Dua Film Telanjangi Sisi Buruk Steve Jobs

Pemilik dan pencipta merek Apple, mendiang Steve Jobs, akan digambarkan sebagai seorang teknokrat berhati monster, yang tidak bernurani dan kejam.
Newswire | 19 September 2015 08:07 WIB
Film Steve Jobs: The Man In The Machine - youtube

Bisnis.com, JAKARTA-- Pemilik dan pencipta merek Apple, mendiang  Steve Jobs, akan digambarkan sebagai seorang teknokrat berhati monster, yang tidak bernurani dan kejam.

SIMAK: SAIL TOMINI 2015: Jokowi Kritik Busana, Tarian, dan Waktu

Gambaran tersebut bakal muncul dalam dua film yang akan diputar di sejumlah bioskop dalam waktu yang berdekatan.

SIMAK: Cristiano Ronaldo Bintangi Film Layar Lebar

Kedua film itu akan mengungkap sisi gelap di balik segala sanjungan dan keberhasilan Jobs membangun kerajaan teknologi hingga menjadi perusahaan Amerika Serikat terbesar di dunia. Munculnya film ini kebetulan bertepatan dengan peringatan empat tahun kematian Jobs.

SIMAK: Jangan Takut Tua Pakai Jas Bergaya Vintage

Jobs meninggal dunia empat tahun lalu pada usia 56 tahun karena sakit kanker. Dia adalah orang yang bertanggung jawab menciptakan iPhone, iPad, dan iPod, serta menjadi sanjungan banyak orang sehingga dikatakan lebih mengutamakan produk mereknya ketimbang keluarganya sendiri.

SIMAK:Istri Lakukan Ini, Fatal Akibatnya untuk Mental Suami

Seperti yang dilansir Daily Mail, Jumat (18/9/2015), dua film tentang kisah hidup Steve Jobs yang bakal terbit itu akan menyajikan perspektif berbeda yang jarang diketahui publik.


Film pertama, arahan Danny Boyle (direktur koreografi pembukaan Olimpiade London 2012), dibintangi Michael Fassbender dan Kate Winslet yang bakal memasuki panggung November nanti.

Dia menagambarkan Jobs sebagai seorang egoistik, tidak berhati nurani, yang menikam sahabatnya sendiri dari belakang untuk mencapai keuntungan.

Tolak Putri

Yang paling buruk, Jobs digambarkan sebagai pria yang enggan mengakui putrinya sebagai anak. Putrinya itu hasil hubungan dengan pacar sekampusnya dulu.

 Meski kasusnya dibawa ke pengadilan dan setelah tes DNA, terbukti Jobs ayah dari anak perempuan itu. Tapi, Jobs hanya memberi nafkah 500  dolar AS sebulan sedangkan perusahaannya bernilai 200 juta dolar AS ketika itu.

Film ini mendapat perhatian dari Steve Wozniak, mitra Jobs pertama di Apple, yang berakhir sebagai korban. Wozniak menyaksikan bagaimana Jobs enggan berbagi nama dengan Wozniak sebagai pencipta dan pendiri Apple.

Wozniak belakangan mengetahui bahwa Jobs telah menjual game komputer hasil ciptaan Wozniak kepada produsen Jepang dengan harga 7.000 dolar AS. Namun, Jobs mengaku kepada Wozniak game itu dijual 700 dolar AS saja.

Gambaran yang lebih brutal bakal muncul dalam film kedua berjudul 'Steve Jobs: The Man In The Machine'.

Film itu berdasarkan wawancara terhadap teman Jobs, termasuk mantan pacar yang ditinggalkannya. Film ini
mengambarkan bagaimana Jobs, sejak awal berdirinya Apple pada era tujuh puluhan, sudah bersikap kejam dan keras kepada teman dan karyawan sendiri.

Hubungan teman yang datang bekerja dengannya di Apple musnah karena mereka dipaksa oleh Jobs bekerja tanpa henti sebagaimana dirinya.

 Film itu nanti akan mengambarkan bagaimana Jobs menjadi seorang yang kebal hukum karena perusahaannya berkontribusi terhadap kemajuan ekonomi Amerika Serikat.

Setiap tindakan hukum ke atasnya akan meruntuhkan kekaisaran yang telah dibangun itu sekaligus meruntuhkan ekonomi Amerika.

Hanya waktu yang akan menentukan sejauh mana gambaran ini akan diterima dengan terbuka oleh para pengikut setia Jobs, yang memandangnya sebagai orang suci yang mengubah gaya hidup manusia di abad ini.

Sumber : Tempo

Tag : steve jobs
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top