiko mereka menderita serangan Jantung atau gagal Jantung.
 
Menggunakan data dari empat studi kesehatan prospektif besar, para peneliti menghitung kadar LDL dari waktu ke waktu pada 18.288 orang yang menjalani beberapa tes LDL pada usia yang berbeda.
 
Para peneliti menghitung paparan kumulatif mereka terhadap LDL dan mengikuti kesehatan mereka selama rata-rata 16 tahun.
 
Melansir New York Times, Rabu (20/10/2021), studi yang dipublikasikan di JAMA Cardiology ini menemukan semakin lama seseorang memiliki tingkat LDL yang tinggi (tidak peduli berapa tingkat LDL mereka di masa dewasa muda atau usia paruh baya), semakin besar risiko penyakit Jantung koroner.
 
“Dibandingkan dengan mereka yang berada di kuartal terendah untuk paparan kumulatif, mereka yang berada di kuartal tertinggi memiliki 57 persen peningkatan risiko,” catat para peneliti.
 
Mereka tidak menemukan peningkatan risiko stroke atau gagal Jantung yang terkait dengan pajanan LDL kumulatif. Para peneliti menyarankan bahwa banyak faktor dapat berkontribusi pada gagal Jantung, dan studi mereka memiliki terlalu sedikit kasus stroke untuk mencapai signifikansi statistik.
 
Studi ini mengontrol ras dan etnis, jenis kelamin, tahun lahir, indeks massa tubuh, merokok, HDL atau Kolesterol baik, tekanan darah, diabetes tipe 2 dan penggunaan obat penurun lipid dan tekanan darah.
 
Pada orang di bawah 40 tahun, pedoman saat ini merekomendasikan pengobatan dengan obat statin penurun Kolesterol hanya dengan pembacaan LDL lebih tinggi dari 190, tetapi para peneliti menemukan bahwa peningkatan risiko penyakit Jantung koroner dapat dimulai pada tingkat yang jauh lebih rendah.
 
Tingkat LDL di bawah 100 umumnya dianggap normal.
 
YiYi Zhang, penulis utama dan asisten profesor ilmu kedokteran di Columbia mengatakan, angka mereka menunjukkan bahwa risiko dimulai pada tingkat LDL serendah 100. Namun menurutnya, itu tidak berarti bahwa seseorang di bawah 40 tahun dengan LDL 100 harus segera memulai pengobatan.
 
“Kami membutuhkan lebih banyak bukti untuk menentukan kombinasi optimal usia dan tingkat LDL,” kata YiYi.
 
Tamara Horwich, seorang ahli Jantung dan profesor kedokteran di University of California, Los Angeles, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mencatat bahwa pedoman medis dalam memilih siapa yang membutuhkan terapi statin sangat ditimbang untuk orang yang lebih tua, karena usia lanjut adalah faktor risiko utama untuk komplikasi dari penyakit Jantung.
 
Namun, dia berkata, “Dari studi otopsi, kami telah mengetahui untuk beberapa waktu bahwa aterosklerosis mulai berkembang di arteri individu muda, sedini remaja dan usia 20-an”
 
Orang muda memiliki risiko jangka pendek yang rendah, kata Dr. Zhang, tetapi risiko jangka panjangnya tinggi.
 
“Pesan utamanya adalah berusaha menjaga LDL rendah hingga usia paruh baya. Itu akan mengurangi risiko penyakit Jantung Anda.” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jantung kolesterol
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top