Lupa Riwayat Vaksinasi Bisa Vaksin Ulang, Dosis Berlebih Tidak Masalah/Tokopedia
Health

Lupa Riwayat Vaksinasi Bisa Vaksin Ulang, Dosis Berlebih Tidak Masalah

Mutiara Nabila
Kamis, 16 Mei 2024 - 12:35
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pekan Imunisasi Dunia dirayakan setiap tahunnya pada pekan terakhir April. Masyarakat diimbau untuk mendapatkan vaksinasi yang wajib dan juga yang sesuai dengan kebutuhan. 

Vaksinasi wajib sendiri umumnya diberikan sejak masih bayi. Beberapa vaksin wajib di antaranya adalah vaksin polio, tetanus, hepatitis, campak, dan rubela. 

Namun, catatan tersebut tak jarang hilang dan terlupakan saat sudah dewasa, sehingga banyak orang yang lupa apakah sudah mendapat vaksin lengkap atau belum. 

Oleh karena itu, orang dewasa juga diharapkan bisa melengkapi kebutuhan vaksin wajibnya agar terhindar dari penyakit. 

Ketua Satgas Imunisasi IDAI Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K) mengatakan bahwa apabila catatan hilang dan ingin vaksin kembali, masyarakat tidak perlu khawatir tubuh akan kelebihan dosis vaksin. 

"Kalau dosisnya berlebihan, catatan hilang, terbawa banjir, nggak terbaca, itu kita anggap dia belum diimunisasi. Jadi lebih baik mendapatkan dua dosis atau dosis berlebihan daripada tidak sama sekali," ungkapnya dalam diskusi media di Jakarta, Rabu (15/5/2024). 

Prof. Hartono mengatakan, orang yang tidak memiliki catatan vaksinasi akan dianggap belum melakukan vaksinasi. 

"Kalau kita menganggap dia sudah diimunisasi, maka dia berisiko terinfeksi penyakit, bisa sakit bisa sembuh total bisa sembuh gejala sisa. Jadi kalau ragu, silakan imunisasi lagi, berlebihan tidak masalah, malah antibodinya akan bertambah," jelasnya. 

Masyarakat Indonesia perlu menyadari pentingnya vaksinasi. Pasalnya, Indonesia saat ini merupakan negara terpadat ke-4 di dunia dengan tingkat angka kelahiran mencapai 4.6 juta dan populasi 50 tahun ke atas yang terus meningkat, sekitar 60 juta. Jumlah ini diperkirakan akan bertambah di tahun-tahun mendatang. 

Melihat demografi ini, Indonesia berada pada titik kritis terkait pengelolaan kesehatan masyarakat untuk mengoptimalkan produktivitas penduduknya. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 140.000 orang meninggal akibat campak pada 2018 dengan sebagian besar kematian terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. 

WHO juga memperkirakan 24,1 juta kasus pertusis (batuk rejan) pada anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia pada 2014, sebagian besar kematian (53%)5 terjadi pada bayi di bawah usia satu tahun. 

Dengan meningkatnya kasus penyakit kronis di antara kelompok usia yang lebih muda belakangan ini, juga memberikan tekanan besar pada sistem kesehatan dan sosial ekonomi negara. 

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Mohammad Syahril mengatakan, untuk mengatasi tantangan-tantangan ini diperlukan perubahan paradigma dari yang berbasis pengobatan menjadi pencegahan. 

Salah satu caranya adalah dengan memperluas manfaat vaksinasi untuk melindungi diri terhadap penyakit menular dari masa kanak-kanak hingga usia lanjut.

"Diharapkan, melalui vaksinasi lengkap, generasi muda dan lansia dapat hidup sehat dan aktif, sehingga dapat berkontribusi pada perekonomian dengan memperpanjang produktivitas dan mengurangi beban biaya perawatan kesehatan," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro