Rabies Pemicu Kematian Tertinggi, Waspadai Penularannya pada Manusia

Pada peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2018, rabies sebagai penyakit zoonosis masih menjadi penyakit dengan angka kematian tertinggi.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 05 November 2018 15:29 WIB
Vaksinasi, sterilisasi, dan kontrol populasi hewan pembawa rabies yang dilakukan Pemkot Denpasar bersama Yayasan Bali Animal Welfare Association, Rabu (23/5/2018).-JIBI - Ema Sukarelawanto

Bisnis.com, JAKARTA - Pada peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2018, rabies sebagai penyakit zoonosis masih menjadi penyakit dengan angka kematian tertinggi.

Drh. C. Koesharjono mengatakan rabies sampai hari ini menjadi satu wabah yang paling mematikan. Dia menyebutkan bahwa rabies menyerang semua hewan berdarah panas.

"Jadi rabies ini tidak terbatas hanya untuk anjing," kata Koesharjono kepada Bisnis di Jakarta Selatan, Senin (5/11/2018).

Dia menyebut penyebaran rabies masih melalui jilatan, luka terbuka, dan gigitan. Ada pun proses inkubasi sampai masa tunas dan lama sakit sangat berbeda dari satu kasus ke kasus lain.

"Rabies ini virus yang ada di air liur hewan. Air liur bervirus itu bisa ada dalam masa satu minggu, bahkan satu bulan," terang Koes.

Dokter hewan alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan pertama ini menjelaskan virus rabies memiliki tujuan atau end-pointnya adalah otak.

"Virus ini masuk dari luka gigitan. Tapi lewat syaraf. Jadi lama inkubasi berbeda tergantung dari letak gigitan. Gigitan di lengan bisa lebih cepat sampai ke otak dibandingkan gigitan di kaki," sambung Koes.

Pria berusia 80 tahun ini menilai rabies yang telah berhasil menyerang otak akan menyebabkan penderita mengalami phobia, gatal di bekas gigitan, demam, dan perubahan sikap yang menjadi agresif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dokter hewan

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top