Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengamat Ekonomi Sebut Indonesia Mau Diterkam Industri Vape

Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Universitas Iindonesia, Abdillah Ahsan menekan dua pemain besar dalam industri rokok elektronik atau vape di Indonesia adalah perusahaan global seperti Altria Group dan Phillip Morris International.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 16 Januari 2020  |  09:47 WIB
Pekerja menata botol berisi cairan rokok elektrik (vape) di Jakarta, Senin (1/10/2018). - ANTARA/Dhemas Reviyanto
Pekerja menata botol berisi cairan rokok elektrik (vape) di Jakarta, Senin (1/10/2018). - ANTARA/Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA – Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Universitas Indonesia (UI) Abdillah Ahsan menekan dua pemain besar dalam industri rokok elektronik atau vape di Indonesia adalah perusahaan global seperti Altria Group dan Phillip Morris International.

Seperti yang diketahui, Phillip Morris International hadir dengan merk dagang IQOS dan Altria Group memasuki pasar Indonesia dengan brand Juul yang merupakan pionir untuk produk vape yang kini mendunia.

“Bisnis rokok elektrik Juul di Amerika, penjualannya meroket. Kemudian FDA, BPOM-nya Ameika, mencermati Juul dengan ketat sehingga tidak ada kios Juul di Amerika, tapi ada kios Juul di Indonesia,” ujar Abdillah di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan pada Rabu (15/1/2020).

Disebutkan Abdillah, setelah diawasi di Amerika, usaha ekspansi Juul menyoroti tiga negara Asia dengan angka perokok yang tinggi yakni Korea Selatan, Indonesia dan Filipina.

“Apalagi di Indonesia, 60 persen laki-laki merokok, mereka sudah biasa dengan budaya merokok. Sehingga, produk Juul lebih bisa diterima di Indonesia,” ujar Abdillah.

Perusahaan rokok dalam negeri hingga saat ini belum memiliki produk rokok elektrik, sehingga, lanjutnya, yang perlu diwaspadai adalah perkembangan dari dua pemain besar itu sendiri.

“Perwakilan Juul di Singapura menyebutkan sebelum mereka masuk ke suatu negara, mereka akan mengamatinya dengan sangat baik. Bahkan terlihat bahwa mereka menyiapkan lanskap karena banyaknya perokok di Asia sebagai prioritas utama,” tuturnya.

“Mereka datang dengan campaign Juul lebih aman itu by design untuk ekspansi pasar. Orang yang income tinggi, tentu ingin produk yang lebih aman itu yang disasar,” lanjutnya.

Apapun yang ditawarkan oleh penjual rokok elektrik, menurutnya, harus diamati dan dikritisi. Karena untuk masalah kesehatan, masyarakat diharapkan lebih percaya kepada dokter dibandingkan dengan penjual.  

“Jadi sepertinya kita memang mau diterkam oleh pemain global (industri vape) ini. Sehingga kami menyarankan kepada pemerintah untuk segera membuat larangan peredaran rokok elektrik. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rokok elektrik Industri Vape
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top