CIRI Centennial Adakan Pelatihan Motorik bagi Penderita Down Syndrome

Bisnis.com, JAKARTA – Setiap anak Indonesia, termasuk penderita down syndrome memiliki kesempatan yang sama untuk bermain, berkreasi, dan berkarya.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 23 Juni 2019  |  13:50 WIB
CIRI Centennial Adakan Pelatihan Motorik bagi Penderita Down Syndrome
Acara pelatihan motorik bagi anak-anak penderita down syndrome. - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Setiap anak Indonesia, termasuk  penderita down syndrome memiliki kesempatan yang sama untuk bermain, berkreasi, dan berkarya.

Ketua Umum Yayasan Citra Kartini Indonesia (CIRI) Ayu Rosan di sela acara pelatihan  motorik  bagi anak-anak penderita down syndrome,  yang diselenggarakan CIRI Centennial di Rumah Ceria Down Syndrome, Pejaten Barat, Jakarta, Sabtu (22/6).

“Kami mengajarkan kepada anak-anak down syndrome  cara membuat ikat celup yang ramah lingkungan. Ini adalah proyek pertama CIRI Centennial dan hasil dari pelatihan ini  akan ditindaklanjuti untuk program selanjutnya,” jelas Ayu.

Ayu mengatakan, pada pelatihan yang berlangsung selama satu hari itu, anak-anak  down syndrome  mendapat dukungan dari  anggota CIRI Centennial  tentang cara pembuatan ikat celup ramah lingkungan. “Nantinya ikat celup yang dihasilkan dapat dijadikan syal dan aksesoris lainnya,” kata Ayu.

Ketua CIRI Centennial Raisya Roeslani mengaku, bangga dapat bermain sambil berbagi pengetahuan dengan teman-temannya, penderita down syndrome yang bernaung di bawah Yayasan  Wimar Asih. 

“Teman-teman penderita down syndrome juga mempunyai hak sama seperti kita untuk  bermain,  berbagi pengalaman, dan berkreasi. Saya sangat bersyukur dapat membuat ikat celup menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan. Melalui pelatihan ini, teman-teman dapat melatih motorik mereka,” kata Raisya. 

Menurut Raisya, CIRI Centennial sejak didirikan tahun lalu, melakukan  aktivitas  sosial dan pelestarian lingkungan. 

CIRI Centennial melakukan penanaman sebanyak 500 pohon di sejumlah daerah pada 2018. 

“Pewarna yang kami gunakan berasal dari pohon-pohon yang ditanam. Saat ini, kami melakukan kegiatan sosial sambil belajar secara akademis. Masih banyak hal lainnya yang kami akan lakukan. Ini adalah  PR yang harus diselesaikan,” katanya.  

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
penyakit

Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top