Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Epidemiolog: Masa Inkubasi Cacar Monyet Lama, Risiko Penyebaran Kian Besar

Epidemiolog Dicky Budiman menjelaskan bahwa potensi wabah Monkeypox sangat besar karena masa inkubasi yang lama.
Intan Riskina Ichsan
Intan Riskina Ichsan - Bisnis.com 27 Juli 2022  |  18:40 WIB
Epidemiolog: Masa Inkubasi Cacar Monyet Lama, Risiko Penyebaran Kian Besar
Dicky Budiman epidemiolog University Griffith
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Longgarnya mobilitas pada laju penerbangan membuat potensi Monkeypox atau cacar monyet semakin menyebar termasuk ke Indonesia. 

Epidemiolog Dicky Budiman menjelaskan bahwa potensi wabah Monkeypox sangat besar karena masa inkubasi yang lama. Meskipun ada screening saat masuk ke bandara, Monkeypox memiliki masa inkubasi 2-3 minggu hingga muncul gejala bintik-bintik. Hal ini yang membuat risiko penularan sangat besar saat orang yang terinfeksi ini tetap beraktivitas.

Alasan lainnya adalah tertutupnya kelompok berisiko karena masih ada stigma pada masyarakat. Mereka menjadi tidak terbuka kepada pasangan atau keluarga. Perilaku masyarakat yang tidak segera ke fasilitas kesehatan saat merasa sakit juga menjadi alasannya.

Mayoritas dari kasus infeksi Monkeypox biasanya bergejala ringan dan self-limited atau dapat sembuh sendiri. Namun dalam beberapa kasus yang menimpa orang dengan HIV maka akan berat, maka dari itu perlu upaya dari pihak pemerintah untuk menemukan kasus-kasus ini.

Mengenai jumlahnya, tidak ada angka yang pasti baik itu di negara kecil maupun negara besar. Data sulit ditentukan karena adanya rasa tertutup dari kelompok berisiko. Jumlah dari populasi risiko dan seberapa rentannya dapat menentukan. Dicky merekomendasikan untuk meningkatkan surveillance pada kelompok risiko sehingga dapat mendeteksi risiko paparan.

“Surveillance ibarat radar dengan cara melihat data dari kelompok gay, biseksual, PSK, namun dengan tetap meningkatkan asas-asa keadilan, kesetaraan, penghormatan terhadap hak asasi. Hal ini untuk meninghindari stigma, meningkatkan literasi komunikasi sehingga tidak ada miss persepsi,” jelas Dicky.

Dicky melanjutkan, surveillance ini tidak hanya ditingkatkan pada kelompok risiko tapi juga di pintu masuk negara termasuk di pelayanan kesehatan.

“Di pelayanan kesehatan karena di situlah kita bisa mendeteksi adanya kelainan dan harus diperjelas, tidak hanya di kalangan dokter tapi juga di tenaga kesehatan lain atau apoteker farmasi. Untuk mendeteksi kasus-kasus ini, komunikasi menjadi sangat penting. Edukasi literasi terkait Monkeypox pada semua elemen masyarakat agar tidak timbul arti ketakutan,” lanjutnya.

Jelas penyakit ini menular sangat mudah jika ada kasus kontak erat baik langsung maupun tidak langsung dengan barang dipakai, bekas dipakai, atau bersama dipakai. Deteksi dini juga menjadi penting sebagai upaya pencegahan. Perilaku sehat karena adanya Covid-19 seperti menggunakan masker, mencuci tangan, dan menghindari kerumuman menjadi relevan untuk Monkeypox.

Vaksin Monkeypox sudah ada dan sama dengan vaksin Smallpox, namun ketersediannya masih terbatas karena angka kasusnya yang awalnya tidak sebanyak sekarang. Strategi “vaksinasi cincin” menjadi rekomendasi, yaitu dengan melakukan vaksin pada orang-orang terdekat dari yang terinfeksi terlebih dahulu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Cacar monyet epidemiolog virus
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top