Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Platform Digital Buka Peluang Perempuan Sukses Berbisnis

OmahBayi yang awalnya hanya mendapatkan beberapa pesanan setiap minggu, kini bisa mendapatkan ratusan pesanan setiap harinya.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 15 Januari 2022  |  15:27 WIB
ilustrasi jual barang preloved lewat e-commerce - Freepik.com
ilustrasi jual barang preloved lewat e-commerce - Freepik.com

Bisnis.com, JAKARTA - Era digital yang terus berkembang membuka peluang bagi siapapun untuk dapat berkarya dari manapun, tidak terkecuali para ibu rumah tangga yang tetap bisa produktif di tengah kesibukannya dalam mengurus keluarga dan anak.

Apalagi pasar e-commerce di Indonesia memiliki pertumbuhan terbesar di Asia Pasifik sehingga menjadi salah satu potensi yang membuka peluang bagi para perempuan untuk mengembangkan bisnis mereka, meski hanya dari rumah.

Berdasarkan Riset McKinsey UMKM yang dijalankan oleh para perempuan menghasilkan 35 persen pendapatan melalui e-commerce, dibandingkan hanya 15 persen dari offline. Teknologi digital yang semakin canggih memudahkan para perempuan yang baru merintis untuk menjangkau pasar lebih luas, dengan biaya rendah dan fleksibilitas yang tinggi. 

Drica Wibowo, pemilik OmahBayi, toko perlengkapan bayi dan anak merupakan salah satu ibu rumah tangga yang sukses mengembangkan bisnisnya dengan memanfaatkan platform digital dan e-commerce atau marketplace.

Awalnya, Drica dan suami merupakan kru sebuah kapal pesiar internasional, hingga akhirnya dia memutuskan untuk berhenti bekerja saat hamil dan cuti melahirkan. Mulanya dia mencoba menjalankan bisnisnya secara offline dengan menyewa kios di sebuah pasar tradisional di Wates, Yogyakarta dengan menjual aneka perlengkapan bayi dan anak dengan nama toko, OmahBayi.

Belum juga usahanya berkembang, musibah pun datang. Kiosnya terbakar sehingga semua barang dagangannya habis dilalap si jago merah. Sempat berputus asa pada awalnya, tetapi semangat tinggi untuk bangkit serta sang suami yang menjadi penyemangat dari jauh, membuatnya terus berjuang.

Untuk lebih mengembangkan usahanya, dia pun mulai mentransformasi bisnisnya dengan merambah ke digital melalui platform eCommerce yang bisa mendukung upaya membesarkan usahanya.

Saat itu sekitar tahun 2017, Drica bertemu dengan komunitas penjual Lazada, Lazada Club, dan menemukan mentor yang merupakan penjual senior di Lazada. Dengan bimbingan mentornya kala itu, Drica bergabung dengan Lazada dan mulai serius belajar menggunakan berbagai fitur e-Commerce yang cukup awam baginya.

“Awalnya jelas tidak mudah. Namun bantuan dan bimbingan dari mentor saya di komunitas Lazada Club, saya fokus dan serius belajar dan berusaha mengimplementasikan ilmu yang saya dapat dalam operasional bisnis saya,” jelasnya.

Selain mempelajari berbagai fitur, dia juga aktif mengikuti promosi dan kampanye termasuk memanfaatkan fasilitas livestreaming termasuk aktif berkonsultasi dengan mentor. Berbagai usaha dan kerja kerasnya itupun membuahkan hasil, penjualannya di eCommerce terus meningkat.

OmahBayi yang awalnya hanya mendapatkan beberapa pesanan setiap minggunya, kini bisa mendapatkan ratusan pesanan setiap harinya. Pada musim-musim kampanye mega, penjualannya bahkan bisa meningkat hingga 5 kali lipat.

Drica dan belasan orang timnya bekerja keras memproses ribuan barang pesanan pelanggan setiap harinya di masa kampanye mega tersebut demi memberikan kebahagiaan bagi pelanggannya. Pada Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 12.12 tahun 2021, OmahBayi juga mencatatkan penjualan signifikan, yang meningkat lebih dari 170 persen dibandingkan dengan harbolnas tahun sebelumnya.

Warung Abah

Selain Drica, pelaku usaha wanita lainnya yang sukses berbisnis dengan memanfaatkan digital adalah Titin Supartini pemilik Warung Abah. Siapa sangka, hanya dengan berjualan sayur dan bahan-bahan sembako secara digital, wanita yang berdomisili di Bandung ini bisa meraup omset hingga 90 juta dalam sebulan.

Sebelum membuka toko sayur dan sembako, Titin dan suaminya sempat memiliki kantin di salah satu universitas di Bandung sejak tahun 2014. Memiliki latar belakang sebagai seorang koki hotel, pada saat itu Titin dan suami fokus menyediakan masakan enak dan murah untuk kalangan mahasiswa.

Sayangnya, saat pandemi, kantin harus tutup karena tidak ada mahasiswa yang datang ke kampus. Hingga dia memutuskan untuk membuka usaha sampingan di rumah dengan berjualan sayur mayur sebagai sambil menjalani pekerjaannya sebagai pegawai negeri sipil.

Awalnya Titin hanya fokus berjualan secara offline dan melayani tetangga-tetangga di sekitar rumahnya. Hingga akhirnya dia mencoba memanfaatkan digital dengan berjualan sayur di aplikasi GrabMart.

Diakui olehnya saat pertama memulai dia masih bingung dan kewalahan melayani pesanan offline dan online disaat yang sama. Bahkan sempat terpikir untuk berhenti, tapi dia kemudian berkonsultasi dengan tim Grab yang menangani warungnya.

Berkat dukungan konsultasi dengan tim GrabMart, Titin akhirnya memberanikan diri memperluas bisnisnya. Awalnya karena banyak pesanan dari online dan offline, banyak barang-barang di warungnya yang habis sehingga Titin tidak bisa melayani konsumennya dengan maksimal.

Sejak saat itu Titin memperbanyak stok barang yang dijual, serta mulai berjualan barang-barang kebutuhan dasar lain seperti beras dan telur. Alhasil, pendapatan per harinya pun semakin meningkat, bahkan dalam satu bulan ia bisa mendapatkan omset sebesar Rp90 juta, hampir sebagian besar berasal dari GrabMart.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

e-commerce digital womenpreneur
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top