Masalah Disfungsi Seksual yang Jadi Momok bagi Wanita

Vaginismus dan disfungsi seksual perempuan seringkali diabaikan dan masih banyak perempuan Indonesia yang enggan berkomunikasi dengan pasangan atau mencari pertolongan medis.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 30 November 2019  |  11:29 WIB
Masalah Disfungsi Seksual yang Jadi Momok bagi Wanita
Wanita punya rahasia - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Hasil penelitian di Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM) Jakarta tahun lalu menemukan bahwa 90 persen dari 300 perempuan yang disurvei pernah mengalami disfungsi seksual. Namun, hanya 6 persen dari para perempuan tersebut yang merasa terganggu akibat disfungsi seksual yang dialaminya.

Meski hingga saat ini belum ada angka prevalensi yang pasti mengenai disfungsi seksual di Indonesia, tetapi hasil penelitian di atas dapat menjadi gambaran bahwa kelainan ini belum dianggap sebagai masalah yang mampu menurunkan kualitas hidup perempuan dan pasangannya.

Adapun jenis disfungsi seksual yang paling menjadi momok bagi kebanyakan perempuan adalah vagisnismus, kontraksi otot di sekitar vagina yang berlebihan yang mengakibatkan gangguan nyeri saat hubungan seksual.

Meski demikian, vaginismus seringkali diabaikan dan masih banyak perempuan Indonesia yang enggan berkomunikasi dengan pasangan atau mencari pertolongan medis. Padahal, dengan kemajuan teknologi saat ini, vagisnismus bisa diatasi dan disembuhkan. Dibutuhkan tim dokter untuk mengatasi vaginismus, terutama kolaborasi antara dokter spesialis obstetri dan ginekologi dan kedokteran jiwa atau psikiater.

Yassin Yanuar, CEO Bamed Healthcare Group, mengatakan banyak faktor yang terlibat dalam vaginismus dan disfungsi seksual secara luas. Penyebab penyakit ini juga bersifat multifaktorial, sehingga diperlukan kejelian para dokter menanganinya.

"Kami mengimbau perempuan Indonesia yang megalami vaginismus dan disfungsi seksual untuk berkonsultasi kepada dokter yang tepat," uajrnya.

Ni Komang Yeni,  dokter spesialis obstetri dan ginekologi pada Bamed Women's Clinic menjelaskan, vaginismus dikategorikan sebagai kontraksi otot di sekitar vagina yang tidak disadari dan tidak dapat dikendalikan. Gejalanya terjadi berulang-ulang di sepertiga daerah bagian luar vagina, yaitu perinium sampai otot levator ani, dan otot pubococcygeus.

"Kontaksi otot yang berlebihan menyebabkan neyri, sulit atau bahkan tidak dapat melakukan penetrasi saat hubungan seksual," ujarnya.

Dia melanjutkan, hal itu terjadi karena melibatkan otot pubococcygeus yang berperan dalam proses buang air besar, buang air kecil, berhubungan seksual, orgasme dan proses melahirkan. Dalam kondisi semacam ini, penetrasi akan terasa seperti menabrak dinding dan menimbulkan rasa nyeri pada kedua pasangan.

Lebih lanjut, penyebab vaginismus dibagi menjadi dua, yakni organik dan anorganik atau psikologis. Secara fisik, vaginismus dsebabkan adanya infeksi di daerah genital atau trauma pada saat melahirkan, atau trauma lainnya.

Sedangkan secara psikologis, bisa disebabkan adanya trauma psikologis sebelumnya yang berkaitan dengan kekerasan seksual, adanya rasa kurang percaya diri, atau telah tidak berhubungan seksual dalam jangka waktu yang panjang.

Faktor psikologis merupakan salah satu yang harus diperhatiakn penderita vagisnismus. Perempuan dengan penyakit ini akan sulit melakukan penetrasi dengan siapa pun atau dengan apa pun.

"Merasa nyaman adalah kunci dari keberhasilan berhubungan seksual bagi seorang perempuan normal," katanya.

Mengenai prosedur terapi penyebumbuhan vaginismus, Yeni menjelaskan, kolaborasi tim dokter jelas dibutuhkan untuk melakukan tindakan yang terarah. Kombinasi terapi edukasi yakni melibatkan dilator vagina dan pelvic physical therapy untuk meningkatkan keberhasilan.

Selain itu, tersedia pula pilihan terapi botox. Meski masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini, terapi botox sering digunakan pada pasien dengan dyspareunia atau nyeri saat berhubungan badan dan vaginismus. Juga untuk melemahkan otot panggul agar tidak berkontraksi secara berlebihan.

Disfungsi Seksual Secara Umum

Vaginismus hanyalah satu diantara beberapa jenis disfungsi seksual pada perempuan. Grace Valentine, spesialis obgin di Bamed Women's Clinic menjelaskan secara umum, disfungsi seksual merupakan ketidakmampuan menikmati hubungan badan secara penuh. Gangguan ini merupakan masalah yang terjadi selama fase siklus respons seksual yang menghambat individu atau pasangan untuk mengalami kepuasan dalam kegiatan seksual.

Ada empat kelompok besar disfungsi seksual, yaitu gangguan libido atau hasrat seksual, gangguan orgasme, gangguan rangsangan seksual, dan nyeri saat berhubungan seksual. Baik perempuan maupun lelaki dapat mengalami disfungsi seksual. Penelitian di berbagai negara menunjukkan disfungsi seksual merupakan hal yang umum, diperkirakan diderita oleh 43 persen perempuan dan 31 persen pria.

"Seorang perempuan bisa mengalami satu atau beberapa jenis disfungsi seksual sekaligus dalam waktu bersamaan. Gangguan ini dapat terjadi sejak wanita muai aktif secara seksual," katanya.

Ada lima faktor yang menjadi penyebab disfungsi seksual, antara lain:

Pertama, kondisi fisik seperti gaggaun pada organ genitalia, bekas operasi, akibat penyakit tertentu, atau efek samping obat-obatan tertentu.

Kedua, faktor psikologis yang disebabkan stres dan kecemasan.

Ketiga, faktor hormonal yang dialami saat hamil, setelah melahirkan dan selama menyusui.

Keempat, perubahan gaya hidup seperti pola makan buruk, jarang berolahraga, merokok, minum alkohol dan lain-lain. Kelima, kualitas hubungan dengan pasangan yang menurun akibat konflik tertentu.

Grace menegaskan yang harus digarisbawahi oleh penderita disfungsi seksual adalah keberanian berbicara dengan pasangan mengenai hal ini. Selanjutnya, konsultasikan dengan dokter yang memahami disfungsi seksual. Selama ada kesadaran akan hal itu, baik disfungsi seksual maupun vagisnismus memiliki peluang untuk disembuhkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, perempuan, stres, cemas

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top