Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ketua KPRA: Penjualan Antibiotik Bebas Akar Masalah Resistensi Mikroba di Indonesia

WHO menetapkan resistensi antimikroba sebagai salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan masyarakat global.
Widya Islamiati
Widya Islamiati - Bisnis.com 13 Oktober 2022  |  19:12 WIB
Ketua KPRA: Penjualan Antibiotik Bebas Akar Masalah Resistensi Mikroba di Indonesia
Resep ramuan berusia 1.000 tahun bisa digunakan untuk obat-obatan, salep, dan antibiotik. - ilustrasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Resistensi antimikroba kini menjadi ancaman kesehatan dunia saat ini. Hal ini telah dikonfirmasi oleh WHO, dengan ditetapkannya resistensi antimikroba ini sebagai salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan masyarakat global saat ini. 
 
Technical Officer (AMR) dari WHO Indonesia Mukta Sharma, menyoroti bahwa penyalahgunaan dan penggunaan antimikroba atau antibiotik yang berlebihan pada manusia, hewan dan tumbuhan mempercepat pengembangan dan penyebaran AMR di seluruh dunia. 
 
"Kebutuhan laboratorium yang merata di Indonesia belum terpenuhi, oleh karena itu banyak antibiotik yang diberikan tanpa diketahui persis apa yang menyebabkan penyakit. Meski data terbatas, jelas terlihat adanya peningkatan masalah AMR di Indonesia," ungkapnya dalam konferensi pers bertajuk  'Resistensi Antimikroba, Si Pandemi Senyap' yang digelar secara daring dan luring oleh WHO dan FAO pada Rabu, (12/10/2022).
 
Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan RI Dr. Anis Karuniawati menyebut ada beberapa permasalahan yang menyebabkan resistensi antimikroba berkembang di Indonesia. Menurutnya, penjualan antibiotik secara bebas dipasaran menjadi salah satu penyebabnya.
 
"Mengapa kok sampai terjadi peningkatan tersebut dan permasalahan ini tidak hanya di rumah sakit ini mungkin saja juga terjadi di komunitas seperti pada karena penjualan antibiotik pada saat ini," ungkapnya.

Anis menyarankan, seharusnya antibiotik tidak dijual di toko obat maupun apotek, tetapi harus diresepkan dan dijual secara tertib.
 
"Setiap orang bisa membeli antibiotik itu di apa namanya di apotek maupun di toko obat toko obat seharusnya tidak boleh menjual nah ini juga masalah ya," katanya. 
 
Lebih lanjut, Astrid menyebut, bahkan antibiotik di desa-desa di Indonesia bisa didapatkan di tukang sayur. Dengan harga Rp2000,- masyarakat sudah bisa mendapatkan paket obat sakit gigi berisi Paracetamol dan ampisilin. Menurutnya masyarakat Indonesia belum punya kepedulian terhadap ini.
 
Astrid juga menuturkan, semakin mudahnya masyarakat mendapatkan antibiotik akan membuat masyarakat akan mengonsumsi obat ini dalam berbagai masalah sehari-hari. Salah satunya ketika masyarakat alami sakit tenggorokan yang menurutnya, lebih umum disebabkan oleh virus, bukan bakteri seperti anggapan masyarakat Indonesia pada umumnya.
 
"Sering sakit tenggorok nih udah langsung amoxilin, amoxilin yang ditelan ya, tolong coba bertanya pada diri sendiri yaitu banyak sekali terjadi di masyarakat kita dan itu tidak diperbolehkan sebetulnya, karena sakit tenggorok itu banyak sekali 95% lebih disebabkan oleh virus," pungkas Astrid.
 
Menanggapi hal ini, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Profesor Tjandra Yoga kemudian menyebutkan, hal ini akan berdampak pada ketidakmampuan antibiotik mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri. 
 
"Kalau nanti amoksisilin benar-benar diperlukan Jadi udah nggak mempan lagi ngobatin sakit tenggorokan itu-itu masalah sehari-hari yang kita hadapi," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kuman mikroba antibiotik who
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top