Kegiatan pekerja sebuah pabrik rokok kretek di Kabupaten Bantul, Yogyakarta./ JIBI-Desi Suryanto
Health

Penyebab Perokok Anak Makin Banyak, IDAI: Karena Ada Tuyul Nikotin

Mutiara Nabila
Rabu, 6 Desember 2023 - 18:55
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Angka perokok di Indonesia setiap tahunnya terus meningkat, meskipun sudah banyak upaya yang dilakukan berbagai pihak untuk menurunkannya. 

Sebelumnya, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 Kementerian Kesehatan, prevalensi perokok usia 10 hingga 18 tahun dari yang berjumlah 7,2 persen, naik menjadi 9,1 persen pada 2018.

Sementara itu, dalam kurun waktu lima tahun perokok usia anak dan remaja juga meningkat sekitar dua persen lebih. 

Senada, hasil survei dari Global Youth Tobacco pada 2019 menunjukkan bahwa peningkatan prevalensi perokok pada usia sekolah 13 sampai 15 tahun naik dari 18 persen jadi 19 persen.

Pada 2020 The Tobacco Atlas menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga jumlah perokok terbesar di dunia setelah China dan India.

Menanggapi hal tersebut, Anggota Ikatan Doktar Anak Indonesia (IDAI) dr. Darmawan Budi Setyanto, SpA (K) menyebut bahwa angka perokok anak meningkat tajam dalam lima tahun terakhir menunjukkan "keberhasilan" dari industri tembakau dalam rangka menjerat korbannya. 

"Anak-anak adalah calon korban yang sangat menggiurkan bagi industri rokok. Karena andalan industri tembakau adalah "Tuyul" yang tugasnya mecuri uang. Mereka ingin mencuri uang dari masyarakat dengan memasang tuyul namanya nikotin," ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (6/12/2023). 

Dokter Darmawan menyebutkan, sekali nikotin ini disematkan pada korbannya, seumur hidupnya dia akan menjadi penyumbang atau donatur bagi industri tembakau yang intinya bertujuan menghisap uang dari rakyat. 

Pasalnya, sekali korbannya terjerat, akan seumur hidup jadi korban terus, membeli produk rokok terus menerus, bahkan membeli rokok elektronik. Alih-alih mengurangi intensitas merokok justru menjadi pengguna keduanya. 

Sementara itu, anak-anak adalah kelompok yang sangat menggiurkan bagi industri tembakau, dan jadi sasaran utama promosi dan propaganda mereka. Oleh karena itu, banyak perusahaan rokok, terutama rokok elektronik yang melakukan promosi melalui media sosial yang sangat menarik untuk anak-anak. 

"Rokok elektronik disertakan dengan berbagai perisa dan pewarna dan bentuk yang trendi yang sangat menggiurkan untuk anak-anak. Sekali terjerat nikotin, maka seumur hidup dia akan menjadi penyumbang pada industri rokok, mati dengan berbagai cara yang menyengsarakan tadi, jadi itu kenapa anak-anak meningkat karena mereka sasaran utama," paparnya. 

Selain itu, iklan-iklan rokok dan rokok elektronik masih banyak dipasang di daerah dekat sekolah, warung-warung menyediakan rokok ketengan dan anak-anak bisa akses beli di sana. 

"Wajar kalau anak-anak menjadi sasaran utama, walaupun ini diingkari oleh mereka," imbuhnya. 

Peran IDAI

Dokter Darmawan melanjutkan, hal yang dapat dilakukan IDAI adalah edukasi kepada masyarakat dan advokasi kepada pemerintah. 

Jadi, lanjutnya, peran utamanya memang di tangan pemerintah untuk menyetop peningkatan perokok anak, yang jangka panjangnya justru akan melahirkan Generasi Cemas, bukan Generasi Emas. 

"Generasi Emas hanya slogan di mulut kalau tidak dibuktikan dengan kebijakan yang mendukung itu maka itu hanya slogan dan yang dihasilkan adalah Generasi Cemas," ujarnya. 

Kali ini, IDAI mengadvokasi pemerintah yang memiliki kewenangan untuk membuat aturan agar RPP pelaksanaan turunan dari UU Kesehatan Tahun 2023 benar-benar mendukung kepentingan rakyat banyak, bukan kepada yang "berduit". 

"Berpihaklah pemerintah kepada rakyat banyak, bukan uit banyak," tegas Darmawan. 

Menurutnya, industri rokok hanya menggunakan persepsi bahwa mereka merupakan salah satu industri yang menghasilkan uang, pemasukan untuk negara sebagai senjata. 

"Itu pandangan yang memakai kacamata kuda, karena hanya melihat uang yang dihasilkan. tidak melihat korbannya, biaya untuk menganggulangi dampak kerusakan akibat rokok. Saya baca itu ahli ekonomi kesehatan menyebutkan kerugiannya 3-4 kali lipat dari keuntungannya. Tapi karena hanya melihat kaca mata kuda, hanya melihat untungnya dan tidak melihat dampaknya," lanjutnya.

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro