Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kasus Gigi Berlubang pada Anak Masih Tinggi

Masalah gigi pada anak terutama gigi berlubang menjadi alasan agar orang tua mengajarkan lebih dini pentingnya menggosok gigi
Widya Islamiati
Widya Islamiati - Bisnis.com 12 September 2022  |  23:54 WIB
Kasus Gigi Berlubang pada Anak Masih Tinggi
Ilustrasi - Vadentist
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Permasalahan kesehatan gigi dan mulut masih menjadi masalah yang menghantui masyarakat Indonesia. Berbagai faktor seperti kurangnya kesadaran masyarakat dalam merawat kesehatan gigi dan mulut ataupun kurangnya akses masyakarat untuk mendapatkan perawatan dari ahli kesehatan terkait.

Tidak hanya pada orang dewasa, faktor-faktor ini juga menjadi penyebab permasalahan gigi dan mulut pada anak. Terlebih, anak punyai faktor tersendiri seperti kurangnya minat untuk memeriksakan gigi pada dokter. Ini membuat orang tua harus memikirkan banyak cara agar kesehatan gigi dan mulut anak-anaknya bisa terkontrol dengan baik. 

Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia, drg. Usman Sumantri menyebutkan, Indeks DMF T anak-anak indonesia di bawah 12 tahun berada pada angka 8,6 dengan persentase karies hingga 70%. 

"Kasus gigi berlubang kan masih bisa dicegah, dan itu sayangnya (menyerang) anak-anak dibawah usia 12 tahun yang giginya belum permanen," ungkap Usman saat ditemui pada Peresmian Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2022 di kawasan Jakarta Pusat pada Senin, (12/9/2022).

Usman juga menyebutkan permasalahan gigi pada anak usia dibawah 12 tahun ini menjadi penyebab utama timbulnya berbagai permasalahan mulut pada anak. Sebab, pada umur dibawah 12 tahun ini, anak anak mengalami pergantian gigi permanen, tepatnya pada usia enam hingga tujuh tahun. 

Sedangkan, gigi yang pertama tumbuh itu adalah gigi depan serta geraham yang jika mengalami kerusakan, akan berpengaruh pada pertumbuhan gigi yang lain.

Salah satu faktor penyebab kerusakan gigi adalah masyarakat Indonesia yang punyai kebiasaan setelah bangun pagi akan mandi dan sikat gigi terlebih dahulu, baru kemudian sarapan. 

"Satu kali (menyikat gigi) setelah sarapan, jadi jangan mandi sikat gigi kemudian sarapan itu terbalik," papar Usman.

"Harusnya mandi, sarapan, sikat gigi baru berangkat, jangan terbalik, (karena) 8 jam sudah terjadi asam di permukaan," lanjut Usman. 

Selain itu, Usman juga menambahkan bahwa menyikat gigi setelah makan malam dan memeriksakan gigi ke dokter gigi sebanyak dua kali dalam setahun juga tidak kalah penting.

Selebritis, Ananda Omesh mengaku memikirkan cara tertentu hingga memperkenalkan anak-anaknya terhadap pemeriksaan gigi di klinik dengan cara memberi kenyamanan tanpa memaksa anak, terlebih kualitas klinik dokter gigi jaman sekarang yang menurutnya memudahkan anak untuk mau memeriksakan kesehatan giginya.

"Kalau aku biasanya memperkenalkan ke anak-anak memberikan kenyamanan, gak langsung periksa, jalan-jalan dulu, lihat-lihat, kalau klinik untuk anak-anak warnanya lebih friendly, nanti anak tanya, kita akan jelaskan," ungkap Omesh saat ditemui pada Peresmian Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2022 di kawasan Jakarta Pusat pada Senin, (12/9/2022).

Senada dengan Omesh, sang istri, Dian Ayu juga mengaku merasa dibantu dengan adanya teknologi saat ini.

"Sekarang tuh untungnya zaman kita sangat memudahkan, kartun yang mengajak anak-anak untuk sikat gigi, memeriksakan gigi, dimulai dari tontonan itu," kata Dian pada acara yang sama pada Senin, (12/9/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sikat gigi gigi dokter gigi Sakit Gigi kesehatan gigi
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top