Ilustrasi perempuan yang mengelola bisnis/Freepik
Health

Hormon Estrogen Membuat Pikiran Perempuan Lebih Kuat, Dibanding Pria

Redaksi
Rabu, 15 November 2023 - 21:04
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Ingatan perempuan biasanya lebih kuat dibandingkan dengan ingatan pria. Hal ini berkaitan dengan kondisi hormon yang ada di tubuh manusia.

Hormon estrogen yang berada di tubuh perempuan, membuat perempuan lebih mudah mengingat hal-hal detail, bahkan tanggal-tanggal penting. Seperti dikutip dari medicaldaily.com pada Rabu (15/11/2023), para peneliti dari The North American Menopause Society (NAMS) menemukan bahwa perempuan memiliki kinerja lebih baik dibandingkan pria dengan usia yang sama dalam hal ukuran memori. 

Namun, daya ingat memang menurun saat wanita memasuki masa pasca menopause. Penelitian sebelumnya menunjukkan penurunan ini berhubungan dengan rendahnya kadar estrogen setelah menopause.

Kabut otak dan kehilangan ingatan jangka pendek sering terjadi pada wanita selama menopause dan pascamenopause. 

Kadar estrogen yang rendah berdampak langsung pada neurotransmitter otak dopamin, serotonin, dan GABA. Mereka membantu mengatur suasana hati, fungsi kognitif seperti berpikir dan mengingat, dan memungkinkan kita mengelola stres. 

Namun, ketika kadar estrogen rendah, neurotransmiter ini menjadi tidak seimbang, yang dapat mengakibatkan gangguan mood, ketidakmampuan berpikir jernih, dan masalah memori jangka pendek.

Meski kondisinya tidak menguntungkan, perempuan paruh baya masih bisa mengungguli ingatan pria yang berusia sama dalam semua ukuran daya ingat.

Para peneliti dari NAMS merekrut total 212 pria dan wanita berusia 45 hingga 55 tahun untuk menjalani tes klinis dan kognitif serta penilaian hormonal terhadap status menopause.

Ukuran memori, termasuk memori episodik (mengingat peristiwa otobiografi), fungsi eksekutif (proses kognitif seperti memori kerja), pemrosesan semantik (proses yang terjadi setelah mendengar sebuah kata, dan mengkodekan maknanya), dan perkiraan kecerdasan verbal (kemampuan menganalisis informasi dan memecahkan masalah). 

Memori asosiatif dan memori verbal episodik diukur menggunakan Face-Name Associative Memory Exam (FNAME) dan Selective Reminding Test (SRT), yang dapat mendeteksi penurunan kognitif secara dini. Pengaruh jenis kelamin dan tahap reproduksi terhadap kinerja juga diuji.

Selain membandingkan perbedaan jenis kelamin, para peneliti menemukan wanita pramenopause (sebelum menopause ketika wanita masih memiliki siklus menstruasi teratur) dan perimenopause (transisi menopause ketika wanita menghasilkan lebih sedikit estrogen) mengungguli wanita pascamenopause dalam sejumlah area memori utama. 

Pada wanita pascamenopause, kadar estradiol yang rendah, hormon seks wanita yang diproduksi di ovarium, secara khusus dikaitkan dengan tingkat pembelajaran awal dan mengingat informasi yang diingat sebelumnya lebih rendah, sementara penyimpanan dan konsolidasi memori tidak terpengaruh. Estradiol memiliki dampak signifikan terhadap fungsi reproduksi dan seksual serta organ lain, termasuk tulang.

Studi serupa pada tahun 2015 menemukan bahwa perempuan memiliki kinerja lebih baik daripada laki-laki dalam tugas-tugas yang berhubungan dengan memori karena mereka cenderung memiliki volume otak yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Hippocampus, bagian otak yang mengontrol memori, juga lebih kecil dibandingkan wanita, terutama setelah usia 60 tahun. Hippocampus berada jauh di bawah rata-rata pada pria lanjut usia dibandingkan wanita lanjut usia. 

Para peneliti mengaitkan hal ini dengan efek perlindungan hormon wanita. Estrogen telah terbukti melindungi wanita pramenopause dari hipertensi, pengeroposan tulang, penyakit jantung, dan bahkan infeksi saluran kemih.

Hormon pada wanita memberikan efek neuroprotektif yang bertahan hingga usia paruh baya, dibandingkan pada pria. Para peneliti berharap untuk mengeksplorasi perubahan memori spesifik apa yang dialami oleh wanita di awal usia paruh baya yang terkait dengan penuaan yang sehat, dan defisit memori apa yang bisa menjadi indikator penurunan memori, seperti demensia dan penyakit Alzheimer di kemudian hari. (Ernestina Jesica Toji)

Penulis : Redaksi
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro