Ini Faktor Risiko Kanker Payudara yang Bisa dan Tak Bisa Diubah

Mencegah kanker adalah cara terbaik untuk menghindarinya. Namun, seringkali orang yang sudah berupaya mencegah pun masih bisa terkena kanker, termasuk kanker payudara. Karena itu, langkah berikutnya untuk bisa selamat dari penyakit ini adalah deteksi dini.
M. Taufikul Basari
M. Taufikul Basari - Bisnis.com 09 Oktober 2019  |  11:06 WIB
Ini Faktor Risiko Kanker Payudara yang Bisa dan Tak Bisa Diubah
Ilustrasi kanker payudara - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Oktober menjadi bulan kesadaran kanker payudara, jenis kanker yang paling banyak diderita kaum hawa di Indonesia. Berdasarkan data Global Burden Cancer (Globocan) ada 58.258 (16,7 persen) kasus kanker payudara baru pada 2018, mengalahkan kanker serviks (9,3 persen), kanker paru-paru (8,6 persen), dan kanker usus besar (8,6 persen).

Penyakit kanker selama ini menjadi momok yang menakutkan lantaran angka penderitanya yang semakin banyak, proses penyembuhannya yang masih sulit dan dengan biaya yang amat mahal terutama pada penderita stadium tinggi. Kanker juga menjadi penyakit pembunuh nomor dua setelah jantung.

Mencegah kanker adalah cara terbaik untuk menghindarinya. Namun, seringkali orang yang sudah berupaya mencegah pun masih bisa terkena kanker, termasuk kanker payudara. Karena itu, langkah berikutnya untuk bisa selamat dari penyakit ini adalah deteksi dini.

Menurut dokter onkologi Aru Wisaksono Sudoyo salah satu langkah awal untuk mencegah kanker payudara (Carcinoma mammae) adalah mengenali faktor-faktor risiko. Ada dua tipe faktor risiko, yakni yang tidak bisa diubah dan yang bisa diubah.

Faktor yang tidak bisa diubah

  1. Gender atau jenis kalamin. Kanker payudara terkait dengan aktivitas hormon estrogen sehingga dapat terjadi pada wanita dan jarang pada pria. Namun, sekalinya terjadi pada pria, maka kanker itu menjadi lebih ganas dan lebih sulit ditangani.
  2. Proses menua. Kanker payudara umumnya diderita kalangan tua sejalan dengan proses kerusahan sel dan genetik. Kanker juga butuh waktu bertahun-tahun untuk jadi ganas.
  3. Risiko genetik. Pembawa gen BRCA1 dan BRCA2 memiliki risiko 60 persen – 80 persen untuk terkena penyakit kanker payudara. Namun, secara umum, kanker payudara yang disebabkan faktor genetik ini kecil angkanya, 5-10 persen. Namun, sulit bagi pembawa gen ini untuk menghindari kanker payudara. Cara cukup ekstrim adalah dengan mengangkat payudara sebelum terkena kanker seperti yang dilakukan artis Angelina Jolie.
  4. Riwayat keluarga kanker payudara yang dalam kasusnya hanya sekitar 15 persen saja.
  5. Kepadatan payudara. Dokter Aru mengatakan bahwa semakin padat payudara maka tingkat risikonya semakin tinggi.
  6. Keberapa keadaan payudara tertentu.
  7. Faktor menses atau datang bulan. Lebih muda seorang wanita mendapatkan mens pertamanya, maka ia lebih berisiko dibandingkan mereka yang mendapatkan datang bulannya lebih lambat.

Faktor yang bisa diubah:

  1. Melahirkan diketahui memiliki pengaruh pada penyakit kanker. Perempuan yang melahirkan pertamanya di usia muda, belasan tahun, lebih berisko. Demikian juga perempuan yang melahirkan anak pertamanya di usia di atas 35 tahun juga lebih berisiko. Melahirkan berkaitan dengan menyusui, yang bisa mengurangi risiko terkena kanker payudara. Perempuan yang melakukan aktivitas menyusui membuat sel-sel payudara bekerja sesuai fungsinya dan mencegah adanya mutasi gen.
  2. Hormon terapi sesudah manupouse bisa meningkatkan risiko terkena kanker di payudara.
  3. Kegemukan yang berhubungan dengan kadar insulin dan pertumbuhan sel kanker.
  4. Konsumsi alkohol.
  5. Merokok ternyata bukan hanya penyebab kanker paru, karena banyaknya bahan karsinogen saat pembakaran tembakau.
  6. Aktivitas fisik juga bisa berpengaruh terhadap aktivitas sel kanker. Mereka yang aktivitas fisiknya kurang lebih berisiko. “Gerakan fisik membantu menghambat berbagai jenis kanker,” kata dokter Aru, Selasa (8/10).

Setidaknya ada dua cara untuk melakukan dini kanker payudara yang bisa dilakukan. Pertama, periksa payudara sendiri atau ‘Sadari’. Caranya adalah dengan memeriksa benjolan pada payudara. Pemeriksaaan secara rutin akan membuat deteksi dini bermanfaat mengantisipasi pengobatannya kelak.

Menurut dokter Aru, setiap kanker perlu waktu lama untuk menjadi ganas, sehingga semakin dini diketahui maka semakin mudah diobati. Karena itu, istilah stadium berhubungan dengan angka harapan hidup penderita kanker.

“Kanker perlu waktu. Kanker payudara butuh 6-10 tahun untuk jadi,” katanya di acara Media Workshop Patient Journey in Oncology Total Solution yang diselenggarakan PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI).

Waktu terbaik untuk memeriksa payudara adalah beberapa hari setelah siklus menstruasi selesai.

Kedua adalah pemeriksaan mammografi. Pemeriksaan ini bisa untuk mengetahui gejala kanker payudara pada tahap awal. Caranya adalah dengan teknik pemindaian gambar menggunakan sinar rontgen dosis rendah untuk mendeteksi dan mendiagnosis kanker.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kanker payudara

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top