Doa & Cinta Tenun Maumere dalam Tas Mewah

Salah satu kekayaan Indonesia yang dibawa brand ini adalah kain tenun Maumere, Nusa Tenggara Timur. Tak hanya kain biasa, kain tenun Maumere juga sarat makna yang mendalam akan kehidupan.Tenun ini dipercaya memiliki filosofi hidup bagi masyarakat setempat.
Asteria Desi Kartika Sari | 20 April 2018 15:12 WIB
/warnatasku

Sebagai salah satu item fashion, utamanya bagi perempuan, tak lengkap apabila berberpergian tanpa menjinjing tas. Tak sekadar jadi tempat barang, tas adalah penunjang penampilan yang perlu diperhitungkan.

Permainan aksen dengan nuansa etnik bisa jadi pertimbangan Anda memilih tas untuk tampil lebih gaya. Itulah yang dihadirkan Warnatasku, salah satu merek tas kulit premium.

Mengusung motif etnik melalui kombinasi kain tenun, Warnatasku ingin memberikan sentuhan yang berbeda dengan memberikan napas budaya Nusantara.

Salah satu kekayaan Indonesia yang dibawa brand ini adalah kain tenun Maumere, Nusa Tenggara Timur. Tak hanya kain biasa, kain tenun Maumere juga sarat makna yang mendalam akan kehidupan.Tenun ini dipercaya memiliki filosofi hidup bagi masyarakat setempat.

Desainer Warnatasku Ervina Ahmad menuturkan, tenun Maumere memiliki arti falsafah hidup dan bermakna magis. Apalagi, sambungnya, tenun Maumere dibuat berdasarkan doa, cinta, dan harapan.

Di setiap corak atau motif yang dibuat oleh pengrajin, beberapa motif di antaranya menggambarkan nilai-nilai keluarga.

Guna menghasilkan karya yang sempurna, pihaknya mengaku terjun secara langsung untuk melihat proses pembuatan tenun di empat desa di Maumere. 

Butuh proses yang panjang untuk menghasilkan kain tenun, mulai dari memilih bahan-bahan di alam, memintal benang, membuat pola pewarnaan, serta pencelupan hingga 30 kali. Alhasil, kain tenun memiliki nilai historis, mahal, dan sepatutnya diapresiasi.

“Membuat dari warna alam tidak mudah, pewarnaannya bisa menggunakan mengkudu, kunyit, dan kapur sirih,” jelasnya.

Ervina mencontohkan untuk menghasilkan warna jingga dapat dilakukan melalui pencampuran bahan kunyit dan kapur sirih, atau menggunakan daun nila, yang kemudian direndam dan dikeringkan.

Sementara itu, CEO Warnatasku Yudha Pratomo mengatakan bahwa Warnatasku akan terus menghargai kain tradisional Indonesia dan budaya Indonesia dengan melibatkan para pengrajin kain tenun.

“Corak dan motif Maumere ini menarik, tak seperti kebanyakan tas kulit biasa. Kami terus menggiatkan promosi bahwa kerajinan lokal atau produk lokal itu masih bisa bersaing baik di luar negeri ataupun di dalam negeri,” katanya.

Dari segi kualitas, dia percaya bahwa produknya tidak kalah dengan brand ternama luar negeri. Pasalnya, Yudha mengklaim beberapa pekerja yang mengolah Warnatasku telah memiliki pengalaman mengejakan produk jenama luar negeri.

Adapaun untuk model tas, Yudha mengatakan pihaknya memberikan beberapa desain seperti handbag, cluch, sling bag, serta tote bag untuk memberikan pilihan kepada pelanggan. Untuk menyasar anak muda, sejak 2014 pihaknya mencoba untuk mengkombinasikan kain tenun dengan bahan kanvas.

“Itu kami coba lempar ke pasar remaja, dan responnya cukup baik. Kalau dikombinasikan dengan kulit secara finansial mungkin hanya sedikit remaja yang bisa dengan range harga itu, tapi kami tidak menutup kemungkinan juga,” jelasnya.

Untuk memperluas pasar Indonesia Warnatasku akan ditampilkan dalam ajang Muslim Fashion Festival (MUFEST) pada 19-22 April 2018 di Jakarta Convention Center (JCC).  

Warnatasku juga telah sukses dengan mengekspor produknya ke Saudi Arabia, Singapura, Hongkong dan Papua Nugini. 

“Kami akan terus melihat pangsa pasar, melihat potensi ke depan seperti apa. Harusnya pemerintah lebih support produk dari Indonesia,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mode

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top